Yamaha Mio S

AYO PEMUDA: Belajar Menjaga Kekompakan ala Diecaster Baraya Community

  Rabu, 24 Oktober 2018   Nur Khansa Ranawati
Kegiatan kopdar dan 'balap santai' Diecaster Bandung Community, Sabtu (20/10/18). (ayobandung.com/Nur Khansa)

AYO BACA : AYO PEMUDA: Komunitas Pecandu Buku Galakan Baca lewat Sosial Media

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Mainan diecast alias miniatur mobil dengan beragam skala tidak hanya digemari anak-anak. Nyatanya, Diecast memiliki khalayak tersendiri di kalangan orang dewasa. Bermacam merk diecast seperti HotWheels, Tomica atau Majorette kerap jadi incaran. Seperti yang terlihat pada Sabtu (20/10/2018) lalu di sebuah tempat parkir toko di bilangan Dago Bawah.

Malam itu, sekumpulan orang tampak berkerumun di sebuah meja yang digelar bersebelahan dengan sebuah mobil dengan bagasi terbuka. Di dalamnya terdapat sejumlah mobil diecast berbagai merk. Pun halnya yang digelar di atas meja tersebut.

Orang-orang yang hadir mayoritas pria dewasa, sebagian membawa istri dan anaknya. Di bagian kiri area parkir tersebut telah diramaikan oleh trek balap berwarna oranye.

Semuanya merupakan anggota dari Diecaster Baraya Community, sebuah komunitas pecinta diecast berbasis di Kota Bandung yang berdiri sejak 2017 lalu.

"Kami baru terbentuk sebagai komunitas 2017 lalu, sebelumnya sejak 2010 masih tergabung di komunitas lain, sering nongkrong dari rumah ke rumah," ungkap Ketua Diecaster Baraya Community, Adi Sumantri,ketika ditemui Ayobandung.com di bilangan Dago, Sabtu (20/10/18).

Pria yang akrab disapa Mang Adot ini mengaku telah menggemari diecast sejak 2008. Kala itu, ia masih memandang hobi ini sebagai sesuatu yang cukup menguras uang.

"Dulu nganggepnya ini hobi yang banyak mengeluarkan uang dan minim feedback-nya. Tapi lama-lama ketemu cara bagaimana membuat hobi ini tidak terlalu memberatkan," ungkapnya.

Ia dan rekan-rekannya kemudian bergabung membentuk komunitas ini, salah satunya dengan membuat fanpage di Facebook dan grup WhatsApp.

Hingga saat ini, anggotanya sudah ratusan.

"Di Bandung sudah ada 500-an yang gabung di FB, di WhatsApp ada sekitar 300-an. Tapi yang aktif kumpul sih ada 70-an, termasuk dari luar kota seperti Sukabumi, Garut, dan Sumedang," jelasnya.

Mereka kemudian rutin membuat jadwal kopi darat sebulan dua kali.

Tak sekadar kumpul-kumpul, dalam kopdar tersebut juga diadakan acara balapan santai, hingga "gelar lapak" berbagai mobil diecast.

"Balapannya juga santai. Biasanya kita ngadain balap di salah satu daerah di Cikadut, khusus untuk masyarakat di sana, untuk anak-anak. Kebanyakan balapan di sini kan sudah resmi dan profesional," ungkapnya.

Tak hanya itu, Baraya Diecaster Community juga kerap melakukan pelelangan diecast untuk bakti sosial bagi pihak yang membutuhkan.

"Biasanya diumumin di Facebook, lewat lelang diecast. Nanti hasil pengumpulannya dikasih ke yang membutuhkan," jelasnya.

Kegiatan lelang diecast tersebut, selain untuk bakti sosial, rupanya juga banyak diminati para anggota karena bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Salah satu anggota, Apriyanto, tidak menyangka koleksinya bisa ditawar dengan harga yang tinggi.

"Ada yang menebak harga ketika lelang dengan jumlah yang lumayan, padahal saya tidak tahu apa-apa. Diecast bukan sekadar mainan, bisa jadi investasi dan koleksi," jelasnya.

Hal tersebut jugalah yang bisa dimanfaatkan sebagai siasat bagi anggota yang tidak ingin keluar terlalu banyak uang dalam mengumpulkan koleksi.

Tetap kompak meski lintas profesi

Hal yang unik dari komunitas ini, di samping diecast yang dikoleksi adalah, para anggotanya yang beragam mulai dari guru, mahasiswa, anak SMA, pegawai swasta, dosen, dan lain-lain.

"Komunitas ini unik karena ada berbagai profesi yang tergabung. Kita berbeda profesi, tetapi menjadi sama ketika masuk ke komunitas," ungkap Apriyanto.

Mengelola komunitas dengan anggota yang jamak tersebut tentu bukan perkara mudah. Kesibukan masing-masing anggota menjadi isu yang tak terbantahkan ketika komunitas ini hendak menggelar kopi darat.

Meski demikian, hal tersebut tak lantas mengurangi kekompakan mereka.

Kuncinya adalah dengan membuat setiap anggota baru nyaman ketika bergabung.

"Ketika membuat suatu perkumpulan, tipsnya ya harus komunikatif. Kalau ada orang baru, harus disambut. Kadang-kadang kalau di komunitas, anggota lama suka minta dihargai. Nah, di sini terbalik," jelasnya.

Ia menilai hal tersebut sangat penting untuk membuat orang lain nyaman.

"Orang baru ketika masuk komunitas manapun pasti awalnya 'clingak-clinguk'. Kalau ada anggota baru, ayo sapa. Itu kebiasaan kami dari dulu," jelasnya.

Melatih kepekaan

Mang Adot mengatakan, salah satu keuntungan yang ia rasakan selama bergabung dengan Diecast Baraya Bandung salah satunya adalah bertambahnya kepedulian terhadap sesama, khusunya para anggota.

"Selain silaturahmi, sering bertukar informasi terutama tentang hobi, kami juga jadi bisa lebih peka terhadap sesama," jelasnya.

Hal tersebut terwujud dalam kegiatan saling bantu yang dilakukan ketiga ada anggota yang sedang membutuhkan.

"Beberapa kali kami saling bantu, misalnya ketika ada yang membutuhkan,sakit, sampai kecelakaan. Jadinya lebih peka," jelasnya.

AYO BACA : AYO PEMUDA: Seni untuk Advokasi ala Komunitas Mural Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar