Yamaha Lexi

Apa Kabar Kota Santri?

  Sabtu, 20 Oktober 2018   
Logo Kota Tasik

Selamat ulang tahun yang ke-17 untuk kota kita bersama, Kota Tasikmalaya. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita semua--masyarakat Kota Tasikmalaya--ketika dikenal dengan istilah Kota Santri. 

Tentu saja dengan label masyarakat yang bermoral baik dan berbudi pekerti luhur. Namun yang menjadi pertanyaan kita kali ini adalah di usia yang ke-17 tahunnya Kota Tasikmalaya dengan berbagai kekurangan dan kejayaanya, masih pantaskah Kota/Kabupaten Tasikmalaya memiliki label sebagai kota santri?

Label kota santri tentu saja membawa banyak dampak positif, baik bagi masyarakat itu sendiri maupun citra daerah yang terbangun. 

Termasuk anggapan masyarakat di kota atau daerah lain yang menganggap tingkat kriminalitas dapat terkendali atau bahkan relatif rendah di kota yang mayoritas masyarakatnya memiliki label moral dan budi pekerti yang luhur.

Diresmikan pada tahun 2001 menjadi kota administratif Tasikmalaya, kota yang sering digembor-gemborkan dengan kereligiusannya berkembang dengan beragam budayanya hingga mencapai titik usia yang masih terbilang muda.  

Tidak dapat dielakan bahwa Kota dan Kabupaten Tasikmalaya masih dipersatukan oleh satu nama yakni Tasikmalaya. Yang pasti sama-sama dikenal dengan istilah kota santri.

Tasikmalaya merupakan salah satu kota santri terbesar di Indonesia. Berdasarkan data yang diunggah oleh Pangkalan Data Pondok Pesantren Kemenag RI tercatat sekitar 180 pesantren yang ada di Kota Tasikmalaya dan 795 pesantren di Kabupaten Tasikmalaya. 

Apabila dilihat dari jumlah pesantren yang ada nampaknya sudah menjadi keharusan, suatu kontribusi besar yang diberikan oleh putra-putri Tasikmalaya dalam menjaga moral dan budi pekerti. Terutama kaitannya dengan kesejahteraan dan keamanan masyarakat. 

Semakin banyak putra-putri daerah yang bermoral dan berbudi pekerti luhur, semakin besar pula pengaruhnya terhadap penurunan tingkat kriminalitas. 

Banyak yang meyakini kejahatan akan terlaksana apabila adanya kesempatan. Namun perlu kita yakini pula meskipun ada banyak kesempatan apabila kesempatan itu datang pada manusia yang bermoral, tentu saja kejahatan itu tidak akan pernah terjadi. 

Mau tidak mau dengan label kota santri yang dimiliki harus dipertanggung jawabkan yakni dengan moral dan budi pekerti yang baik. Salah satu faktor meningkatnya tingkat kriminalitas yang terjadi adalah karena moral dan budi pekerti yang masih rendah. 

Moral dan budi pekerti yang kemudian di dorong dengan rasionalitas dan logika yang dimiliki para putra-putri muda terdidik akan mendorong kesejahteraan dan keamanan kita bersama.

Dinobatkan sebagai kota santri nampaknya Tasikmalaya masih sangat layak untuk dikatakan sebagai kota santri. Karena berdasarkan data yang diunggah oleh ayotasik.com (Ayo Media Network) pada Januari 2018, tingkat kriminalitas di Tasikmalaya menurun 29,9% pada 2017. 

Hal itu menandakan label yang diberikan kepada Tasikmalaya tidak bertolak belakang dengan realitas yang terjadi. Dan hal tersebut membuktikan moral dan budi pekerti sangat berperan penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat.

Yang kemudian hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi para petinggi dan pemangku kepentingan lain dalam menjaga budaya yang religious. Karena ada pribahasa yang mengatakan “mempertahankan itu lebih sulit dibanding membangun”. Salam sejahtera untuk kita semua, dan tetap maju untuk Kota/Kabupaten Tasikmalaya.

Rinda Suherlina

Mahasiswa Ilmu Jurnalistik Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar