Yamaha Aerox

Mahasiswa ITB Sabet Juara 2 Kompetisi Pesawat Tanpa Awak Bersayap di Turki

  Jumat, 28 September 2018   Rizma Riyandi
Tim Aksantara Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil memboyong Juara 2 dalam kompetisi pesawat tanpa awak, kategori Fixed Wing, di TÜBITAK UAV (Unmanned Aerial Vehicle) Competition Turki pada 22 September 2018 lalu. (Humas ITB)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Tim Aksantara ITB berhasil memboyong Juara 2 dalam kompetisi pesawat tanpa awak, kategori Fixed Wing, di TÜBITAK UAV (Unmanned Aerial Vehicle) Competition Turki pada 22 September 2018 lalu.

TÜBITAK UAV Competition adalah sebuah kompetisi pesawat tanpa awak dengan dua kategori wahana, yaitu Fixed Wing (FW) atau wahana tanpa awak bersayap dan Rotary Wing (RW) atau wahana tanpa awak sejenis helikopter. Keduanya dikompetisikan dengan misi-misi tertentu, dengan tujuan untuk menguji kemampuan mahasiswa dalam proses perancangan wahana UAV hingga penyelesaian misi tersebut.

“Kedua wahana dapat melakukan ketiga misi yang diberikan oleh juri. Namun dari dua tim kami, hanya tim FW yang mampu meraih Juara 2 dengan menyisihkan 40 peserta tim FW lainnya. Sedangkan tim RW hanya mampu bertahan di peringkat 9 dari 45 peserta tim RW lainnya,” terang Manajer Tim Aksantara TÜBITAK, Akbar Ajibaskoro, Jumat (28/09/2018).

Dari total 85 tim yang mengikuti kompetisi ini, terbagi menjadi 40 tim FW dan 45 tim RW, dengan mayoritas berasal dari negara tuan rumah sendiri. Sedangkan untuk tim Internasional hanya berasal dari Indonesia, Mesir dan Pakistan.

AYO BACA : ITB Perguruan Tinggi Terbaik Versi Kemenristekdikti

Menurutnya, saingan terberat adalah dari tim-tim tuan rumah, khususnya pada kategori RW. Karena banyak dari mereka yang sudah menguasai teknologi RW lebih baik.

Sementara itu, salah seorang anggota Tim FW, Edbert Ongko mengatakan, untuk kategori FW, timnya dituntut melakukan tiga misi utama. Antara lain menerbangkan UAV FW melalui lintasan yang telah dibuat dengan tambahan looping 360 derajat, melakukan Payload Dropping pada target yang telah ditentukan posisinya serta misi terakhir (yang juga merupakan misi pembeda antara RW dan FW), dan melakukan precision landing dengan jarak target yang ditentukan dengan garis finish dan terbang secara otomatis.

“Pada misi kesatu, wahana FW terbang dengan dikendalikan oleh pilot. Sedangkan pada misi kedua dan ketiga, wahana FW harus mampu terbang secara otomatis, tanpa pilot,” ujarnya.

Menurut Edbert, Tim FW mendapatkan penilaian yang cukup baik pada laporan proses desain dan menempati urutan kedelapan pada awalnya. Pada misi pertama, dengan kriteria penilaian berupa berat pesawat dan batasan waktu dalam penyelesaian misi, tim FW turun dan pada posisi ke-15.

Hasil yang cukup memuaskan pada misi ketiga, dengan jarak precision landing timnya hanya terpaut 2 meter dari posisi tim teratas. Karena itulah tim FW dapat mencapai peringkat kedua dari yang sebelumnya berada di posisi 15. Di lain sisi hanya beberapa tim yang dapat melakukan misi ketiga.

“Untuk rencana ke depannya, berhubung Aksantara akan mengikuti kompetisi UAV tingkat nasional/KRTI (Kontes Robot Terbang Indonesia), kami akan mencoba menerapkan teknologi yang telah teruji di TÜBITAK yang sekiranya dapat mendukung misi di KRTI 2018. Setidaknya dari hal tersebut dapat menjamin pengembangan teknologi yang lebih baik untuk Aksantara pada ajang KRTI 2018,” tandasnya.

AYO BACA : Mahasiswa ITB Kembangkan Robot Pengintai Militer Berbentuk Kecoa

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar