Yamaha Lexi

Bahasa Kesatuan atau Bahasa Kekinian?

  Sabtu, 27 Oktober 2018   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi Bahasa Indonesia

Oktober, bulan yang ramai dengan hari-hari besar dan bersejarah di Indonesia. Diawali dengan Hari Kesaktian Pancasila, Hari Batik, Hari Guru, Hari Santri, hingga Hari Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1942 menjadi titik berdirinya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pemersatu bangsa.

Para pemuda Indonesia berikrar dengan bahasa kesatuannya, bahasa Indonesia. Itulah mengapa hingga saat ini, bulan Oktober juga dikenal dengan bulan bahasa nasional.

Berbicara mengenai bahasa, bahasa Indonesia masih ditetapkan sebagai bahasa yang menyatukan kita semua sebagai bahasa kesatuan. Namun, jika melihat bagaimana remaja sekarang berbahasa, mereka cenderung tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa yang biasa disebut dengan bahasa gaul. Bahasa gaul adalah ragam bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah dan kebakuan berbahasa dalam Kamus Besar Berbahasa Indonesia.

Bahasa gaul--yang juga biasa disebut dengan bahasa kekinian--dalam penggunaannya terlihat cukup mengkhawatirkan. Bahasa gaul tersebut banyak yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa asing.

Mengapa mengkhawatirkan? Tentu saja, banyak remaja yang justru menjadi asing dengan bahasa sendiri, tepatnya bahasa bakunya.

Fungsi utama dari bahasa Indonesia adalah sebagai identitas dari suatu bangsa. Lalu, apa gunanya jika bangsa sendiri tidak mengenali identitasnya sendiri?

Mereka dengan leluasa mengutak-atik bahasa Indonesia dan mencampur adukkannya dengan bahasa asing.

Mereka menganggap bahasa-bahasa baru yang mereka buat menarik dan “unik” dan menganggap menggunakan bahasa baku dalam sehari-hari adalah kuno.

Hal tersebut tentu bisa berdampak buruk terhadap identitas negara kita. Apalagi penggunaan bahasa-bahasa seperti itu tidak hanya dilakukan oleh remaja, tapi juga oleh anak-anak.

Seperti yang kita ketahui, anak-anak juga remaja merupakan agen perubahan bangsa ini atau agent of change. Sebutan untuk para agen perubahan bangsa pun lebih familiar dalam bahasa Inggris. Ternyata, selain pergaulan yang mengharuskan remaja untuk “menciptakan” dan menggunakan bahasa gaul, lingkungan juga sudah mulai mengikutinya.

Anak-anak dan remaja tentu saja tidak asing dengan bahasa Indonesia. Semua dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat dan dengar di lingkungannya. Dapat dikatakan kalau salah satu alasan mereka asing dengan bahasa mereka sendiri adalah bagaimana publik mempergunakan bahasa tersebut.

Contoh kecilnya, penggunaan sebutan untuk anak-anak tadi. Agent of change lebih familiar terdengar daripada sebutan agen perubahan. Dari contoh kecil itu saja sudah terlihat bagaimana budaya asing, dalam konteks ini ialah bahasanya, sudah mempengaruhi bahasa kita, bahasa Indonesia.

Begitu banyak budaya asing yang telah masuk ke Indonesia. Mulai dari film, buku, gaya berpakaian, gaya hidup, hingga bahasa. Masuknya bahasa asing tentu saja memperluas wawasan dan jangkauan budaya kita sendiri, namun setiap orang memang harus meneliti dan memilah-milih lagi budaya mana yang baik dan tidak untuk ditiru.

Bahasa adalah salah satu bentuk dari banyaknya budaya asing yang telah masuk ke Indonesia. Hal ini pun mempengarui cara berbahasa dan tidak jarang juga cara berbicara orang Indonesia.

Sayangnya, bahasa asing yang masuk justru membawa dampak yang kurang baik kepada bahasa kita sendiri. Contohnya yang ditampilkan di stasiun-stasiun televisi di Indonesia. Banyak stasiun televisi yang menamakan dirinya menggunakan bahasa dan struktur bahasa asing.

Mereka cenderung “terbalik” saat menamakan stasiun televisi mereka. Kata televisi seharusnya berada di depan, tapi jika melihat stasiun televisi di Indonesia, kata televisi justru ada di belakang setelah nama stasiun masing-masing.

Hal ini tentu saja bentuk dari pengaruh bahasa asing yang masuk. Dan tentu saja hal ini berdampak pada remaja yang banyak mengonsumsi produk-produk yang ada di televisi.

Dengan segala percampuran budaya dan bahasa yang telah masuk di Indonesia, ditayangkan di televisi dan dikonsumsi oleh masyarakat, tidak heran para remaja bisa dengan ajaibnya menciptakan bahasa-bahasa gaul alias kekinian tersebut.

Mahir dalam bahasa asing memang akan sangat berguna di masa depan, terutama dalam prospek bekerja nantinya. Namun, bukan berarti kita bisa menyepelekan dan merasa tidak perlu mempelajari lagi bahasa kita sendiri.

Ada baiknya kita mempelajari dan mengenal dahulu bahasa kita sendiri sebelum mempelajari dan mendalami bahasa-bahasa asing. Apalagi bahasa Indonesia adalah identitas dari negara kita, apa gunanya identitas jika warga negaranya sendiri tidak mengenalnya?

Oleh karena itu, kita sebagai bangsa Indonesia harus sadar dan melek akan krisis berbahasa yang sedang terjadi di negara kita. Terutama di bulan yang biasa diperingati dan dikenal sebagai bulan bahasa ini. Kita harus ikut andil dalam membangkitkan kesadaran warga dalam berbahasa. Mari kita wujudkan kembali salah satu isi dari Sumpah Pemuda yaitu, “Berbahasa yang satu, bahasa Indonesia!”  

Novira Astriditha

Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar