Yamaha Mio S

Jempol Jenthik, Orkes Keroncong Asal Bandung

  Jumat, 26 Oktober 2018   Adi Ginanjar Maulana
Revolusi Musik Bambu II: Keroncong dalam Kreativitas Tak Berbatas, di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, 4 Maret 2015. (Dok JJOK)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM–Jempol Jenthik, nama yang unik bukan? Dua kata yang berarti ibu jari dan kelingking, kini dijadikan nama sebuah orkes Keroncong. 

Lengkapnya, Jempol Jenthik Orkes Keroncong  (JJOK). Group ini didirikan 2004, atas prakarsa sekelompok pencinta musik keroncong di Bandung.

Penggunaan kata jempol jenthik bukanlah tanpa makna. Adi Bangun Wiratmo, Ketua Umum JJOK, mengatakan,  jempol yang secara fisik dalam jemari tangan merupakan yang terbesar, dirangkaikan dengan jenthik, jari yang paling kecil. 

"Filosofinya untuk bisa mencapai sesuatu yang besar atau bermakna dapat dimulai dengan melakukan hal-hal yang kecil dan sederhana, dengan bermain musik misalnya,” kata Adi kepada Ayobandung.com, Jumat (26/10/2018). 

JJOK terbentuk tanpa sengaja. Awalnya, Adi dan rekannya Bambang sedang menikmati teh pada suatu sore. Aroma teh yang harum semakin terasa nikmat ketika terdengar alunan musik keroncong. 

“Tidak jelas siapa yang memulai, secara spontan dan tanpa diberi aba-aba kita sepakat untuk membentuk sebuah grup musik keroncong. Akhirnya, alat-alat keroncong dibeli dan didatangkan langsung dari Solo, pusatnya keroncong,” tutur Adi.

Alat musik yang digunakan di dalam orkes keroncong standarnya ada tujuh yaitu  flute, biola, gitar, cak, cuk, cello, dan bas. Mungkin masih ada yang bingung dengan istilah cak dan cuk. 

Cak itu semacam ukulele dengan senar kawat. Lalu cuk adalah ukulele dengan senar nilon. Bas yang digunakan untuk menunjukan kualitas keroncong asli biasa digunakan bas betot. 

AYO BACA : Yuk, Bersenang-senang di Festival Kuliner dan Keroncong PvJ

“Musik keroncong asli lebih nyaman di dengar jika akuistik semua,” kata Adi.

Alat-alat musik dibeli sedikit demi sedikit atas sumbangan suka-rela para pendiri dan pendukung. Demikian juga dengan para pelatih dan pemainnya yang datang-pergi silih berganti. 

Melalui pertunjukan di berbagai acara, dari mulai hiburan untuk selamatan keluarga, perayaan lembaga, partisipasi dalam festival, dan konser di gedung pertunjukan.

Kini, orkes asal Bandung ini digawangi,  Adi B. Wiratmo (Ketua Umum),Widarto dan Tjahjono Satoto (Penasihat), Bagus SG (komposer dan pemain flute), Dyan Ardi Wilogo (cuk), Gunadi Setya Raharjo (cak), Christian Jati Anggoro (gitar), Agus Subagyo (bass), Dedi Suryadi (celo), Yosua Kristi, Dina Kurniawati dan Larasetya N.P (Penyanyi), Cahyo Kristianto (Admin Medsos).

Tentunya mendengarkan alunan musik keroncong akan membuat batin merasa tentram. Irama musik keroncong yang unik dan terkesan minimalis seakan membius siapa saja yang mendengarkannya. Hal itu nampak pada JJOK saat tampil di berbagai acara. Semua penikmat musik keroncong menikmati alunan musik yang dilantunkannya.

Adi mengatakan, selain pertunjukan, JJOK juga menerbitkan majalah (Buletin Komunitas Keroncong Tjroeng), serta mengadakan seminar dan workshop untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap musik keroncong.

Pada 2014 lalu, JJOK bertemu dengan LPSN (Lembaga Pendidikan Seni Nusantara) yang melakukan eksperimentasi pembuatan instrumen keroncong dari bambu dengan bentuk dan ukuran standar. 

Kesamaan misi JJOK yang bertujuan mengembangkan idiom musik khas Indonesia dan LPSN pada eksplorasi terhadap bahan bambu yang merupakan kekayaan alamiah Indonesia, menumbuhkan kerja sama produktif. (Wulan Apriani)

AYO BACA : The Sound of Keroncong 2017 Hidupkan Geliat Musik Keroncong

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar