Yamaha Lexi

Bale Nyungcung, Cikal Bakal Masjid Agung Kota Bandung

  Jumat, 19 Oktober 2018   Andres Fatubun
Bangunan Bale Nyungcung. (COLLECTIE TROPENMUSEUM)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Masjid Agung Kota Bandung yang berdiri di Alun-alun Bandung telah mengalami tujuh kali perombakan. Tiga kali perombakan berlangsung di abad 19, kemudian disusul empat kali perombakan di abad 20. 

Dulu, masjid ini punya sebutan lain yakni Bale Nyungcung. Sebutan itu terlontar karena bentuk atapnya yang runcing, dalam bahasa Sunda disebut nyungcung.

Dalam buku Ramadhan di Priangan yang ditulis Haryoto Kunto, tertulis pada awal mulanya sekitar tahun 1812 Masjid Agung Bandung cuma berbentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, terbuat dari bambu dan beratap rumbia.

Selanjutnya, Haryoto Kunto menulis catatan Dr Andries de Wilde, “Sang Tuan Tanah Bandung Raya” (1830), Masjid Agung di Alun-alun berhadap-hadapan dan berpasangan dengan Bale Bandung. Masjid terletak di sebelah barat Alun-alun, sedangkan Bale Bandung yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dan bangunan untuk menerima tamu penting, terletak di sebelah timur Alun-alun. Kira-kira di Gedung Palaguna sekarang.

“Agaknya atap Masjid Agung kala itu belum berbentuk nyungcung seperti gunungan. Cuma kolam air yang luas (tempat berwudhu) di halaman masjid yang menjadi pertanda dari bangunan ibadah tersebut,” tulis Haryoto.

Ternyata, kolam air tepat berwudhu itu pernah berhasil menyelamatkan Masjid Agung dari kebakaran besar sekitar Alun-alun pada tahun 1825. 
\nSejak tahun 1826 berangsur-angsur Masjid Agung Bandung diperbaiki, dari bangunan bilik dan bambu diganti menjadi bangunan kayu.

Baru di tahun 1850, bangunan di sekitar Alun-alun dan jalan raya ditingkatkan bahan bangunannya. Pertama kali Masjid Agung dirombak, bangunan diganti tembok batu dan atap genting.

“Tahun 1900, Masjid Agung memasuki abad 20 sebagai tempat ibadah yang representatif untuk sebuah ibukota Priangan, lengkap dengan ciri khusus seperti masjid tradisonal. Antara lain, denah empat persegi, mihrab, pawestren, bedug dan kentongan, atap tumpang susun tiga (atap nyungcung), kolam, bangunan menghadap ke Timur tepat, ada makam benteng dan tidak bermenara,” tulis Haryoto, mengutip Dr. H.J de Graaf, “De oorsprong der Javanse moske”, 1947. 

Setelah mengalami beberapa kali perombakan, ternyata restorasi itu meninggalkan penyesalan bagi beberapa kalangan. 

Sunarya, warga kota di Gg. Cibarengkok Sukajadi, tahun 1983 dalam buku Ramdhan di Priangan mengungkapkan penyesalan itu. 

“Dari semua perombakan bangunan yang terjadi di Kota Bandung, yang paling saya sesalkan adalah perombakan Masjid Agung. Masjid yang dahulu begitu indah dan bentuknya khas masjid alam Pasundan. Padahal dengan menggunakan teknik jaman sekarang, Masjid Agung Bandung mudah saja dibuat baru tanpa merubah bentuk aslinya,” katanya.

Tentu banyak warga kota yang sependapat dengan Sunarya, terutama dari kalangan generasi tua dan para konservator, penyayang bangunan lama bersejarah. Dapat dipastikan, Masjid Agung Bandung yang dimaksud Sunarya, bentuknya khas masjid Alam Priangan adalah wajah Masjid Agung periode tahun 1930-1955.

Namun hal tersebut tidak disesali oleh Penggiat Sejarah Komunitas Aleut, Hendi Abdurahman, 

”Saya tidak menyesal, karena kan ada alasan-alasan mendasar yang memungkinkan adanya perubahan-perubahan, termasuk masjid,” katanya kepada ayobandung, Jumat (19/10/2018).   

Hendi juga mengatakan, perubahan dari Bale nyungcung ke bangunan seperti sekarang tak lepas dari perubahan zaman, sosial, budaya, dan politik. 

“Namun, jika ingin membandingkan dan ingin merasakan bangunan masjid yang menyerupai Bale Nyungcung bisa saya temui di Masjid Cipaganti atau Masjid Sumedang yang pernah saya singgahi yang bernuansa tempo dulu dan masa kini,” katanya. (Wulan Apriani)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar