Yamaha Lexi

AYO PEMUDA: Seni untuk Advokasi ala Komunitas Mural Bandung

  Selasa, 23 Oktober 2018   Nur Khansa Ranawati
Kegiatan komunitas Mural bandung (Dok. Agus Wahyudi)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Mural di ruang publik kerap diidentikkan dengan hal ilegal dan berbau vandalisme. Namun, lain halnya dengan yang dikerjakan Komunitas Mural Bandung.

Berdiri sejak 2016, komunitas ini tak sekadar menggunakan mural sebagai ekspresi seni belaka. Lebih jauh dari itu, mural bagi para anggotanya bisa digunakan sebagai sarana advokasi kepentingan publik.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Walikota alias Wakil Ketua Komunitas Mural Bandung Deden Mohamad saat ditemui Ayobandung.com di area Masjid Salman ITB, Minggu (21/10/2018).

"Komunitas ini didirikan oleh Ikatan Alumni ITB Jawa Barat, awalnya terinspirasi dari beberapa tempat di Kota Bandung yang terancam digusur karena dianggap tidak estetik menurut pemilik modal, seperti di Kampung Sekepicung, di daerah Dago Atas," ungkapnya.

Dari sanalah komunitas tersebut meniatkan diri untuk menghadirkan seni mural sebagai bentuk advokasi dengan membuat kampung-kampung bernasib sama tampil lebih menarik.

"Bentuknya kami hadir sebagai komunitas yang mau membuat sebuah kampung menjadi lebih memiliki nilai estetika sehingga tidak perlu digusur," jelasnya.

Salah satu kampung yang berhasil "dipermak" adalah Kampung Cibunut, yang tidak jauh dari jalan Sunda. Seluruh rumah dari sembilan Rukun Tetangga yang terdapat di sana disulap menjadi rumah warna-warni nan unik.

"Di sana dibuat tematik, 9 RT yang ada dicat dimural dengan tema berbeda-beda. Kampung ini juga akhirnya jadi salah satu destinasi wisata di Kota Bandung. Pengunjung yang datang ke sana juga akan diberi guide," ungkapnya.

Di samping itu, karya Komunitas Mural Bandung yang paling mudah ditemui saat ini adalah jajaran mural di sepanjang tembok Siliwangi, jalan Siliwangi.

Sebelumnya, tembok tersebut hanya dimural oleh para mahasiswa seni rupa ITB. Pada 2016 lalu, mural yang mulai pudar diperbaiki dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat, meliputi Tasik, Cianjur, dan sebagainya.

"Waktu itu momennya juga sekaligus memperingati HUT Bandung dan menyambut PON Jabar. Kami berfungsi sebagai wadah aja yang menaungi kelompok-kelompok mural dan street art lainnya dari berbagai daerah," ungkap Deden.

Hingga saat ini, anggota yang tecatat pernah melalukan proyek bersama--dengan komunitas yang pada awalnya dinamai Bandung Berwarna 2016--ini sudah mencapai lebih dari 500-an orang.

Pantang mural sembarangan

Komunitas yang diketuai vokalis band The Panas Dalam Alga Indria ini memiliki aturan tersendiri yang pantang dilanggar, meski tidak resmi tertulis.

AYO BACA : AYO PEMUDA: Milangkala ke-2 Hayu Maca, Tumbuhkan Literasi Anak Lewat Dongeng

Komunitas ini senantiasa meminta izin dan berkoordinasi terlebih dahulu ketika hendak menghias ruang publik.

AYO BACA : AYO PEMUDA: Komunitas Pecandu Buku Galakan Baca lewat Sosial Media

"Kami mah selalu legal dan ofisial jadi tidak kucing-kucingan dengan petugas. Selalu melakukan koordinasi sebelumnya," jelas pria yang juga aktif berkegiatan di dunia perfilman ini.

Selain itu, komunitas ini juga mematuhi aturan untuk tidak menggambar bangunan-bangunan publik yang memiliki kriteria tertentu.

"Bangunan yang berupa heritage itu tidak boleh. Soko-soko penyangga jembatan layang juga tidak boleh (dicoret-coret) karena ada regulasi yang terkait dengan safety bangunan. Kami dilarang banget nge-mural itu karena zat yang dikandung dalam cat bisa bikin rusak bangunan. Itu kan berisiko tinggi," ungkapnya.

Dirinya menyarankan agar anak muda yang teertarik terjun ke dunia mural untuk rajin berkumpul bersama komunitas agar mendapat kesempatan berbagi pengalaman.

"Banyak bertemu teman-teman saja, kalau belum bisa, ikut belajar bareng dulu," sarannya.

Ia juga mengajak anak muda untuk ikut lomba-lomba mural yang kerap diadakan di daerah masing-masing.

"Ada banyak kesempatan buat melepaskan dahaga rohani berkesenian di sana. Selain itu juga untuk bertemu dengan teman-teman lain karena sehari-hari akan susah untuk bertemu," jelasnya.

AYO BACA : AYO PEMUDA: Pesan Semangat Bermusik dari MTM Community

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar