Yamaha Mio S

Maksimalkan Bonus Demografi

  Sabtu, 06 Oktober 2018   
Ilustrasi demografi.

Indonesia pada tahun 2020-2030 akan mengalami masa keemasan yaitu menghadapi bonus demografi. Bonus demografi adalah banyaknya penduduk Indonesia yang berusia produktif dibandingkan usia non produktif, menurut badan pusat statitiska usia produktif adalah penduduk yang rata-rata memiliki usia 15-65 tahun, sekitar 70% usia produktif akan mendominasi Indonesia.

Bonus demografi merupakan kesempatan emas bagi Indonesia dalam peningkatan sumber daya manusia (sdm) dan salah satu cara pendukung agar Indonesia menjadi negara maju. Kalau Indonesia bisa memanfaatkan masa emas tersebut maka Indonesia telah berhasil mengambil peluang dari bonus demografi, jika tidak maka sebaliknya. Bonus demografi akan menajadi boomerang bagi Indonesia.

Kemungkinan yang akan terjadi jika bonus demografi tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal maka penganguran akan semakin meningkat, maraknya pernikahan dini, pendidikan semakin tidak merata, kesenjangan sosial, dan berujung pada populasi kemiskinan yang semakin tinggi. Hal tesebut bisa terjadi karena usia produktif tersebut tidak dipersiapkan dari sekarang.

Pada masa datangnya bonus demografi, akan banyak sekali usia produktif. Tapi tidak ada jaminan usia produktif tersebut bisa memproduktifkan usianya. Manusia produktif adalah usia yang bisa memaksimalkan diri, dengan mempunyai pekerjaan yang jelas, sehat, dan memiliki keterampilan.

Menurut data yang dikeluarkan kominfo dalam bukunya  “Siapa Mau Bonus?” Pada tahun 2014, setidaknya ada empat hal yang apabila terpenuhi maka bonus demografi akan diraih secara maksimal yaitu:

Peningkatan kualias penduduk

Berdasarkan data BPS 2013, Angka Partisipasi Sekolah (APS) atau rasio penduduk yang bersekolah menurut kelompok usia sekolah untuk penduduk usia 7-12 tahun sudah mencapai 98,29%, APS penduduk usia 13-15 tahun mencapai 90,48%, namun APS penduduk usia 16-18 tahun baru mencapai 63,27%.

Data tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat sekitar 36,73% anak usia 16-18 tahun yang tidak bersekolah baik karena belum/tidak pernah sekolah maupun karena putus sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi

Tersedianya lapangan kerja

Dengan tersedianya lapangan kerja yang luas, maka penduduk yang bekerja membuat mereka tidak menjadi beban bagi penduduk yang lain, mandiri secara ekonomi, meningkatnya daya beli serta memiliki kemampuan untuk menabung.

Meningkatnya tabungan keluarga

Keberhasilan program KB dengan rata-rata keluarga hanya memiliki dua anak saja membuat biaya hidup dalam keluarga tidak sebanyak keluarga pada masa lalu yang rata-rata memiliki anak berjumlah lebih dari dua orang. Dampak langsungnya adalah kesempatan setiap keluarga untuk menyediakan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anaknya juga menjadi lebih baik.

Dan yang lebih penting lagi, keluarga memiliki cadangan lebih besar untuk menabung Arti tabungan keluarga ini sangat penting, baik bagi perencanaan keuangan keluarga maupun secara akumulatif.

Terus meningkatkan program KB

Keberhasilan KB pada dekade 1980-an yang didukung oleh partisipasi masyarakat yang baik terhadap program ini telah terbukti berhasil mengubah struktur usia penduduk Indonesia yang sebelumnya lebih banyak berusia nonproduktif menjadi lebih banyak usia produktif

Adanya lapangan pekerjaan yang banyak bukan berarti Indonesia harus tetap bergantung pada perusahaan-perusahaan asing yang semakin jaya tinggal di Indonesia. Tapi bagaimana caranya agar Indonesia tetap berbangga pada produk dalam negeri dan berdaya saing. Dengan banyaknya usia produktif dan di dominasi oleh pemuda maka memungkinkan paramuda untuk bisa membuka peluang usaha-usaha bisnis yang baru. Dengan daya kreatifitas dan siap bersaing di pasar global.

Makadari itu peran pemuda akan sangat penting bagi Indonesia selanjutnya. Merekalah yang memiliki peran dan menentukan apakah Indonesia akan tetap terbelakang atau akan maju pesat. Indonesia harus menciptakan pemuda yang produktif, kreatif dan inovatif. Memersiapkan generasi baru Indonesia yang terdidik. Tentu ini akan menjadi tantangan baru untuk Indonesia.

Apakah semuanya akan mudah dilalui? Pada masanya sekarang, berkaca pada fakta yang ada bahwa generasi saat ini tidak peduli bahkan ada yang tidak mengetahui apa sebenarnya bonus demografi. Bonus memang berarti keuntungan, tapi tidak bagi bonus demografi, bisa saja malah merugikan. Kehadiran bonus demografi diibaratkan kedua sisi pisau yang tumpul dan tajam. Tumpul jika tidak bisa di manfaatkan dan tajam jika bisa dimaksimalkan.

Jika pemerannya saja tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan lalu apa jadinya pada jalan cerita yang tidak bernaskah tersebut? Dengan kecanggihan teknologi yang semakin pesat, maka bukan sebuah hal yang asing lagi untuk kita beradaptasi dengan hal baru. Bonus demografi harus ditanggapi dengan serius dan melibatkan partisipasi penduduknya. Pemerintah sibuk memerbaiki segala bidang untuk menyambut datangnya bonus demografi, tapi jika penduduknya tidak peduli bahkan tidak berpartisipasi itu hanya membuat lelah di satu pihak saja.

Manfaatkan teknologi berbasis internet. Sebarkan seluas mungkin, semenarik mungkin apa itu bonus demografi dan siapa saja pemeran yang aktif pada masa datangnya masa itu. Jadikan sosial media menjadi senjata untuk menyebarluaskan informasi terkait bonus demografi. Lakukan semaksimal mungkin agar khalayak pembaca tau bahwa bonus demografi tidak berdampak baik saja, melainkan memiliki dampak yang buruk jika sampai saat ini penduduk kurang berpartisipasi.

Sudah saatnya Indonesia menjadi negara maju yang jauh dari isu kemiskinan, pengangguran yang sering ramai diperbincangkan dan masih adanya kesenjangan sosial. Sudah saatnya indonesia menjadi negara yang produktif dan menghasilkan pemuda yang terdidik dan kreatif.

Risma Nur Aidha

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar