Yamaha NMax

Bandung Pisan: Sejarah Asep Berlian Versi Haryoto Kunto

  Rabu, 10 Oktober 2018   Rahim Asyik
Jalan Asep Berlian di kawasan Cicadas Kota Bandung, Selasa (9/10/2018).(Ramdhani)

CIBEUNYING KIDUL, AYOBANDUNG.COM –Sejarah Asep Berlian yang paling banyak beredar tampaknya versi kuncen Bandung Haryoto Kunto. Setidaknya versi Haryoto berseliweran di internet.

Keterangan Haryoto tentang Asep Berlian tercantum dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe yang cetakan kelimanya diterbitkan Granesia tahun 2014. Sayang, keterangan tentang sejarah Asep Berlian dalam buku itu pun tak banyak.

Haryoto memulai deskripsinya dengan menyebutkan orang-orang Palembang saudagar yang terkenal sukses di Bandung. Mereka datang ke Bandung secara bertahap mulai akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Kota Bandung memang sedang menggeliat-geliatnya pada masa itu. Jalanan saja baru diaspal tahun 1900. Itu pun hanya sebagian kecilnya, meliputi sepenggal Jalan Perintis Kemerdekaan (dulu Jalan Gereja), Jalan Braga, dan Jalan Stasiun Timur sampai ke Gedung Pakuan.

Pendatang Bertambah 10 Kali Lipat

Melihat Bandung tengah berkembang, orang-orang dari berbagai penjuru dunia pun berdatangan. Tahun 1907, jumlah pendatang yang masuk ke Bandung ditaksir sekitar sepuluh kali lipatnya.

Keterangan itu berasal dari surat Raden H. Muh. Sueb, kalipah di Bandung, kepada Penghulu Besar Haji Hasan Mustopa. Surat bertanggal 8 Oktober 1907 itu berbunyi:

Dayeuh Bandung ramé-ramé teuing

Koja Keling Palémbang nambahan

Beuki loba bangsa baé

Arab Jawa Melayu

AYO BACA : Bandung Pisan: Sejarah Asep Berlian Versi Her Suganda

Sumawonten Cina mah leuwih

Makao sareng Kelang

Hokian mah puguh

Asia bangsa Éropa

Raos putra sapuluh tikel bahari

Sagala jenis aya

Artinya kurang lebih:

Kota Bandung ramai nian

(Orang) Koja Keling Palembang (semakin) bertambah

Semakin banyak (suku) bangsa saja

Arab Jawa Melayu

AYO BACA : Kreasi Jeans Limited Edition di Tamim

Lebih-lebih (bangsa) Cina

Makao dan Kelang

Hokian tentu saja

Asia (juga) bangsa Eropa

Menurut perkiraan sepuluh kali lipatnya dari semula

Semua jenis (bangsa) ada

Keterangan itu terkonfirmasi data resmi seperti yang tertera dalam buku Sejarah Kota Bandung yang diterbitkan Pemerintah Kota Bandung tahun 2016. Dalam buku itu disebutkan, pada tahun 1889 jumlah penduduk golongan Eropa dan Timur Asing di Kota Bandung berjumlah 1.576 orang, tahun 1905 membengkak menjadi 6.000 orang.

Sementara jumlah penduduk bumiputranya juga bertambah, dari 16.242 orang pada 1889 menjadi 41.400 orang pada 1905. Memang tidak sampai 10 kali lipatnya, tapi jelas banyak.

Berlian Sebesar Jagung

Orang-orang Palembang itu, kata Haryoto, berniaga dan punya banyak tanah. Beberapa saudagar Palembang yang terkenal di Bandung antara lain Tamim (kini jadi nama jalan sekaligus sentra penjualan jins), Ence Azis, Aschari, dan Asep Berlian.

Berbeda sedikit dengan keterangan Her Suganda, kata berlian dalam Asep Berlian menurut Haryoto berasal dari kebiasaan Asep. Setiap kali datang ke undangan, Asep selalu memakai aksesori bertaburkan berlian sebesar-besar jagung. Di antaranya yang paling memikat perhatian adalah yang dipasang di hulu kerisnya.

Haryoto juga menyinggung hebohnya mengenai pembunuhan yang dilakukan pembantu Asep Berlian kepada salah seorang istrinya. Kalau Her Suganda menjuluki peristiwa itu dengan sebutan ”Geger Bandung”, Haryoto menyebutnya “Guyur Bandung”.

Sebutan mana yang benar bisa dilacak dalam pemberitaan media yang muncul saat peristiwanya terjadi.

AYO BACA : Bandung Pisan: Silsilah dan Sejarah Asep Berlian

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar