Yamaha Aerox

Satu Kaki Wartawan di Lubang Kubur: Kasus Khashoggi

  Kamis, 25 Oktober 2018   
Khashoggi.(Matt McClain/The Washington Post)

Pemeo "satu kaki wartawan di lubang kubur" terbukti benar. Setidaknya terhadap Jamal Khashoggi. Kontributor The Washington Post itu tewas di dalam komplek Konsulat Saudi Arabia di Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018. 

Presiden Turki Reccep Tayip Erdogan di depan parlemen pada 23 Oktober lalu mengungkapkan, Arab Saudi merencanakan pembunuhan tersebut.

Erdogan tidak menyebut Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammad Bin Salman terlibat dalam aksi yang mendapat kecaman dari berbagai negara.

Intimidasi yang kebablasan

Ada 18 orang Saudi yang terlibat secara langsung maupun tidak dalam pembunuhan. Pihak berwenang Turki mendeteksi 15 orang di antaranya datang secara bertahap ke Istanbul dari Riyadh sehari dan bertepatan harinya dengan kedatangan Khashoggi untuk mengurus surat-surat pernikahan.

Satu versi menyebutkan, mereka mengintimidasi supaya Khashoggi kembali ke negaranya, namun ditolak. Terjadi perdebatan sengit sampai akhirnya, Saud al-Qahtani, penasihat bidang media putra mahkota, melalui Skype memerintahkan penindakan tegas.

Bila membayangkan yang biasa terjadi di film-film spionase, ada kemungkinan selama tujuh menit terakhir Khashoggi mengalami tindak kekerasan. Akhirnya tindakan tersebut kebablasan, dia dicekik sampai kehabisan napas.

Badan Nasional Intelijen Turki  (Millî İstihbarat Teşkilatı, MİT) dengan perangkat komunikasi yang canggih hampir 99,99 persen mengetahui drama pembunuhan itu. Sudah tentu semuanya dilaporkan ke Presiden Erdogan, tetapi  Presiden di Parlemen hanya mengutarakan garis besar dan menuntut  ke-18 orang diadili di Istanbul. 

Tampaknya Erdogan berupaya memisahkan antara kasus Khashoggi dengan hubungan Turki-Arab Saudi. Kedua negara punya kepentingan lebih besar yang saling terkait, mulai dari aspek ekonomi, perdagangan, sampai kepada menangani aksi-aksi terorisme/separatis, masalah Siria, Yaman, dan Iran.

Amerika Serikat pun bersikap keras terbatas. Donald Trump tak ingin kehilangan dukungan dari industri militer yang mendapat kontrak US$110 miliar dari Arab Saudi. Tambahan lagi jika Washington bersikap keras, maka sekitar 350 ribu buruh terlibat langsung dalam industri alutsista akan terpengaruh. Belum lagi mereka yang tidak terlibat langsung baik manusianya maupun industri pendukung. Jadi pertumbuhan ekonomi akan melambat dan bertambah berat jika Ryadh mengurangi pasok minyak mentah.

Spanyol setali tiga uang dengan dalih bakal terjadi pengangguran jika ada pembatalan kontrak senjata. Sejauh ini Jerman yang membatalkan pengiriman peralatan militer. Inggris dan Uni Eropa hanya menyesalkan pembunuhan tersebut sebagai cara untuk memuaskan kalangan media domestik.

Kesan tak ingin terganggu kasus Khashoggi juga terlihat pada konvensi yang disebut Davos in the Desert di Hotel Ritz Carlton, Ryadh pada 23 Oktober 2018.  Ratusan CEO perusahaan-perusahaan terkemuka, juga Raja Yordania Abdullah II Bin Hussein menghadiri seminar bertema Future Investment Initiative 2018.  Mereka melakukan standing ovation ketika Putra Mahkota memasuki ruangan.

Sejumh CEO perusahaan terkemuka seperti Jamie Dimon dari JPMorgan Chase, CEO Blackstone Stephen Schwarzman, dan pendiri Steve Case sebagai tanda protes menarik diri dari acara tersebut. Tetapi peserta lainnya bersikap realistis dengan menyatakan pembunuhan Khashoggi menyulitkan tetapi hubungan Arab Saudi-Amerika Serikat terlalu bernilai untuk dirusak oleh kasus tersebut.

Seorang eksekutif AS menyatakan Arab Saudi tengah menerapkan sikap lebih terbuka dan transparansi, tetapi sekarang tengah mengalami guncangan. kasus Khashoggi "mengguncangkan" namun ia pada akhirnya hanya "cegukan" dalam dunia bisnis.

Indonesia pun mengharapkan transparansi dalam penyelidikan. Sekalipun kemudian muncul pertanyaan tentang kelanjutan penyelidikan kasus pegawai KPK Novel Baswedan dan Fuad Muhammad Syafruddin (32) wartawan Surat Kabar Harian Bernas yang terbit di Yogyakarta yang tewas belasan tahun lalu setelah dianiaya oleh orang tak dikenal di sekitar  rumahnya.

Berbagai Artikel

Jamal Ahmad Khashoggi dalam artikelnya di Washington Post berulangkali mengkritisi  Putra Mahkota Muhammad bin Salman. Artikel-artikelnya antara lain , Saudi Arabia’s crown prince wants to ‘crush extremists.’ But he’s punishing the wrong people, Washington Post tanggal 31 Oktober 2017.

Saudi Arabia’s crown prince is acting like Putin (5 November 2017) ,Saudi Arabia is creating a total mess in Lebanon (13 November 2017).

Nasi sudah menjadi bubur. Meski begitu, dalam strategi komunikasi ada pandangan pembalasan kritik tidak harus dengan kekerasan fisik. Seandainya Arab Saudi mengabaikan kritik Khashoggi, maka hal tersebut tidak menganggu ketertarikan kalangan pebisnis terhadap kebijaksanaan reformasi Putra Mahkota Pangeran  Muhammad Bin Salman.  

Di Indonesia berlaku praktik hak jawab bila keberatan dengan kritik. Bisa pula mengadukannya ke Dewan Pers, yang pasti akan menindaklanjuti dengan mempertemukan kedua pihak.

Indonesia dan negara lain memang beda. Mau apalagi!

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar