Yamaha Mio S

Peralatan yang Harus Dibawa saat Terjadi Bencana

  Kamis, 04 Oktober 2018   Adi Ginanjar Maulana
Grafis peralatan yang dibawa saat bencana.(Attia)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Tidak ada salahnya wargi Bandung untuk mempersiapkan barang untuk mengantisipasi bencana alam yang bisa datang sewaktu-waktu.

Bencana alam memang tidak bisa terprediksi. Tapi, paling tidak, wargi Bandung sudah bisa memahami situasi dan kondisi bila bencana itu datang.

Pakar Geologi, ITB Bachtiar pernah mengatakan salah satu bencana yang berpotensi terjadi di Bandung yakni Sesar Lembang.

"Bentangannya Sesar Lembang itu di timur berawal dari Bukit Palasari sampai Cisarua sekitar 29-30 km. Bila skenario sesar sepanjang itu aktif maka gempanya akan sangat besar sekali," ungkapnya 12 Agustus 2018.

Konon, dari sejarahnya, kehadiran Sesar Lembang tak terpisah dari sejarah Gunung Sunda. Saat dulu meletus, dua pertiga bagian atas Gunung Sunda runtuh ke utara. Terbentuklah patahan atau lereng di sisi selatan yang dikenal sebagai Sesar Lembang.

AYO BACA : Potensi Gempa dari Ular Panjang Bernama Sesar Lembang

Dalam istilah geologi, lereng memanjang ini dikenal sebagai gawir sesar.

Kondisi struktur alam gawir di sebelah utara Bandung itu berada di kaki Gunung Tangkuban Parahu, tepatnya Lembang, Parongpong, dan Cisarua. Bagi orang Sunda, gawir lazim disebut Pasir Halang—artinya bukit yang cerdas. Bentangan dinding patahan Lembang ini pun tahan aliran lahar dan udara dari wilayah utara ke kota Bandung di selatan.

Bachtiar menyampaikan, gempa dari Sesar Lembang itu beberapa tahun lalu sempat melanda sebagian perkampungan di Cisarua. Berdasarkan Laporan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika kala itu, Bachtiar menyebut kekuatan gempa yang bergerak di kawasan Bandung Utara ini mencapai 3,4-3,6 skala Richter. 

"Terbaru, gempa di Sesar Lembang ini tiga sampai empat tahun lalu terjadi. Titik pusat waktu itu di Kampung Muril Rahayu atau sebelah barat Cisarua. Di sana dengan skala 3,4 sampai 3,6 saja kerusakannya berat karena bangunannya tidak sesuai struktur bangunan tahan gempa," tuturnya.

Adapun dari koordinatnya, lokasi pusat gempa kala itu berada di 107,55 ° BT dan -6,81 ° LS dengan kedalaman enam kilometer. Titik itu terletak di antara tebing dan lembah yang dipisahkan sealir sungai kecil selebar 1,5 meter bernama Cipogor.

"Yang menjadi topik dan minim sosialisasi (adalah soal potensi) kebencanaan. Masyarakat saat ini tidak tahu jika gawir yang selama ini akrab dengan kehidupan mereka akan menjadi sumber bencana," sambung Bachtiar.

AYO BACA : Waspadai Potensi Amplifikasi Gempa di Cekungan Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar