Yamaha Mio S

Sering Lupa Ternyata Bermanfaat untuk Kecerdasan

  Kamis, 11 Oktober 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ilustrasi lupa. (WordReference Word of the Day)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Menjadi seorang yang pelupa biasanya berjalan beriringan dengan kurangnya kecerdasan. Setidaknya itulah yang biasanya digambarkan oleh film dan tayangan televisi.

Namun, menurut sebuah studi yang dipublikasikan 2017 lalu oleh peneliti dari Univerity of Toronto (U&T), menyimpulkan menjadi pelupa sebenarnya bisa menjadi manfaat bagi kecerdasan seseorang.

"Penting bahwa otak melupakan detail yang tidak relevan dan malah berfokus pada hal-hal yang akan membantu membuat keputusan di dunia nyata," kata Profesor Blake Richards, salah satu penerbit studi itu seperti dinukil dari The Indendent, Kamis (11/10/2018).

Profesor Richards dan rekannya, Paul Frankland dari U&T, mengusulkan agar ingatan hanya digunakan untuk mengoptimalkan pengambilan keputusan. Pasalnya dengan mempertahankan informasi berharga dan membiarkan hal-hal tidak penting lainnya pergi dapat memberi ruang bagi hal-hal yang penting untuk tetap tersimpan dalam memori.

"Kami tahu bahwa sejumlah latihan bisa meningkatkan jumlah neuron di hippocampus (yang membantu kemampuan mengingat), tetapi, biasanya hal itu hanya menampung detail dari kehidupan yang sebenarnya tidak penting, dan itu mungkin menghalangi Anda membuat keputusan yang baik," lanjutnya.

Periset juga mengatakan aspek 'menjadi lupa' justru memungkinkan memberi keuntungan bagi seseorang ketimbang menjadi sebuah rintangan. Semisalnya otak lupa rincian spesifik tentang peristiwa masa lalu. Namun masih ingat gambaran yang lebih besar.

Peneliti percaya hal tersebut justru memungkinkan manusia untuk menyamaratakan pengalaman sebelumnya secara lebih baik. Bahkan jika dibandingkan dengan seseorang yang dapat mengingat lebih banyak detail menit-per-menit dari peristiwa tersebut.

Namun tetap saja, jika orang melupakan hal-hal penting dalam frekuensi yang mengkhawatirkan maka hal itu justru mengkhawatirkan dan berbanding terbalik dari 'efek positif' dari yang dimaksud oleh riset tersebut.

Di sisi lain, studi ini mengklaim, melupakan sejumlah detail dari apa yang terjadi sekarang dan kemudian adalah tanda dari sistem memori yang sehat dan bekerja tepat. Adapun profesor Richards mengaku, tentang informasi apa yang bisa dibuang, tergantung pada situasinya.

"Salah satu hal yang membedakan lingkungan tempat Anda ingin mengingat hal-hal, versus lingkungan di mana Anda ingin melupakan hal-hal, adalah tentang seberapa konsisten lingkungan dan seberapa mungkin hal-hal akan kembali ke kehidupan Anda," katanya.

Contoh hal ini, kata dia misalnya, seorang pekerja supermarket yang akan bertemu dengan banyak orang yang berbeda setiap hari. Sementara orang yang bekerja di sebuah kafe lokal kecil akan mulai mengingat penduduk setempat. Seharusnya, menurut Richards, hal terbaik untuk menyimpan ingatan adalah dengan tidak menghapal semuanya.

"Jika Anda mencoba membuat keputusan, mustahil untuk melakukannya jika otak Anda terus-menerus dibombardir dengan informasi yang tidak berguna," ujarnya.
 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar