Yamaha

Ini Alasan Ketika Bahagia Bisa Langsung Sedih

  Kamis, 18 Oktober 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ilustrasi emoticon sedih dan bahagia. (sciencenews)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Emotion, menemukan bahwa terlalu berupaya terlihat bahagia bisa membuat orang cenderung terobsesi dengan kegagalan dan emosi negatif. Alhasil hal tersebut membawa mereka ke risiko stres yang lebih tinggi dalam jangka waktu panjang.

"Kebahagiaan adalah hal yang baik, tetapi menjadikannya sebagai sesuatu yang wajib dicapai justru membuatnya kerap gagal," jelas Brock Bastian salah satu penulis penelitian itu serta seorang psikolog sosial di University of Melbourne School of Psychological Sciences di Australia, dinukil dari Time, Kamis (18/10/2018).

Penelitian ini melibatkan dua eksperimen terpisah. Pada mulanya, sekelompok mahasiswa psikologi Australia diminta memecahkan 35 anagram dalam tiga menit. Tetapi tanpa sepengetahuan mereka, 15 di antaranya tidak dapat dipecahkan.

Tiga puluh sembilan siswa menyelesaikan tugas ini di sebuah ruangan yang dihiasi poster, catatan, dan buku motivasi. Pengawas di ruangan ini juga diberi tahu oleh para peneliti untuk berbicara dengan riang, dan dengan tidak sengaja menyebutkan pentingnya rasa bahagia.

AYO BACA : 5 Makanan Ini Bisa Tingkatkan Rasa Bahagia

Sementara itu, 39 siswa lainnya menyelesaikan tes yang sama di ruangan yang lebih netral, baik dari segi suasananya ataupun pengawas yang berjaga. Adapun kelompok ketiga dari 38 siswa menyelesaikan tugas yang dapat dipecahkan di sebuah ruangan yang menekankan kebahagiaan yang sama dengan ruang pertama.

Setelah itu, para peneliti meminta semua siswa untuk melakukan latihan pernapasan, di mana mereka secara berkala ditanya tentang pola pikirnya.

Dibandingkan dengan dua kelompok lainnya, siswa yang melakukan tugas mustahil di "ruang bahagia" lebih cenderung memikirkan kembali kegagalan masa lalu, yang pada gilirannya terkait dengan perasaan emosi negatif.

Mereka yang menyelesaikan tugas mustahil di ruangan netral dan mereka yang menyelesaikan tugas ringan di ruang bahagia, tidak berbeda secara signifikan dalam seberapa besar upaya memikirkan kembali latihan meraih rasa bahagia.

AYO BACA : 3 Cara agar Anda Bahagia saat Bekerja

Peneliti juga menyebut ketika seseorang menempatkan tekanan besar pada diri untuk merasa bahagia atau berpikir orang lain di sekitar terlihat emosional dalam memandang pengalaman negatif, maka mereka akan cenderung lebih banyak mengirim sinyal kegagalan yang berujung pada sikap depresif.

Hal ini dijelaskan bukan sebagai "kutukan" untuk mencoba bahagia, melainkan sebaliknya untuk menggarisbawahi pentingnya mengetahui dan menerima perasaan tidak bahagia terkadang normal dan sehat.

"Kita sebagai manusia telah berevolusi untuk mengalami serangkaian keadaan emosional yang kompleks, dan sekitar setengahnya tidak menyenangkan. Ini tidak berarti hal tersebut kurang berharga atau membuatnya mengurangi kualitas hidup kita," jelas Brock Bastian.

Faktanya, studi terbaru menunjukkan emosi negatif pada akhirnya dapat meningkatkan kebahagiaan. Bahkan juga menemukan bahwa situasi yang membuat stres dapat membantu seseorang memproses berita buruk.

Bastian juga menambahkan kegagalan bisa sangat berharga untuk pembelajaran dan pertumbuhan. Dia menyebut, kegagalan sangat penting untuk inovasi, pembelajaran dan kemajuan.

"Setiap organisasi yang sukses tahu bahwa kegagalan adalah bagian dari jalan menuju kesuksesan, jadi kita perlu tahu bagaimana menanggapi dengan baik terhadapnya," katanya.

AYO BACA : Kenali Penyebab 6 Rasa Sakit Umum pada Mr P

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar