Yamaha Lexi

Mengenal Fenomena Likuifaksi

  Rabu, 03 Oktober 2018   Nur Khansa Ranawati
Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, menjelaskan fenomena likuifaksi pada diskusi Gempa dan Tsunami Donggala di Sesar Aktif Pulau Koro, di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Rabu (3/10/2018). (Nur Khansa/ayobandung)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Dalam salah satu video amatir yang merekam kejadian gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, tertangkap fenomena tanah beserta bangunan di atasnya yang amblas dan hanyut terbawa air. 

Fenomena yang disebut likuifaksi tersebut melanda Palu dan sekitarnya selama gempa berlangsung. Berdasarkan keterangan Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, likuifaksi sendiri memiliki pengertian sebagai hilangnya kekuatan lapisan tanah pasir lepas akibat kenaikan air tanah saat gempa bumi kuat dengan durasi lama. 

Akibatnya, tanah pasir berubah menjadi selayaknya cairan atau lumpur sehingga dapat bergerak mengalir atau menyembur. 

"Likuifaksi terjadi pada lapisan pasir, bukan batu pasir tanah. Terjadinya harus ada air tanah di bawah lapisan pasir untuk membuat tanah berubah seperti bubur. Harus ada guncangan kuat dengan skala lebih dari 6 skala richter," jelasnya pada diskusi Gempa dan Tsunami Donggala di Sesar Aktif Pulau Koro, di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Rabu (3/10/2018). 

Ia menyatakan, jarak sumber pusat gempa dengan tanah yang berpotensi mengalami likuifaksi akan sangat memengaruhi tingkat kekuatan likufaksi yang terjadi. 

AYO BACA : Uu: Alat Pendeteksi Tsunami Harus Dicek Secara Rutin

"Semakin dekat akan semakin terasa, di Palu, jarak (pusat gempa dan tanah) hanya 10 kilometer," ungkapnya. 

Ia membandingkan dengan gempa di Padang pada 2009 yang "hanya" menyebabkan tanah amblas sedalam 40 sentimeter karena pusat gempa terletak cukup jauh, yakni di Mentawai. 

Secara teknis, likuifaksi terjadi karena jarak antarpartikel yang saling bersentuhan di dalam lapisan tanah terisi oleh air. Tekanan air pori ekses itulah yang kemudian mendorong partikel menjadi saling menjauh sehingga membuat tanah bergerak. 

Dampaknya, ia mengatakan, pada umumnya akan merusak fondasi bangunan yang berdiri di atas tanah tersebut. Semakin tebal tanah yang terkena likuifaksi, semakin besar dampak amblasnya. 

"Di Palu arah ke laut, endapannya semakin tebal. Di sana ada Paleochannel. Likuifaksi hanya terjadi di beberapa tempat karena ketebalan tanahnya bervariasi," jelasnya. 

AYO BACA : Pemprov Jabar Donasikan Rp2 Miliar untuk Korban Gempa Palu dan Donggala

Paleochannel merujuk pada daerah sedimentasi lembah dan sungai purba. Di Palu, daerah tersebut mengalami dampak likuifaksi terparah. 

Syarat terjadinya likuifaksi
Tohari menjabarkan likuifaksi dapat terjadi pada kondisi sebagai berikut: 

Pertama, lapisan tanah berupa tanah pasir bersifat lepas (gembur). Kedua, kedalaman muka air tanah tergolong dangkal (kurang dari -4,0 m dari permukaan tanah). Ketiga, goncangan gempa bumi lebih dari 6 skala richter. Keempat, durasi goncangan gempa bumi lebih dari 1 menit dan kelima percepatan gempa bumi lebih dari 0,1 g. 

Di Palu, seluruh syarat tersebut terpenuhi. 

Kondisi muka air tanah yang dangkal, gempa bumi yang mencapai  7.4 skala richter, ditambah dengan lapisan tanah berupa endapan aluvial berumur kurater yang belum terpadatkan menjadikan tanah di sejumlah kawasan bergerak hanyut terbawa air.

"Data potensi likuifaksi di Palu sebenarnya sudah tersedia, tapi belum digunakan untuk membuat tata ruang yang aman di sana," ungkapnya. 

AYO BACA : Konser di Bandung, Ari Lasso Persembahkan Lagu bagi Korban Gempa Palu

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar