Yamaha

Menelusuri Sejarah Gang Tamim, Sentra Kain dan Denim Kota Bandung

  Kamis, 18 Oktober 2018   Nur Khansa Ranawati
Salah satu penjahit denim di Gang Tamim, Teni Setiawati tengah menanti pelanggan, Selasa (16/10/2018). (ayobandung.com/Khansa)

ANDIR, AYOBANDUNG.COM--Ketenaran Gang Tamim sebagai sentra kain dan jin di Kota Bandung sudah lama terdengar, bahkan hingga ke telinga warga daerah lain di Indonesia. Letaknya tidak jauh dari area Pasar Baru. Warga bisa memasuki kawasan tersebut melalui akses yang berada di jalan Jendral Sudirman atau Pasar Selatan.

Areanya tidak terlalu luas. Beberapa kendaraan roda empat yang lalu lalang kerap menemui kesulitan untuk melaju lancar atau mencari parkir. Di sepanjang jalan berjajar para penjual kain, bahan denim, hingga gorden.

Tapi siapa sangka, jajaran toko kain tersebut sebelumnya merupakan tenda-tenda dan jongko tempat berjualan sayur dan bahan makanan lainnya.

Ialah Haji Tamim, pria yang dikenal sebagai pemilik tanah sepanjang jalan Tamim, yang kemudian menghibahkan asetnya untuk dipakai warga sekitar berdagang.

"Pak Haji Tamim itu juragan kaya dari Palembang. Dia merantau dan sudah memiliki tanah di sini (area Tamim). Dulu bentuknya kebun dan sawah, lama-lama karena ia pandai mengelola, akhirnya berubah jadi pasar tradisional. Dia memperkerjakan warga sekitar," tutur salah satu pekerja toko kain di Gang Tamim, Didin Aldiansah pada ayobandung.com, Rabu (18/10/2018).

Dirinya yang merupakan pekerja di CV Prita Lestari mengetahui kisah Haji Tamim dari seseorang yang dianggap sesepuh Gang Tamim, almarhum Abah Dudi.

Abah Dudi dahulu dikenal sebagai kuli panggul serabutan dan merupakan warga asli Tamim.

Haji Tamim, menurut penuturan Abah Dudi pada Didin, telah berjualan sejak era akhir kolonial Belanda.

"Orang-orang belanjanya pun masih pakai koin-koin (Gulden)," ungkap Didin.

Setelah Haji Tamim wafat, anaknya yang bernama Yakub meneruskan pengelolaan pasar. Sampai akhirnya, pada 1970-an, pedagang tekstil mulai bermunculan membuka tenda dan jongko di pasar tersebut.

"Dulu sebagian jualan kain tapi masih ada pasar. Mulai banyak pendatang yang berjualan," ungkapnya.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan juru parkir di Gang Tamim, Emo. Dirinya mengaku sudah bekerja di lokasi tersebut sejak akhir 1970-an.

Saat itu, menurutnya, mayoritas pedagang telah beralih berjualan batik.

"Di zaman itu hampir semuanya jual kain batik. Setelah itu baru berubah jadi jualan macam-macam kain. Toko paling lama berdiri itu Indah Mas," ungkapnya.

Jin di area tersebut baru masuk pada akhir '80-an dan awal '90-an, dibawa oleh pedagang dari Sumatera. Pembeli pun, Emo menuturkan, banyak berasal dari luar pulau Jawa, seperti Yogyakarta dan Lampung.

Era Penjahit Denim

Jin yang banyak dijual pada era awal kemunculannya di Gang Tamim adalah celana jin yang sudah jadi. Banyak di antara pedagang yang melapak di emperan menggunakan tenda.

Dodo Sumarya kemudian menjadi pedagang yang mempelopori jahit kain denim sesuai pesanan, membuat tren berjualan jin siap pakai lambat laun bergeser.

AYO BACA : Keseruan Menjajal Jalanan Utara Bandung

"Dulu banyaknya jualan jin yang sudah jadi, tapi modelnya kan jadul. Saya coba buat model hipster dan bentuk bootcut yang waktu itu jadi tren tahun 1998-an, belum ada di toko," jelas Dodo yang sehari-harinya berjualan menggunakan mobil Panther abu dengan tenda yang ditautkan pada salah satu sisi dinding kios

Kain denim jahitannya tersebut ternyata diminati warga. Mulai saat itu, banyak pelanggan berdatangan untuk dibuatkan celana jin dengan ukuran dan model sesuai selera.

"Lama kelamaan yang lain juga jual kain denim dan buka jasa jahit," ungkapnya.
 
Ia mengungkapkan, era 2000-an awal merupakan puncak ketenaran jin sehingga membuat Gang Tamim semakin ramai dikunjungi pembeli dari berbagai daerah.

Ketenaran tersebut berangsur-angsur memudar seiring dengan perkembangan tren baru dan menjamurnya penjual jin di tempat-tempat lain.

Demam Chino

Tren celana chino sempat mewabah di kalangan pemuda kota-kota besar di Indonesia, termasuk Kota Bandung di era 2012-an.

Para penjahit senior Gang Tamim mulai mempelajari dan mengambil pasar penggemar chino, termasuk Dodo. Berbagai bahan chino pun disediakan di toko-toko tekstil kawasan tersebut.

Tren ini dimanfaatkan salah satu pedagang termuda di Gang Tamim, Daniel Gunadi, untuk menjadi pelopor bisnis jahit spesialis chino dan celana model kekinian lainnya di sana.

Tokonya berbeda dengan kebanyakan ruko dan kios di Gang Tamim, yakni berdesain interior sederhana dengan tema semiindustrial. Para pegawainya pun merupakan anak-anak muda.

Dirinya membuka usaha jahit tersebut sejak 2012. Di awal ketenaran celana chino, dirinya mengaku bisa menerima pesanan jahit hingga 600 potong per hari.

"Orang datang ke sini untuk bikin celana dibentuk sesuai keinginan, apalagi celana dengan brand tersendiri yang ingin punya ciri khas," ungkapnya.

Dirinya memilih berjualan di Gang Tamim karena dekat dengan para penjual kain.

"Jadi pelanggan yang datang bisa mencari dulu bahannya di sini untuk dijahitkan," ungkapnya.

Meski pelanggan masih ramai berdatangan, namun seluruh pedagang yang diwawancarai ayobandung.com mengakui bahwa dagangan mereka saat ini tidak seramai dulu.

Dodo misalnya, ia kini hanya mendapat pesanan setengah dari jumlah pesanan yang ia biasa kerjakan di era 2000-an.

"Merosot banget, pendapatan dan jumlah pesanan berkurang sampai 50 persennya lah," ungkapnya.

Pun halnya dengan Daniel.

"Dulu sehari bisa ngerjain sampai 600 potong, sekarang satu bulan paling hanya 2000 potong. Jauh banget bedanya," jelasnya.

AYO BACA : Berusaha Terlihat Bahagia Justru Membuat Seseorang Semakin Sedih

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar