Yamaha Lexi

Misteri Memetik Teh pada Malam Bulan Purnama

  Selasa, 23 Oktober 2018   
Ilustrasi perkebunan teh di kawasan Gunung Burangrang.(Irfan)

Kebiasaan aneh di satu bagian perkebunan di Darjeeling ini sudah berlangsung puluhan tahun.  Mulanya hanya sekadar memetik teh, tetapi kemudian menjadi atraksi wisata yang menarik turis. Selain diselimuti udara dingin, terasa juga aroma mistik.

Memetik teh sebelum matahari terbit itu sudah biasa, tetapi di Darjeeling, negara bagian Benggala, India para buruh yang umumnya perempuan memetik ketika malam bulan purnama penuh. Hasilnya luar biasa,  daun teh yang mendapat julukan Silver Teas Imperial itu dihargai lebih dari US$1.850  atau sekitar Rp27.750.000 per kg.

Pekerjaan dimulai selewat tengah malam sampai pukul tiga pagi. Para pekerja dari Makaibari  yang sudah terlatih merayap di punggung bukit yang curam. Jari jemarinya cepat memetik pucuk dan dua helai daun di bawahnya. Pucuk demi pucuk, daun demi daun dimasukkan ke keranjang. Kemudian segera dikemas agar wangi dan aromanya menyatu.

Selain dibantu cahaya bulan, sejumlah lelaki membawa obor. Lelaki yang lain berdoa, lalu bernyanyi seraya memukul rebana dan menari. Tujuannya antara lain, menakut-nakuti binatang liar, termasuk harimau, menghilangkan kantuk.

Gaya tarik bulan dipercaya membuat daun atau pucuk teh lebih wangi dan aromanya lebih kuat. Keyakinan ini membuat orang-orang kaya termasuk kalangan bangsawan Inggris gemar menyeruput Silver Teas Imperial ini.

Pemetikan teh berlangsung empat-lima kali dalam setahun antara bulan Juni hingga Oktober. Tetapi ada juga yang dipetik hanya pada bulan Juni saja hingga tergolong pucuk teh  langka dengan harga yang lebih mahal.   

Pemetikan teh di punggung pegunungan Himalaya pada ketinggian 2.200 meter itu menarik perhatian. Para wisatawan datang ke kawasan perkebunan Darjeeling yang artinya menarik nafas. Kawasan yang dikelilingi pegunungan dan  biara-biara Buddha di perbukitan. Dari lokasi, para wisatawan juga sesekali mendengar auman macan dan teriakan gajah.

Teh Termahal

Sekalipun sudah dipetik dengan susah payah, tetapi teh Oolong dari Darjeeling itu bukan yang termahal. Rekor justru dipegang teh Da-Hong Pao yang harganya US$1.400 atau Rp21.000.000 per gram.

Da Hong Pao yang berarti Jubah Merah Besar merupakan teh gunung Wuyi yang tumbuh di pegunungan Wuyi. Teh ini sangat teroksidasi, sejenis teh Oolong  berwarna gelap.

Berikutnya adalah  teh Panda Dung. Tanaman ini tumbuh pada lahan yang disuburkan oleh sisa-sisa bambu yang  dikunyah Panda tapi tidak dimakan. Alhasil, tehnya beraroma bambu. Harganya Rp2.520.061 per teko.

Da Honh Pao, campuran separuh teh hijau-separuh teh hitam, disebutkan kaya akan rasa dan harum bunga-bungaan. Jejak bunga itu masih dapat dirasakan di mulut  beberapa menit setelah minum.  Di Royal China Club , London, teh ini dapat dinikmati dengan harga Rp3.497.400 satu teko. 

Sejenis teh hijau dari Jepang  yang dijuluki Gyokuro, berasal dari daun yang tidak terkena sinar matahari saat dipetik. Harganya Rp515.918 per seratus gram.

Yang juga mahal teh Tieguanyin, sejenis daun teh Oolong  yang aromanya sangat kuat dan dapat diseduh sampai tujuh kali. Harganya Rp37,7 juta lebih per kg. Harganya mahal sebab daun-daun teh itu diremas-remas sebelum dimasukkan ke dalam kantong kain, cara ini menimbulkan suara ketika dimasukkan ke dalam cangkir.  

Teh menjadi lebih mahal terkadang juga disebabkan sesuatu yang mengikutinya. Teh Da Hong Pao dihiasi legenda yang menyebutkan  ibu seorang kaisar dinasti Ming sembuh setelah meminum sejenis teh.  Maka sebagai wujud rasa senang, kaisar mengirimkan jubah merah besar  untuk menghargai empat rumpun teh yang menjadi asal teh yang tumbuh di bebatuan pegunungan Wuyi itu.

Pucuk teh yang dipetik tengah malam itu berwarna putih, yang di Indonesia juga tidak asing lagi. Hanya saja ia memiliki keunggulan dalam waktu pemetikan. Jadi pada kemasannya tidak hanya tertulis dipetik dari tanaman teh berkualitas tinggi, pada ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut tapi juga dipetik tengah malam.  

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar