Yamaha Lexi

Suasana Ziarah di Kampung Dukuh Garut

  Sabtu, 13 Oktober 2018   
Masyarakat yang akan berziarah di Kampung Dukuh.(Reival)
Dukuh matuh dayeuh maneuh, bunyina carangka eling. Dukuh padumukan matuh runtuyan katurunan Dukuh, keukeuh pengkuh sarta patuh sadaya piwuruk sepuh." Bait yang dikutip di atas merupakan salah weweling (petuah leluhur) yang dikenal luas oleh para penghuni Kampung Dukuh. 
 
Petuah itu menegaskan keberadaan Kampung Dukuh sebagai satu komunitas yang terdiri atas orang-orang yang konsisten memegang adat leluhur.
 
Kampung Dukuh merupakan sebuah perkampungan adat yang sangat kental dengan ajaran agama Islam. Kampung yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat berkehidupan sederhana baik dalam segi bangunan rumah adat, pakaian, bahasa, serta perilaku masyarakat yang masih memegang kuat adat dan tradisi leluhur. 
 
Di Kampung Dukuh terdapat 42 rumah dan sebuah bangunan masjid. Terdiri atas 40 Kepala keluarga serta jumlah penduduk 172 orang untuk Kampung Dukuh Dalam dan 70 kepala keluarga untuk Kampung Dukuh Luar.
 
Kampung Dukuh yang dahulu bernama padukuhan yang artinya sama dengan padepokan. Kata dukuh berarti calik atau duduk, berasal dari padukuhan yang merupakan tempat bermukim atau yang baik untuk bermunajat, mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. 
 
Kampung ini berpatokan kepada mazhab Imam Syafe’i serta ajaran Tasawuf Syekh Abdul Jalil yang merupakan ajaran para Sufisme (orang-orang penganut Tasawuf) yang mempunyai tradisi ziarah ke makam karomah yang dilaksanakan pada hari Sabtu.
 
Makam yang diziarahi itu tidak lain adalah makam Syaikh Abdul Jalil, seorang tokoh penyebar Islam di Kampung Dukuh.
 
Syaikh Abdul Jalil memiliki kedudukan yang istimewa di tengah masyarakat Dukuh saat ia hidup, bahkan setelah meninggal. Ia tetap dimuliakan dan diagungkan oleh para penghuni kampung dan para peziarah yang datang untuk mendapatkan berkahnya.
 
Selain makam Syaikh Abdul Jalil, di bawahnya dikuburkan Makam Eyang Hasan dan Husein, makam-makam Kuncen dan sesepuh Dukuh.
 
Setiap Sabtu rombongan peziarah berdatangan memenuhi Kampung Dukuh. Bukan hanya dari daerah Jawa Barat, peziarah juga datang dari provinsi lain di Indonesia.
 
Peziarah harus mengikuti aturan yakni peziarah baik laki-laki ataupun perempuan diharuskan mandi, berwudu serta selama dimakam tidak boleh kentut, meludah, dan buang air kencing.
 
Ketika memasuki areal makam, laki-laki harus berpakaian sarung (polos), baju takwa (polos), dan totopong (ikat kepala, peci), dan tidak memakai celana dalam. Sementara itu, perempuan harus mengenakan samping/sinjang (kain), kebaya atau baju tangan panjang polos, dan kerudung (polos), dan dilarang mengenakan pakaian dalam, perhiasan, dan sandal/sepatu. 
 
Karena banyaknya peziarah, ziarah dibagi menjadi 3 kelompok. Rombongan peziarah kelompok 1 dipimpin langsung oleh kuncen. Sementara itu, kelompok 2 dan seterusnya dipimpin oleh wakil kuncen maupun pembantunya. Peziarah merupakan laki-laki dan perempuan baik dewasa maupun anak-anak. 
 
Ziarah sendiri bertujuan agar masyarakat selalu mengingat para leluhur yang lebih dahulu pergi. Selain itu, ziarah mengingatkan hamba kepada akhirat dan memberi pelajaran berharga akan kehancuran dan kefanaanya.
 
Selain itu, tradisi ziarah ini juga menjadi pengingat umat untuk berterima kasih kepada Allah swt karena masih diberi rezeki berupa panjangnya usia.
 
Reival Akbar Rivawan
Warga Desa Batu Karut Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar