Yamaha Aerox

AYO PEMUDA: Komunitas Pecandu Buku Galakan Baca lewat Media Sosial

  Selasa, 23 Oktober 2018   Nur Khansa Ranawati
Komunitas Pecandu Buku ( web dan IG PB)

CIBEUNYING KALER, AYOBANDUNG.COM--Keluhan soal minat baca generasi muda Indonesia yang rendah di era teknologi informasi saat ini bukanlah hal baru. Gawai kerap dijadikan kambing hitam sebagai biang kemalasan membaca.

Padahal, mengawinkan dua hal tersebut bukanlah hal yang mustahil. Malahan, gawai bisa menjadi sumber awal seseorang tertarik lebih dalam untuk membaca lebih banyak buku.

Hal tersebutlah yang sejak tiga tahun lalu dilakukan oleh komunitas Pecandu Buku (PB).

Komunitas yang digagas oleh penulis dan musisi Fiersa Besari dan wirausahawati Aulia Agnesti ini berupaya menghadirkan beragam bacaan dalam gawai, lebih tepatnya lewat media sosial Instagram.

Melalui akun @pecandu_buku, berbagai jenis buku dari berbagai penerbit dengan beragam genre diulas di dalam kolom keterangan foto. Pengulasnya adalah para anggota maupun nonanggota PB yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

"Kita viralnya memang di media sosial, terutama ke Instagram yang lebih mudah dibaca untuk semua golongan, misalnya selebgram, seniman, dan sebagainya. Biar lebih gampang menjangkau anak muda," ungkap salah satu pegiat PB Bandung, Thesa Nurmanarina, ketika ditemui Ayobandung.com di bilangan Supratman, Jumat (19/10/18).

Buku pertama yang diulas adalah Madilog karya Tan Malaka. Setelah itu, ulasan buku-buku lain bermunculan mulai dari filsafat, fiksi, psikologi populer, dan banyak lagi.

"Kami nyebutnya ulasan, review buku. Kami rutin bikin ulasan buku di IG, oleh anggota dan nonanggota," jelasnya.

Saat ini, para anggota PB sudah tersebar di sejumlah kota-kota besar, meliputi Bandung, Jakarta, Makassar, Jogja, Surabaya, dan Semarang.

Tak hanya mengulas buku, PB juga kerap mengadakan kegiatan lain seperti menulis buku secara kolektif lewat tulisan-tulisan para anggota yang dikurasi, kemudian diterbitkan.

"Kalau di skala nasional sih ada acara rutin, bikin Surat untuk Februari, konsepnya bikin lomba surat, dan kemarin dibukukan 50 tulisan yang terpilih," ungkapnya.

Berbeda daerah, beda pula kegiatan-kegiatan yang dibuat. Di Kota Bandung sendiri, PB rutin mengadakan kegiatan pembagian buku gratis ke beberapa tempat.

Sebelumnya, PB Bandung memiliki perpustakaan yang juga berfungsi sebagai kantor administratif. Sayang, saat ini perpustakaan tersebut harus berhenti beroperasi.

AYO BACA : AYO PEMUDA: Milangkala ke-2 Hayu Maca, Tumbuhkan Literasi Anak Lewat Dongeng

"Karena kami rasa Bandung belum sesuportif itu pada kegiatan membaca buku. Jadi, kami sumbangkan saja buku-bukunya tiap bulan daripada mendekam di ruangan", kenangnya.

Di samping itu, ada pula kegiatan kopi darat berupa tadarusan buku hingga membahas novel, meski tidak pernah diagendakan menjadi acara rutin.

Upaya keren-kerenan

Sebagai seorang yang juga berprofesi sebagai guru SMA, Thesa memiliki pandangan tersendiri terhadap minat baca anak-anak muda, khususnya di Kota Bandung.

"Menurut aku pribadi, justru ada peningkatan minat baca di Bandung saat ini, karena ada banyak banget penerbit independen bermunculan. Kalau sudah ada penerbit indie, berarti ada pasarnya. Itu jadi alternatif yang keren, sih,"ungkapnya.

Ia pun tidak menampik bahwa ada kecenderungan remaja Kota Bandung saat ini yang membawa buku ke sekolah sebagai sarana menjadi keren.

"Sekarang salah satu cara untuk mengkerenkan diri adalah dengan membaca buku. Mereka jadi punya indikator keren baru selain basket dan cheerleader. Ya minimal mereka pegang bacaan dulu," ungkapnya.

Ia menganggap hal ini setidaknya menjadi sebuah perkembangan dibanding saat dirinya bersekolah dahulu, yang kerap dianggap sok pintar karena senang membaca buku.

"Sekarang seenggaknya mereka senang dianggap sok pintar," ujarnya seraya tertawa.

Ia berharap, membaca bisa menjadi suatu kebutuhan masyarakat, bukan sekadar hobi.

"Membaca adalah bukti betapa hebatnya kita membentuk imajinasi tentang ruang dan waktu. Itu spirit PB selama tiga tahun ini. Semua orang aku pikir perlu untuk merasakan (perasaan) orang lain, salah satunya lewat novel. Jangan jadikan baca itu sekedar hobi, tapi kebutuhan," ungkapnya.

Ia menyarankan, bila ingin mulai membaca, mulailah dari topik yang disenangi.

"Bentuknya enggak harus buku tebal, minimal mau membaca artikel sampai selesai di media sosial juga sudah lumayan. Kalau suka bola, ya baca tentang bola. Tapi kayaknya sih enggak ada manusia yang enggak suka manusia. Novel menurutku bisa dicoba. Pelan-pelan saja," jelasnya.

AYO BACA : AYO PEMUDA: Pesan Semangat Bermusik dari MTM Community

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar