Yamaha Aerox

Bandung Pisan: Inisiatif Warga Berantas Gizi Buruk Lewat Omaba Gedebage

  Selasa, 16 Oktober 2018   Nur Khansa Ranawati
Petugas Cooking Center, Marliani, menunjukan kotak makanan Omaba yang biasa diantar ke rumah-rumah balita penderita Gizi Buruk di Kecamatan Gedebage.

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM-- Kasus gizi buruk yang pernah melanda 20-an balita di Kecamatan Gedebage pada 2012 silam ternyata berhasil menggerakkan hati sejumlah warga untuk berinisiatif membuat gerakan.

Gerakan pemberantas gizi buruk yang kemudian dinamai Omaba (Ojek Makanan Balita) tersebut awalnya diinisiasi oleh kepala puskesmas setempat, Soni, enam tahun silam.

Ia menggagas kerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk memberi dana corporate social responsibility (CSR) yang kemudian dibelanjakan susu formula untuk para keluarga penderita gizi buruk.

"Ternyata tidak tepat sasaran. Susu-susu formula tersebut malah kami temukan dijual di sejumlah warung warga," ungkap salah satu anggota Omaba, Marliani, ketika ditemui di acara Bandung Menjawab di Ruang Media Balai Kota Bandung, Selasa (16/10/15). 

Dari sana warga RW 11 Kelurahan Cisaranten Kidul kemudian menginisiasi bantuan berupa makanan langsung santap alih-alih bahan makanan bagi penderita gizi buruk agar lebih efektif. 

"Awalnya kami memasak selama 90 hari berturut-turut untuk dibagikan ke anak-anak gizi buruk dan berlangsung sampai sekarang. Setelah program CSR selesai pada 2016, kami dibuatkan dapur agar bisa mencari sumber dana sendiri," ungkapnya. 

Dinamai Ojek Makanan Balita karena setelah selesai dimasak, makanan tersebut diantar ke rumah para anak gizi buruk.

Tim Omaba sendiri terdiri dari 8 orang 'koki' yang bertugas di cooking center dan dua orang petugas pengantar makanan. 

"Kami pastikan makanan yang diantar itu memang dimakan oleh sang balita. Bahkan kami sampai menyuapi balita tersebut," jelas tim pengantar makanan Omaba, Enok. 

Saat ini, selain dibantu oleh APBD lewat anggaran puskesmas, Omaba pun beroperasi dengan dana yang dikumpulkan secara kreatif dan memberdayakan.

Tim cooking center juga kini memproduksi sejumlah kue dan makanan ringan dengan merk Omaba yang hasil penjualannya dipakai untuk mendanai dapur Omaba. 

"Walaupun belum seratus persen mandiri, sejak 2017 kami sudah bisa mencari dana sendiri," jelas Marliani.

Saat ini, Marliani mengaku, sudah tidak ada lagi balita yang masuk ke dalam kategori gizi buruk di daerah mereka.

"Kalau yang gizi buruk sudah tidak ada, sekarang fokus untuk balita-balita kurus dan kurus sekali," jelasnya.

Dalam sehari, tim Omaba biasanya mengantar hingga 11 kotak makanan. Isi makanan yang diberikan cukup beragam, terdiri nasi dan lauk pauk, susu, hingga cemilan berupa puding.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar