Yamaha Aerox

Jadilah Netizen Cerdas, Demi Pemimpin yang Selaras

  Senin, 01 Oktober 2018   Rizma Riyandi
netizen

AYO BACA : Ayo Salurkan Hobi Menulis di Ayo Netizen

AYO BACA : NETIZEN: Menulis ala Hamka

Persaingan antara dua kubu menjelang pemilihan presiden pada 2019 yang akan datang sudah menjadi sorotan publik dan perbincangan para netizen diberbagai sosial media. Apa yang mereka ungkapkan, seolah menyudutkan satu pihak, dan memenangkan pihak yang lain. Semua itu terjadi ketika maraknya tagar 2019 ganti presiden di posting dalam berbagai sosial media, sehingga keviralannya mencapai 600 juta akun di awal September 2019 membuktikan betapa berpengaruhnya sebuah gerakan sosial yang berawal dari media sosial.

Seperti dalam bukti persentase tahun ini, 1 September- 26 September 2018, perang tagar antara kubu Jokowi-Ma'ruf dan kubu Prabowo-Sandi sebanyak 459.637, dengan #2019prabowopresiden dicuitkan 270.739, sementara #jokowilagi dicuitkan 188.903. Kedua pasangan memiliki keunggulan dan kelemahannya tersendiri, maka jika dibandingkan keduanya memiliki kelayakan dan loyalitas yang akan berpengaruh bagi bangsa ini. Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia mempublikasikan hasil riset terbaruĀ  yang dilakukan di Jakarta, Rabu, (27/9) terkaitat pemilihan presiden 2019, hasil survei menunjukkan Jokowi merupakan calon presiden favorit, sedangkan Sandiaga Uno menjadi calon wakil presiden yang paling dikenal oleh para pemilih.

Gerakan #2019gantipresiden memiliki banyak arti jika dilihat dalam berbagai perspektif dinamika politik saat ini. Mulai dari ketidaknyamanan dengan presiden yang akan menjabat kembali, rasa ingin mencoba dengan pemimpin baru, serta harapan setelah banyak permasalahan dalam bidang politik, mereka berharap sistem demokrasi masih dipegang kuat oleh rakyat Indonesia.

Mungkin bagi pengusung tagar tersebut ganti presiden adalah solusi bagi perbaikan masalah perpolitikan di Indonesia. Tetapi mereka lupa bahwa presiden hanyalah sebagai sarana antara, bukanlah tujuan yang sebenarnya. Jika mereka sedang mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan di negeri ini, seharusnya mereka menawarkan alternatif calon beserta konsep-konsepnya yang dapat diterima secara politik dan dapat diterima oleh publik.

Jika dibandingkan dengan simbol tagar, maka apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi sudah melampaui dari apa yang bisa dilakukan oleh simbol tagar tersebut. Rakyat Indonesia dengan mudah bisa menebak pola pembangunan yang ditawarkan dan akan seperti apa hasilnya. Kalaupun mau mengkritik, maka bahan kritikan itu sudah ada dan bahkan sudah dijalankan.

Ini berbeda dengan gerakan tagar yang hanya menawarkan simbol. Bahkan untuk mengkritiknya saja kita tidak bisa, karena isinya memang belum ditawarkan. Oleh karena itu, kita harus berfikir secara rasional, pilihlah pemimpin yang terbaik dengan tidak menghujat satu sama lain. Bermain-main dengan sesuatu yang simbolis tanpa isi, sangatlah berisiko tinggi dan tidak bijak bagi bangsa yang tengah berusaha berlari mengejar kemajuan ini.

Dengan banyaknya isu-isu terkait pemilihan presiden yang disebarluaskan oleh berbagai media, kita seharusnya mengasah diri untuk bisa memilah informasi dan berita yang diterima. Positiflah dalam bermedia sosial, terutama dalam pemilihan informasi yang benar, cermati, berkomentarlah secara bijak, dan sertakan solusi terbaik demi memajukan NKRI, menjadi pemersatu dan sosok yang selalu menginspirasi.

Dukunglah siapapun pemimpinnya, bantu dengan menghasilkan banyak prestasi, harumkan tanah air, serta damaikanlah politik negeri ini. Hal yang terpenting bagi bangsa Indonesia bukanlah soal siapa pemimpinnya, melainkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, karena sistem pemerintahan yang baik yaitu ketika rakyat dan pemimpinnya saling berkolaborasi.

Anggi Kania Putri

Mahasiswa Jurusan Jurnalistik UIN SGD Bandung Semester V

AYO BACA : Ini 6 Tulisan Terpopuler Ayo Netizen Edisi Agustus 2018

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar