Yamaha Mio S

AYO PEMUDA: Membangun Budaya Literasi Ala Rumah Diskusi

  Jumat, 26 Oktober 2018   Rizma Riyandi
Seorang mahasiswa sedang membaca buku di lapak buku komunitas Rumah Diskusi, Kamis (25/10/2018). (Siti Rahayu)

CIBIRU, AYOBANDUNG.COM--Berdasarkan studi World Most Literate Countries mengenai tingkat literasi yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CSSU), John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016. Maka tak heran bermunculan komunitas-komunitas sebagai wadah dan tanggapan untuk membangun budaya literasi, salah satunya komunitas Rumah Diskusi atau RD.

Awalnya, komunitas ini enggan menyematkan nama pada komunitas mereka. Menurut Kepala Suku--sebutan ketua komunitas Rumah Diskusi-- Ridwan Admaja Sastra, hal tersebut karena adanya kekhawatiran terjebak dalam simbol-simbol tertentu.

“Nama Rumah Diskusi sendiri bukan dari kita (yang tergabung dalam komunitas ini), tapi dari luar dan kami tidak tahu pasti siapa yang menyematkan nama tersebut untuk pertama kali,” Ujar Ridwan saat diwawancarai Ayobandung.com, Kamis (25/10/2018).

Komunitas yang dibentuk tahun 2015 ini bertujuan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengadakan berbagai macam kajian literasi. Ridwan menceritakan, ketika awal pembentukan RD, semua kajian dilakukan oleh internal komunitas RD, baik kajian materi tertentu maupun bedah buku.

“Kami belum bersentuhan dengan orang-orang luar dulu, karena kami ingin membentuk karakter para anggota RD terlebih dahulu,” ungkap Ridwan.

Seiring berjalannya waktu, Rumah Diskusi mulai melakukan kajian dengan melibatkan orang-orang di luar komunitas RD dan bergabung dengan komunitas penggerak literasi lainnya.

Ada empat fokus kajian yang dilakukan komunitas ini, antara lain filsafat, sastra, sejarah, dan keislaman yang terbuka untuk umum. Selain itu, komunitas RD juga membuka stan buku kecil-kecilan dan membuat karya tulis berupa buletin bernama Loper Koran.

Ridwan pun mengajak untuk berkampanye membaca buku, karena menurutnya ada salah pengertian tentang membaca. “Orang menganggap baca itu hobi, itu salah pengertian. Padahal membaca itu merupakan kewajiban,” ujarnya.

Komunitas ini juga memiliki inovasi baru sehingga tak hanya berfokus pada kampanye membaca dan melakukan kajian. RD mulai melakukan pelatihan menulis baik bagi yang tergabung dalam komunitas maupun tidak. Meskipun baru dilakukan sebanyak dua pertemuan, Ridwan mengatakan kelas menulis ini akan berjalan secara kontinyu.

Ridwan mengatakan, adanya kolerasi yang sangat erat antara kegiatan membaca dan menulis.

“Saya sendiri merasa menulis itu sulit, menulis memerlukan kosakata yang banyak dan kosakata yang banyak itu didapat dari membaca buku. Ketika membaca atau kegiatan literasinya lemah, kita mau nulis apa?” katanya.

Meskipun kegiatan menulis tersebut masih dibilang tersendat-sendat, Ridwan berpendapat salah satu tujuan dari kelas menulis ialah untuk mengajak orang mau membaca. Ketika seseorang akan menulis dan berpikir bahwa kosakatanya masih kurang, di sinilah akan timbul keinginan untuk membaca dan memperkaya kosakata.

Ridwan berharap ada komunitas-komunitas lain seperti Rumah Diskusi guna meningkatkan minat baca dan membangun budaya literasi masyarakat.

“RD berharap orang-orang sadar akan tugasnya sebagai manusia, mahasiswa, maupun masyarakat dan mereka juga sadar bahwa membaca dan berkarya itu penting,” pungkasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar