Yamaha Mio S

Hardono, Pelari Maraton Berginjal Tiga

  Kamis, 18 Oktober 2018   Rizma Riyandi
Hardono bersama sang istri Tanti. (Dok. kpcdi.org)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Namanya Hardono Arivianto. Wajah bapak beranak dua itu sangat sering muncul di ajang-ajang maraton. Bahkan, saking senangnya berlari, dia sampai unjuk foto di halaman facebook ketika berhasil mengelilingi Stadion Utama Bung Karno.

Fisiknya yang masih prima bisa mengecoh siapa pun. Padahal, siapa sangka, Hardono telah memiliki tiga ginjal. Dua ginjal lamanya, serta satu lagi ginjal tambahan hasil transplantasi. Semangatnya untuk tetap bugar dengan tetap berolahraga memang patut diacungi jempol.

Bukannya tak seperti pasien lain, yang sering capak dan letih, tapi Hardono memilih melawan semua keadaan itu. “Yang rusak kan ginjal kita. Organ yang lain kan masih berfungsi. Mari kita jaga dengan berolahraga. Gagal Ginjal bukan berarti gagal hidup,” ujarnya berkali-kali-kali di Facebook untuk memberi semangat kepada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang lain.

Ketika dia mengatakan akan ikut lomba lari maraton 10 kilometer pada PASEO Run 2018, di Bandung, banyak pasien GGK yang tercengang. Lulusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti Jakarta ini memperlihatkan keseriusannya menghadapi momen tersebut. Ia berlatih dengan tekun, karena tidak ada yang instan untuk meraih mimpinya tersebut.

Meski dikenal sebagai seseorang yang selalu bekerja keras dan pantang menyerah, Hardono mengakui bahwa dirinya sempat terpuruk saat menghadapi kenyataan tentang penyakitnya. Ia bahkan sempat mengisolasi diri selama tiga bulan. Apalagi saat tahu bahwa dirinya harus menjalani cuci darah seumur hidup.

Namun harapan hidupnya mulai bangkit kembali sejak bergabung dengan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI). “Untung aku diberitahu sobatku Lutfi Ibrahim (pasien cuci darah) agar aktif di komunitas. Kepercayaan diriku mulai tumbuh setelah ikut acara KPCDI sekitar bulan Desember 2016,” ungkapnya.

Meski lambat laun kondisi Hardono terlihat membaik, sang istri Tanti, tetap saja merasa khawatir. Sampai akhirnya ia berinisiatif untuk merelakan ginjalnya bagi Hardono.

AYO BACA : Horison Ultima Bandung Gaet Pasar Millenial

“Saya belum siap kehilangan. Walau hemodialisa dengan adekuasi akan memperpanjang umur, tapi saya kuatir, semakin lama akan banyak terkena penyakit lainnya,” ungkap Tanti ketika ditanya kenapa mau menyerahkan ginjalnya untuk sang suami.

Lain halnya dengan Hardono. Pria berusia 52 ini malah ragu di awal. Ia bahkan sempat tarik-ulur untuk merealisasikan tawaran dari sang istri. Namun pria yang murah senyum ini semakin mantap ketika mengikuti seminar yang diselenggarakan KPCDI awal tahun 2018.

“Aku takjub kepada Pak Leo Setiadi yang mendapat Rekor MURI. Ginjal pemberian adiknya bertahan sampai 36 tahun dan sehat-sehat saja. Demikian juga dengan adiknya tetap sehat setelah mendonorkan ginjal kepada Pak Leo, bahkan mampu memiliki anak,” tuturnya.

Setelah itu, mulailah pasangan suami istri ini memeriksakan diri. Sungguh berat masa yang harus tempuh. Soal waktu periksa saja sudah merupakan rintangan berat.

Jadwal cuci darah Hardono adalah Rabu dan Sabtu siang. Pagi harinya dia tetap ngantor. Hari yang tersisa tinggal Senin, Selasa, Kamis, Jumat. Empat hari yang ada untuk pemeriksaan harus berebut dengan jadwal dia bekerja ke daerah. Belum lagi mengontrol  kerja-kerja harian di kantor cabang.

“Sehari cuma bisa satu pemeriksaan. Dicicil, termasuk duitnya karena sekali periksa berkisar 1,5 juta sampai 2 juta. Aku bayar mandiri. Aku juga terkena Hepatitis c. Pengobatannya lama sekali,” keluh pria Jawa ini.

Butuh perjuangan selama setahun untuk pemeriksaan dan pengobatan pra operasi. Meski begitu, akhirnya bulan lalu, Hardono mendapat kesempatan untuk mendapat ginjal barunya. Saat ini kondisi kesehatan hardono dan sang istri masih baik-baik saja. Bahkan, keduanya tampak lebih bahagia, seperti memperoleh kehidupan yang baru.

AYO BACA : Hargai Sanksi PSSI, Viking Sulsel Beri Dukungan Berbeda untuk Persib

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar