Yamaha Aerox

Kekurangan Air, Warga Keluhkan Pelayanan PDAM Tirtawening

  Jumat, 12 Oktober 2018   Fathia Uqimul Haq
Sejumlah warga di Kelurahan Arjuna Kecamatan Cicendo mengantre air dari selang PDAM setiap hari, Kamis (11/10/2018). (Fathia Uqimul Haq/ayobandung.com)

CICENDO,AYOBANDUNG.COM--Dede Sudrajat (61) mengeluh karena keluarganya sulit mendapat air bersih sejak sekitar bulan Mei 2018. Tidak adanya hujan dan musim kemarau panjang membuatnya terpaksa berbagi air dari sumur milik bersama.

Untuk mendapatkan satu ember saja Dede harus menunggu, lantaran bukan hanya dia yang terkena bencana, namun seluruh warga di RT 07 RW 08 Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.

Berbeda dengan tetangganya, Dede adalah salah seorang yang memasang air ledeng. Pasalnya, harga yang dipatok membuat warga geleng-geleng kepala. Sebab aliran air menuju RT tersebut tidak lagi berfungsi sejak 1997.

"Saya sudah hampir dua tahun masang (air ledeng), tapi ya kalau enggak disedot sanyo enggak bakal keluar. Sekarang aja yang keluar angin," katanya, Kamis (11/10/2018).

Dede pun mengantre air pasokan PDAM setiap hari. Meskipun keluar sedikit demi sedikit, tetap saja kebutuhan air belum terpenuhi. Dia pun menyesalkan, meski air sudah lama tak keluar dengan semestinya, tagihan tetap dibayar tiap bulan.

"Minimal Rp250 ribu, paling besar pernah Rp800 ribu," ungkapnya.

Salah satu warga lain, Maman (50), mengaku pernah mencoba ingin memasang air ledeng kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Nahas, dia perlu membayar tagihan PDAM bertahun sebelumnya jika ingin memasang kembali.

"Kita jadinya berhutang. Padahal selama ini air enggak ada. Kalau masang pun agak mahal, biaya pemasangan bisa 3 juta rupiah, belum bulanannya," katanya.  

Selama ini warga RT 7 hanya mengandalkan air sumur. Sejak musim kemarau tiba, air bak ditelan bumi. Mereka pun menyampaikan aspirasinya kepada Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Bandung Rieke Suryaningsih mengenai hal ini.

Ketua RT 11 Atit Suharti yang sama-sama terdampak bencana ini mengatakan, warga RW 08 biasa menyampaikan unek-unek kepada Rieke. Begitu pun dengan air yang hilang dari tanah permukiman mereka. Tak lama, tangki PDAM mendatangi RW 8 setiap hari untuk memberikan air secara gratis.

"Tiap hari kita ambil air dari PDAM. Dikucurkan ke ember, semua warga sama sepenuhnya bak di masing-masing keluarga. Biasanya cukup buat seharian mencuci, mandi, masak. Kalau minum biasanya beli air galon aja," ujarnya.  

Atit mengaku kedatangan PDAM tidak menentu. Terkadang pagi, siang, sore, bahkan pernah pukul 22.00 WIB tangki PDAM baru saja datang. Bagaimana lagi, Atit tetap bangun supaya kebutuhan air terpenuhi. PDAM mengirimkan satu sampai dua tangki untuk memenuhi kebutuhan air satu RW.

Biasanya, warga setempat meminta air jika ada hari besar seperti Idulfitri atau Iduladha. Tentu melalui Rieke, yang juga menjabat di Badan Anggaran DPRD Kota Bandung.

Setelah kedatangan Dirut PDAM, Atit mengatakan, PDAM akan merencanakan pembuatan toren besar supaya air langsung dikucurkan ke wadah tersebut.

"Ya sekarang kita berharap supaya air tetap ada mengingat kemarau panjang juga, atau pakai toren supaya warga enggak usah pakai ember ke sini," kata dia.

AYO BACA : Kekeringan: Warga Andalkan Situ Sipatahunan

Tanggapan PDAM

AYO BACA : BPBD Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan sampai Akhir Oktober

Direktur Utama PDAM Tirtawening, Soni Salimi akhirnya merespons warga terdampak kekeringan akibat kemarau di Kelurahan Arjuna, Cicendo. Ia mengatakan, PDAM berjanji akan melayani sesuai kemampuan secara gratis. Namun, hal ini belum dirasa cukup setelah empat bulan memberikan bantuan air ke sana.

"Seiring dengan matinya sumur artesis di Jalan Industri, karena  wilayah sini dilayani oleh artesis. Kemarin kita baru mendapatkan izin untuk bisa melakukan pengeboran, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa dipastikan memperoleh kembali air ledeng melalui perpipaan supaya tidak lagi melalui mobil tanki," katanya.

Dikatakannya, pelayanan dengan mobil tanki membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Satu hari bisa habis 1,5 juta rupiah. Artinya dalam empat bulan telah habis 180 juta. Padahal, membangun artesis bisa menghabiskan setengah dari dana.  

"Ada 31 titik yang saya identifikasi dan inventarisi kita berikan bantuan, tentunya kita layani sekemampuan kita. Hari ini kita terjunkan 17 unit mobil tanki dan 12 mobil bak berkapasitas 2 ribu liter. Untuk tanki kapasitas 5 ribu liter. Sehari kita bisa melakukan pelayanan utk mobil tanki 70-80 mobil. Kalau untuk mobil bak bisa sampai 50-60 mobil," jelasnya.

AYO BACA : Ingin Dapat Saluran Air Bersih, Ini Caranya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar