Yamaha Lexi

Psikolog: Cegah Bunuh Diri dengan Mencintai Diri Sendiri

  Rabu, 10 Oktober 2018   Fathia Uqimul Haq
Ilustrasi pembunuhan (ayobandung.com)

AYO BACA : Dilarang Main Ponsel, Siswi SMP di Bandung Ditemukan Gantung Diri

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Seorang  siswi mengakhiri hidupnya akibat kecewa tidak diizinkan menggunakan gawai oleh ibunya selama sepekan karena sedang ujian, Selasa (9/10/2018).

Psikolog Anak, Anggi Anggraeni menjelaskan, di dalam Ilmu Psikologi ada salah satu aliran bernama Psikoanalisa yang dipelopori oleh Sigmund Freud.
 
Menurut Freud,  ada dua jenis naluri yang dimiliki oleh manusia yaitu eros (naluri untuk hidup) dan thanatos (naluri untuk mati). Eros yang berarti cinta memiliki unsur kehidupan, kasih sayang, dan kepedulian, baik terhadap sesama maupun kepada diri sendiri. Sedangkan thanatos adalah naluri manusia yang cenderung bersifat destruktif, yang menggambarkan keinginan untuk menghancurkan.

"Nah ketika naluri itu terarah pada diri sendiri, maka sifatnya otodestruktif. Makanya manusia ada yang menyakiti diri sendiri (self injury), bunuh diri seperti halnya kasus ini. Namun, ketika naluri itu sudah di refleksikan pada objek luar, thanatos bersifat destruktif (merusak) ini adalah alasan kenapa manusia ada yang berbuat kerusakan pada bumi, menyakiti sesama, dan lain-lain," katanya, Rabu (10/10/2018).

Maka dari itu, naluri untuk hidup harus dominan dalam diri manusia. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencintai sesama manusia, mencintai diri sendiri, dan saling menghargai antar sesama. Supaya konsep diri dan penghargaan diri seseorang (self image dan self esteem) menjadi lebih kuat.

Menurut Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Bandung itu, saat seorang remaja sudah memiliki self image dan self esteem yang kuat, maka mereka cenderung menyayangi diri sendiri dan tidak akan melukai dirinya.

"Perlu dikaji lagi memang, apakah ada kaitannya atau apakah ada hubungan sebab akibat antara penggunaan hp dengan perilaku bunuh diri anak ini. Tapi bisa jadi pola komunikasi antar anak dan orangtua yang salah. Misalnya cara melarang orangtua yang agak kurang sesuai, atau cara menegurnya yang kurang tepat," ujarnya.  

Anggi pun menilai, remaja tadi dikhawatirkan termakan konten-konten kekerasan yang pernah dia lihat sebelumnya, sehingga berpengaruh terhadap pola pikir dan tindakan anak.

"Antisipasinya sebisa mungkin perbanyak aktivitas non layar, artinya minimalisir penggunaan jejaring sosial, elektronik, dalam kegiatan sehari-hari. Karena banyak kok aktivitas yang lebih menarik dibandingkan dengan terus menerus eksis di jejaring sosial, misalnya olahraga, jalan dan makan bareng temen, belajar kelompok, ikut diskusi film atau buku," sarannya.

AYO BACA : Kecanduan Gawai dan Potensi Bunuh Diri pada Remaja

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar