Yamaha Lexi

Bandoeng Baheula: Dalang Wayang Golek Sebelum Dinasti Sunarya

  Jumat, 19 Oktober 2018   Rahim Asyik
Pertunjukan Wayang Golek. (ayobandung.com/Ramdhani)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Dalam dunia perdalangan wayang golek, kita mengenal Dinasti Sunarya di Jelekong, Kabupaten Bandung. Dinasti ini boleh dibilang tua mengingat sudah berjalan selama lima generasi.

Bila diukur dari tahunnya, masa kejayaan Dinasti Sunarya sudah berlangsung sekitar 3/4 abad. Itu bila diukur dari mulai populernya Ki Dalang Abah Sunarya yang jadi cikal bakal dinasti tersebut. Menurut antropolog asal Prancis, Sarah Anais Andrieu, Abah Sunarya yang populer tahun 1940-an belajar mendalang dari ayahnya, Abah Juhari.

“Dari bapaknya. Abah Juhari, dalang juga di Manggahang,” kata Sarah saat dihubungi Ayobandung.com, Jumat (19/10/2018).

Setelah Abah Sunarya, Dinasti Sunarya diteruskan oleh anak, cucu, dan cicitnya. Dari sembilan anak Abah Sunarya, seperti disampaikan Sarah dalam buku Raga Kayu, Jiwa Manusia, lima di antaranya menjadi dalang. Mereka antara lain Ade Kosasih Sunarya, Nanih Kurniasih Sunarya, Asep Sunandar Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, dan Suganjar Sunarya.

Baik dari Abah Juhari langsung maupun dari anak-anak Abah Sunarya, lahir generasi baru dalang yang memperkuat Dinasti Sunarya. Ade Kosasih misalnya, punya anak yang juga dalang seperti Deden Ade K. Sunarya dan Adi Konthea K. Sunarya. Sementara Asep Sunandar Sunarya juga punya anak yang juga dalang seperti Dadan Sunandar Sunarya dan Yogaswara Sunandar Sunarya.

Masih dari keturunan Abah Sunarya, terkenal juga sebagai dalang Iwan Rudiana Sunarya, Dede Candra S. Sunarya, Kiki Mardani S. Sunarya, Kanha, Raden, Zacky, Rahmat Sunano Sunarya, Muhammad Wisnu, Rudy, Tresna, dan Raka Albari Sunarya.

Asal-usul Wayang Golek di Jawa Barat

AYO BACA : Ini Nasib Dalang Wayang Golek di Bandung Sepeninggal Asep

Masih menurut Sarah dengan mengutip Atik Soepandi serta buku Asal-usul Dalang dan Perkembangan Wayang di Jawa Barat, wayang golek bermula dari ide Bupati Bandung Dalem Karang Anyar Wiranatakusumah III.

Syahdan pada tahun 1845, Wiranatakusumah III memerintahkan tiga dalang dari Tegal dan Pekalongan untuk menciptakan jenis wayang baru untuk penampilan repertoar purwa, terutama pada siang hari.

Tiga dalang itu punya tugas masing-masing. Ki Dalang Darman bertanggung jawab membuat wayang dari kayu, Ki Dalang Surasungging bertanggung jawab membuat gamelan dan repertoar yang akan digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayangnya. Terakhir, Ki Dalang Dipa Guna-lah yang menjadi dalang pertama yang mengadakan pergelaran di hadapan sekumpulan bupati.

Pertunjukan perdana itu tampaknya masih belum sempurna. Bupati Bandung berikutnya, Wiranatakusumah IV membantu menyempurnakannya. Dia memanggil Ki Anting untuk mendalang dalam bahasa Sunda agar pertunjukannya dapat dimengerti rakyat kebanyakan. Sementara dalang muda Brajanata, murid Ki Anting, menghaluskan gerakan-gerakan dan ekspresi-ekspresi wayang golek.

Dalang Wayang Golek Sebelum Dinasti Sunarya

Sebelum Dinasti Sunarya berjaya, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Bandung Raya ini, tercatat ada 22 dalang terkenal. Itu belum termasuk dalang yang sudah sepuh dan dalang yang belum terkenal. Keterangan itu disampaikan R. Moech. A. Affandie, penulis buku Bandung Baheula, dalam tulisannya yang dimuat koran Sipatahoenan tahun 1930-an. Keberadaan dalang-dalang itu bisa dirujuk riwayatnya yang mengarah pada dalang Persoet dan Sawat.

Persoet dan Sawat hidup sezaman. Bedanya, Persoet yang mahir tari topeng, biasa mendalang untuk Kanjeng Dalem di lingkungan kabupaten. Persoet boleh disebut sebagai dalang kesayangan Kanjeng Dalem. Oleh karena itu, namanya juga dikenal sebagai Dalang Dalem.

AYO BACA : Bandung Pisan: Kecamatan Lengkong Punya Kampung Wayang Urban

Persoet ini dikaruniai tiga orang anak yang ketiganya menjadi dalang terkenal. Anak pertama, Kontja alias Bapa Edje, jadi dalang di Wanayasa. Anak kedua, Pidjer alias Bapa Mendo, jadi dalang di Purwakarta. Anak terakhir, Rintjig alias Bapa Rasmiah, jadi dalang di Purwakarta.

Sedangkan Bapa Sawat terbiasa mendalang di luar lingkungan pendopo. Sawat punya murid bernama Bapa Anting. Bapa Anting ini menurunkan murid-murid seperti Soewandaatmadja. Setelah naik haji, dalang Soewandaatmadja ini tenar dengan sebutan H. Makboel.

Berikut 22 dalang terkenal di Bandung Raya. Mereka adalah Soekatma, Soehaja, Partasoewanda, Goenawan, Atmadja dari Cigebar yang tenar karena pertunjukannya kocak, dan Emon dari Sukajadi yang beken karena materi yang disampaikannya berbobot. Kemudian Oewar (Sukajadi), Tarjat, Apek, Oendjoeh, Elan (Soekar Moeda), Oesro, dan Takrim (Cibiru). Takrim adalah anak dalang Arsip sekaligus guru dari dalang Oening di Rancaekek. Takrim dikenal sebagai dalang yang pintar memainkan wayangnya.

Dalang lainnya, Oening (Rancaekek), Soeradi (Padalarang), Rasta (Leuwigajah), R. Imbo (Cisondari), dan Soemirta (Banjaran). Soemirta adalah murid dalang Rentang. Sementara Rentang adalah anak Soera, murid Bapa Sawat. Selanjutnya dalang Artadja (Ciparay), Empong (Kiaracondong), Ading (Leuwigajah), dan dalang Anda.

Garis Perdalangan Bapa Sawat

Dari garis Dalang Bapa Sawat, banyak dalang lahir, kendati tak terkait hubungan darah. Dalang Soewandaatmadja misalnya, jelas bukan keturunan Sawat. Sawat hanya bersahabat karib dengan ayah Soewandaatmadja yang bernama Abdoelgapoer. Dari Soewandaatmadja inilah lahir tak kurang 11 dalang.

Ke-11-nya adalah Emad yang kemudian menjadi dalang di Pamanukan. Selain sebagai dalang, Emad juga terkenal mahir tari topeng. Kemudian, Soera Soengging. Soera adalah anak dalang Soeradi di Padalarang. Lalu Sastra Oesa (mendalang cuma sebentar lantaran tutup usia), R. Djaja Ateng dari Cisondari (ayah dari dalang R. Imbo), dan Moertamad (berguru tapi tak sampai selesai). Moertamad punya murid yang juga dalang bernama Atmadja (Cigebar), Oesro, dan Omo (Tarjat).

Dalang lainnya, dalang Cililin bernama Aksan (ayah dalang Emon di Cipaganti), dalang Cimahi Arsidjan, Adimaoen, Noerhadi (Cibantar), Isra (Sukabumi). Isra punya murid yang juga dalang bernama Oedjang (Bogor), Soekatma (Cipatat), dan Entah. Terakhir, dalang Soekatma di Bandoeng. Soekatma punya murid yang juga dalang bernama Soehaja, Oemar alias Partasoewanda, dan Herman (Goenawan).

AYO BACA : Bupati Bandung Dorong Dakwah Lewat Wayang Golek

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar