Yamaha Mio S

Bandung Pisan: Sejarah Asep Berlian Versi Her Suganda

  Selasa, 09 Oktober 2018   Rahim Asyik
Hiruk pikuk di Jalan Asep Berlian Kota Bandung, Selasa (9/10/2018). (Ramdhani/ayobandung.com)

CIBEUNYING KIDUL, AYOBANDUNG.COM–Orang asli Bandung tentu familier dengan nama Asep Berlian. Namun tak banyak yang tahu siapa sosok di balik nama itu.

Tulisan berikut akan menceritakan sejarah Asep Berlian berdasarkan arsip-arsip dari koran lama.

Apabila kita ketik frasa Asep Berlian di mesin pencari Google maka yang muncul Asep Berlian pemain sepak bola kelahiran Bogor, 11 Juli 1990.

Yang akan ditulis di sini bukan Asep Berlian itu, tapi yang namanya diabadikan jadi salah satu nama ruas jalan terkenal di daerah Cicadas, Cibeunying Kidul, Kota Bandung.

Siapa Asep Berlian? Menurut wartawan senior Her Suganda, Asep Berlian merupakan cucu Ki Agus Tamin.

Agus Tamin ini pedagang rempah-rempah asal Palembang. Jualannya di jalan yang kini dinamai sesuai namanya, yakni Jalan Tamim, terkenal sebagai sentra jins di Bandung. Dalam bukunya yang berjudul Jendela Bandung (terbit Januari 2008), Her menulis Tamin, bukan Tamim.

Ki Agus Tamin disebutkan punya seorang anak bernama Ki Agus Abdul Sjukur.

Walhasil, harta kekayaan Tamin berupa tanah yang sangat luas, jatuh ke tangan Abdul Sjukur. Hidup Abdul Sjukur pun bergelimang kemewahan.

AYO BACA : Bandung Pisan: Sejarah Asep Berlian Versi Haryoto Kunto

Saking kayanya, ia dikabarkan punya tradisi melancong ke luar negeri, satu hal yang jarang dilakukan pada masa itu.

Asal Muasal Julukan Berlian

Abdul Sjukur ini kemudian dikaruniai tiga orang anak, yakni Ki Asep Abdullah Abdul Sjukur, Tamin Abdul Sjukur, dan Aschari Abdul Sjukur.

Asep Abdullah inilah sebetulnya nama asli Asep Berlian. Namun sekarang, nama panggilannya jauh lebih populer dari nama aslinya.

Dari mana kata berlian berasal, ada dua versi sejarah Asep Berlian.

Versi pertama menyebutkan, konon kata berlian muncul karena saat masih bayi, Asep ditimbang dengan satu stoples berlian.

Versi lainnya menyebutkan, julukan berlian muncul lantaran Asep menghias bendo, hulu keris, dan sandalnya dengan hiasan berlian.

Karena namanya itu, orang Belanda menganggapnya bisa diterjemahkan. Nama Asep Berlian ditulis oleh wartawan koran AID Preangerbode yang terbit di Bandung menjadi Asip Diamant.

AYO BACA : Sekolah di Bandung Milik Warga Asing dan Tionghoa Diserahkan ke Pemkot Bandung

Diamant adalah kata dalam bahasa Belanda yang artinya intan atau berlian. Intan dan berlian adalah barang yang sama.

Bedanya, kalau intan adalah bahan mentahnya alias berlian yang belum diapa-apakan, sedangkan berlian adalah intan yang sudah dipotong-potong dan dipoles, yang kita lihat dipakai orang sebagai hiasan.

Empat Orang Istri

Tak diketahui kapan Asep Berlian lahir. Yang diketahui adalah tahun meninggalnya, tahun 1936.

Asep dimakamkan di pemakaman keluarga yang lokasinya berdekatan dengan makam bupati Bandung di Karanganyar, Kota Bandung.

Her Suganda menyebut Asep Berlian punya empat orang istri, tapi tak disebutkan nama-namanya.

Her hanya menyebutkan salah seorang istrinya meninggal dalam peristiwa perampokan yang disertai pembunuhan yang dilakukan oleh Tarmedi, pembantunya.

Saking menghebohkannya, peristiwa pembunuhan itu terkenal dengan sebutan ”Geger Bandung”.

Sementara itu, dari istri keempatnya, Atikah Khaerani, yang berasal dari Ciamis, Asep Berlian dikaruniai empat anak. Masing-masing bernama H. Agus Anwar Jene, H. Agus Jenar, S.H., Yayu Jaesa, dan Kiagus Jaelani.

AYO BACA : Bandung Pisan: Silsilah dan Sejarah Asep Berlian

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar