Yamaha

Ribuan Rumah di Petobo Amblas, Korban Sulit Dievakuasi

  Kamis, 04 Oktober 2018   Dadi Haryadi
Sejumlah petugas mengevakuasi jenazah korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Kamis (4/10/2018). (Istimewa)

PALU, AYOBANDUNG.COM -- Lima korban meninggal berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan rumah yang terbenam lumpur di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Kamis (4/10/2018). Basarnas dibantu relawan dari Yayasan Harapan Amal Mulia dan For Humanity serta relawan lainnya cukup kesulitan untuk mengangkat kelima jenazah tersebut.

"Posisi korban berada dibawah mobil yang tertimpa beton," ujar Koordinator Tim Rescue Gabungan Amal Mulia dan For Humanity, Abdul Qadir.

Menurut Mang Oding, demikian Abdul Qadir biasa disapa, masih banyak mayat yang belum bisa di evakuasi. Hal ini dikarenakan posisi mayat sebagian besar tertimbun lumpur dan air. Dan sebagian lagi tertimbun rumah yang berada dibawah lumpur dan air.

"Warga Patebo yang selamat yang memberi tahu kami ada mayat dibawah sini, dibawah rumah itu, dan lain sebagainya. Dan memang di titik-titik itu baunya sudah sangat menyengat," ungkap Mang Oding.

Dampak gempa yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) menimbulkan tsunami yang meluluhlantakkan sebagian Kota Palu, terutama yang berada di sepanjang Pantai Talise, Kecamatan Palu Tengah.

AYO BACA : Tak Punya BBM, Korban Gempa Palu Datangi SPBU

Tak hanya itu, ribuan rumah lainnya rusak akibat guncangan gempa dengan magnitudo 7,4 skala richter di bagian lain Kota Palu.

Sedangkan di wilayah Palu Selatan, khususnya di Kelurahan Petobo, gempa telah menyebabkan ribuan rumah amblas ke dalam tanah dan bergeser sejauh satu kilometer dari tempat semula.

"Sore itu, saya baru pulang kerja, tanah mendadak bergoyang, naik turun. Lalu tanah bergerak," ungkap Amirudin (53) salah satu warga Petobo yang selamat.

Rumahnya terletak tak jauh dari jalur irigasi di Petobo. Tanah yang bergerak berada persis disamping irigasi hingga radius sekitar dua kilometer.

Rumah Amirudin rusak parah. Tapi, ia dan keluarga selamat. "Satu keponakan saya belum ketemu sampai sekarang," jelas dia.

AYO BACA : Gempa Melanda Sulawesi Tengah, Bandara di Palu Ditutup Sementara

Pasca gempa, tata ruang di Petobo berubah drastis. Kebun kelapa dan kebun pisang yang ada di wilayah utara Petobo kini berada di pinggir irigasi. Sedangkan rumah-rumah yang berada di pinggir irigasi bergeser sejauh satu kilometer ke arah selatan. Sebagian besar rumah-rumah ini amblas ke dalam tanah yang saat kejadian berubah menjadi lumpur.

Dari hasil pantauan di lapangan, hanya terlihat beberapa atap rumah saja yang berada diatas lumpur yang telah mengering.  

Kerusakan parah juga terlihat di sepanjang jalan menuju Petobo. Kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (DishubKominfo) terlihat hancur. Jalan raya menuju Petobo pun mengalami kerusakan yang sangat parah. Jalan yang terbuat dari aspal ini retak dengan diameter antara 2-10 centimeter. Permukaannya pun sebagian ada yang baik, dan ada yang amblas beberapa centimeter.

Ini belum termasuk lumpur yang menggunung setinggi 5-7 meter yang menutup akses jalan raya Petobo.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa kejadian di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu ini merupakan salah satu fenomena alam yang mencekam. Di daerah ini, tanah bergetar hebat dan menjadi lumpur menelan rumah-rumah yang ada.

Kepala Humas dan Pusat Data BNPB Sutopo Purwo Nugroho, menyebut fenomena itu sebagai likuifikasi yaitu proses pencairan tanah atau fenomena perilaku tanah yang kehilangan kekuatan akibat gucangan yang menyebabkan tanah menjadi cair.

Catatan BNPB, ada setidaknya 744 rumah yang tenggelam akibat lumpur di Petobo. Saat gempa, tanah ini bergerak hebat menjadi lumpur dalam massa dan volume yang sangat besar akibat sedimen tanah di dalam tanah mencair.

Amirudin tak mengerti peristiwa apa yang menimpa dirinya dan ribuan warga di Kelurahan Petobo. Ia hanya mengucap syukur bahwa dirinya termasuk yang selamat dari musibah ini.

"Kami sekarang mengungsi ke sebuah bukit di Ngatabaru. Sampai sekarang, tidak ada satupun bantuan yang kami terima. Kami hanya bisa makan seadanya, pisang, ubi dan apapun yang bisa dimakan. Air minum pun sudah tak ada," ungkap Amirudin.

Derita Nurhadi dan para pengungsi di Kota Palu tidak seharusnya mereka pikul sendiri. Masih banyak saudara satu bangsa yang akan turun tangan membantu Amirudin dan para pengungsi korban gempa Palu, Kabupaten Donggala maupun Kabupaten Sigi.

AYO BACA : Ridwan Kamil Ingin Tiru Program Mitigasi Bencana ala Jepang

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar