Yamaha Aerox

Belajar Menggali Potensi Bencana Patahan Lembang Sambil Bermain

  Senin, 22 Oktober 2018   
Peserta Jantera UPI berfoto bersama saat mengikuti kegiatan di Gunung Batu Lembang pekan lalu.(M. Abdul Azis)

Gempa yang terjadi di Lombok dan Palu menjadi perhatian khusus masyarakat Indonesia. Setelah terjadi di dua wilayah tersebut, masyarakat memerhatikan potensi gempa di Indonesia.

Wilayah Indonesia berada pada zona pertemuan lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Dampaknya, wilayah Indonesia memiliki potensi kegempaan kuat dikenal sebagai zona cincin api atau lebih akrab disebut ring of fire.

Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi merupakan pulau yang memiliki potensi kegempaan kuat. Perhatian lebih menyorot pada Jawa karena kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya merupakan pusat perekonomian Indonesia.

Ibu Kota Provinsi Jawa Barat Bandung memiliki potensi kegempaan yang kuat di antara kota-kota besar di Jawa. Sumber kegempaan yang hingga kini masih aktif dikenal sebagai Patahan Lembang menimbulkan ketakutan bagi masyarakat Jawa Barat.

Hingga hari ini, gempa belum dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadi begitu diwaspadai, termasuk oleh civitas akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Kampus UPI berjarak kurang lebih 8 kilometer dengan Patahan Lembang. Kewaspadaan civitas akademik UPI perlu ditangani dengan pemahaman mitigasi bencana yang baik. Ketika gempa itu terjadi di lingkungan kampus UPI, jumlah korban dan kerugian dapat diminimalisasi.

Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Geografi Jantera sebagai organisasi mahasiswa yang berorientasi pada bidang kepecintaalaman dan keilmuan geografi mengadakan kegiatan yang bertajuk "One Day Trip Jantera 2018" untuk membantu civitas akademik UPI mengenali potensi kegempaan.

Kegiatan yang diadakan pada Sabtu (20/10/2018) di Gunung Batu Lembang dengan tema Menggali Potensi Bencana Patahan Lembang disambut antusias oleh 39 orang peserta, bahkan peserta yang hadir tidak hanya meliputi mahasiswa UPI, namun juga beberapa kampus lain, pelajar, dan masyarakat umum.

Kegiatan dimulai pukul 06.30 WIB ketika lingkungan kampus UPI masih terasa dingin. Peserta berkumpul di lapangan parkir Islamic Tutorial Center (ITC) Al-Furqan UPI.

Sambil menunggu angkot Lembang-Stasiun Hall Bandung yang sudah disewa oleh panitia, peserta dipresensi dan diharuskan melunasi biaya kegiatan sebesar Rp30.000.

Setelah angkot datang, peserta langsung diarahkan masuk ke dalam mobil. Perjalanan UPI sampai Gunung Batu Lembang ditempuh sekitar 20 menit, dengan kondisi jalan yang belum terlalu padat karena biasanya di akhir pekan jalan Setiabudhi hingga Lembang begitu padat.

Udara di sekitar Gunung Batu Lembang masih begitu sejuk ketika peserta datang. Tanah di sekitar Gunung Batu Lembang begitu kering dan berdebu, mungkin karena hujan yang belum mengguyur tanah di sini.

AYO BACA : Ini Penjelasan Ahli soal Potensi Gempa Sesar Lembang

Setibanya di Gunung Batu Lembang, panitia mengajak peserta untuk menaiki Gunung Batu Lembang tepat didasar tebing.

Setibanya, peserta langsung mengeluarkan ponsel dan kamera digital untuk melakukan swafoto dengan latar belakang pemandangan Lembang dari Gunung Batu Lembang. Peserta kemudian berjalan ke puncak Gunung Batu Lembang.

Kegiatan ini menghadirkan Hendro Martianto sebagai pemateri. “Patahan Lembang ini membentang dari timur ke barat dan berakhir di wilayah Padalarang. Masih aktif dan memiliki potensi kebencanaan yang kuat. Bahkan dampak yang ditimbulkan bisa lebih parah dari bencana yang terjadi di Palu dan Donggala,” paparnya.

Aktifnya Patahan Lembang ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Geologi, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyatakan Patahan Lembang masih terus bergerak antara 1 cm hingga 9 cm setiap tahunnya.

Pemateri yang juga dosen Departemen Pendidikan Geografi menjelaskan gempa bukan bencana yang menyebabkan kematian.

"Banyaknya korban itu akibat mereka tidak bisa menyelamatkan diri dari dampak gempa seperti rumah roboh, kebakaran, kecelakaan lalu lintas, dan tertimbun longsor," ucapnya.

Pengetahuan mengenai mitigasi bencana menjadi kunci untuk meminimalisasi banyaknya jumlah korban.

“Jangan panik ketika gempa terjadi, lakukan langkah-langkah yang baik untuk menyelamatkan diri seperti bersembunyi di bawah meja yang kuat ketika posisi di dalam ruangan dan menuju tempat yang terbuka dan menjauhi bangunan yang kemungkinan roboh ketika posisi di luar ruangan," katanya.

Tidak hanya Hendro Martianto, Jantera pun menghadirkan Setio Galih Marlyono sebagai alumni Jantera yang telah menyelesaikan program magister di Sekolah Pascasarjana UPI. Setio membicarakan pengalamannya dahulu ketika masih aktif berorganisasi.

“Jantera itu selalu diandalkan ketika praktikum lapangan. Khususnya untuk dijadikan tim survey lapangan, karena Jantera itu mau untuk diajak peperiheun (menderita) seperti tidur cuma pakai flysheet (atap tenda). Tidak manja,” ungkapnya.

Sesi yang disebut sharing session ini diadakan untuk menarik minat mahasiswa Pendidikan Geografi 2018, Sains dan Informasi Geografi 2018, dan Survey Pemetaan dan Informasi Geografis 2018.

Pada tahun ini, Jantera akan menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar Jantera 38. Dengan begitu, diharapkan dari kegiatan ini dapat meningkatkan minat mahasiswa untuk bergabung pada Jantera.

AYO BACA : Potensi Gempa dari Ular Panjang Bernama Sesar Lembang

Masyarakat Bandung diharapkan mengetahui potensi kegempaan Patahan Lembang dan pengetahuan mitigasi bencana harus ditekankan oleh dinas terkait agar ketika gempa terjadi jumlah korban dan kerugian dapat diminimalisasi.

Kegiatan yang dilakukan oleh Jantera diapresiasi positif oleh peserta karena diyakini dari kegiatan ini dapat menjadi solusi alternatif mitigasi bencana gempa Patahan Lembang.

Lokasi kegiatan ini dikenal sebagai tempat yang cocok bagi pegiat alam Bandung Raya untuk menyalurkan olahraga panjat tebing.

Gunung Batu yang merupakan bagian dari Patahan Lembang ini tersusun atas batuan andesit. Selain berfokus pada pematerian potensi kegempaan, kegiatan ini juga diisi dengan kegiatan panjat tebing dan pelatihan fotografi anggota Jantera.

Peserta begitu antusias untuk mengikuti kegiatan panjat tebing, terlihat dari semangat mereka walau matahari begitu terik siang itu.

Namun, rasa penasaran dan ingin menaklukkan tantangan lebih besar dalam diri mereka, satu per satu peserta mencoba jalur pemanjatan yang diberi nama Si Kidang.

Banyak yang berhasil dan ada pula yang gagal, hal ini melengkapi kegiatan One Day Trip karena kegiatan ini mengusung jargon “Bermain Belajar bersama Jantera". Dengan begitu, tidak hanya pengetahuan baru yang diperoleh peserta tapi keseruan bermain pun menjadi bumbu penyedap cerita peserta.

Ketakutan dan kecemasan yang sebelumnya hinggap perlahan pudar karena pengenalan yang baik terhadap sumber bencana.

Upaya mitigasi bencana harus terus ditekankan kepada masyarakat, supaya jika nanti gempa terjadi masyarakat telah siap dan siaga.

Di balik kecemasan yang ditimbulkan oleh Patahan Lembang ternyata patahan ini memiliki pesona.

Banyak peserta yang ketagihan untuk melakukan kegiatan One Day Trip seperti yang diungkapkan oleh Sinta Febriyanti salah seorang peserta yang juga mahasiswa Pendidikan Geografi 2016.

"Kapan Jantera mengadakan kegiatan seperti ini lagi? Jangan cuma setahun sekali kalau perlu sebulan sekali. Saya ketagihan,” ungkapnya setelah kegiatan berlangsung.

Kegiatan diakhiri pukul 14.00 WIB dengan kembali menggunakan angkot peserta diantarkan kembali ke titik kumpul awal di ITC Al-Furqan UPI.

Muhamad Abdul Azis

Mahasiswa Jurusan Geografi UPI Bandung

AYO BACA : Tebing Keraton, Sajikan Pemandangan Paparan Patahan Lembang & Hutan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar