Yamaha NMax

Ridwan Kamil Ingin Tiru Program Mitigasi Bencana ala Jepang

  Senin, 01 Oktober 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Eneng Reni/ayobandung)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Pemprov Jabar sudah menyiapkan program West Java Recillian Blueprint yang merupakan edukasi persiapan menghadapi bencana.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berharap melalui program ini generasi mendatang dapat memahami potensi bencana dan cara menanggulanginya. 

"Pemprov Jabar sudah menyiapkan program West Java Recillian Blueprint. Kami ingin di masa depan anak cucu kita siap terhadap bencana dan paham terhadap potensi bencana. Sehingga bisa hidup berbudaya menyiasati dan ramah terhadap takdir bencana yang memang secara geologi Indonesia ini sangat rawan," ungkap Ridwan Kamil di Gedung Sate, Senin (1/10/2018).

Di sisi lain, Indonesia dikenal rentan terhadap bencana gempa bumi karena letaknya di daerah dengan tingkat aktivitas gempa bumi tinggi. Ada tiga lempeng tektonik yang bertemu di Indonesia, yakni Samudera India–Australia di sebelah selatan, Samudera Pasifik di sebelah timur dan Eurasia, dengan sebagian besar wilayah Indonesia berada di dalamnya. 

Berada di lingkaran cincin api, Indonesia pun termasuk salah satu negara yang rawan akan gempa. Namun, rupanya ada lagi negara yang sangat rawan gempa di Asia lainnya yakni Jepang. Bahkan ada 1.500 kali guncangan gempa bumi setiap tahunnya melanda Jepang. 

AYO BACA : Potensi Gempa dari 'Ular Panjang' Bernama Sesar Lembang

Sama halnya dengan Indonesia, Jepang juga terkenal sebagai negara dengan tingkat aktivitas gempa bumi tinggi. Negeri Sakura memang sering dijadikan rujukan dalam mitigasi bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami. 

Sadar akan potensi bahayanya, pemerintah Jepang beserta masyarakatnya mempersiapkan diri menghadapi gempa bumi, misalnya anak-anak sekolah di Jepang sudah dididik untuk siap menghadapi situasi gempa bumi dengan menggunakan helm pelindung yang telah disediakan sekolah dan berkumpul di titik evakuasi.

Selain itu, pengembangan teknologi siaga bencana di Jepang sudah berjalan baik. Sistem peringatan tsunami yang dioperasikan oleh Badan Meteorologi Jepang dapat memantau kegiatan kegempaan dari enam kantor regionalnya.

Dari sistem ini Badan Meteorologi Jepang mengirimkan peringatan tsunami dalam waktu tiga menit dari gempa bumi terjadi. Ketika gempa datang, data tentang besaran dan lokasi gempa segera disiarkan di stasiun televisi nasional.

Oleh karena itu, sebagai upaya mitigasi kebencanaan serupa, Emil pun meyakini jika Indonesia mampu menduplikasi dan menerapkan program tersebut, bangsa ini khususnya Jawa Barat bisa menjadi wilayah yang tanggap terhadap potensi gempa. 

"Indonesia ini kan negara dengan gunung berapi paling banyak sedunia, negara yang lempengnya berada di Sumatera sampai Papua. Nah, Insyaallah dengan blueprint ini, salah satunya kita dengan meniru dari Jepang. Mudah-mudahan kita menjadi provinsi yang siap terhadap potensi bencana,” tutur Emil.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar