Yamaha Aerox

Kadiskar PB Berjiwa Petualang Sejak Dini

  Kamis, 27 September 2018   Fathia Uqimul Haq
Ferdi Ligaswara, Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung . (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

AYO BACA : Perjalanan Karya Iswanto Soerjanto, Fotografer Tanpa Kamera

AYO BACA : Enam Manfaat Kesehatan Olahraga Petualangan

BATUNUNGGAL, AYOBANDUNG.COM--Ferdi kecil adalah seorang petualang yang lahir di kaki Gunung Karang, Pandeglang, Banten. Sejak duduk di bangku sekolah, Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung ini aktif dalam berbagai kegiatan seperti Palang Merah Indonesia (PMI), Pramuka, sampai mengikuti Jambore Nasional.

Ayahnya yang merupakan tokoh di Banten, membuat Ferdi Ligaswara tumbuh di lingkungan agamis. Kakek dengan empat cucu ini lahir pada 23 Februari 1960. Kemampuannya memimpin terlatih sejak menjabat sebagai Ketua OSIS SMA 1 Pandeglang, sampai sekarang menjadi ketua alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (Unisba).

Selama 32 tahun pengabdian, Ferdi mengaku 24 tahunnya adalah waktu panjang untuk melayani masyarakat.

Berada di lingkungan yang bersinggungan langsung dengan rakyat, bukan hal mudah. Bahkan membuatnya sampai harus bertaruh nyawa.

“Perjuangan di mulai pada 1985 masuk dengan formasi tambal sulam PNS. Pernah menjadi mantri polisi di kecamatan, Kasi penertiban reklame, Kasi penyidik, Kasi penertiban bangunan, Kasi penertiban, sampai menjadi Kepala Satpol PP Kota Bandung selama 6 tahun 8 bulan,” katanya saat ditemui di Kantor Diskar PB, Kamis (26/9/2018).

Menurutnya, tak ada waktu libur untuk menjadi pelayan masyarakat dan penegak peraturan. Saat orang lain istirahat atau vakansi, Ferdi justru bertugas. Kewaspadaan, lanjutnya, mesti ditingkatkan ketika Bandung tengah ditinggalkan warga.

Bagi Ferdi hal itu adalah tantangan. Dia dan timnya bekerja dengan ikhlas dan sepenuh hati. Tentu berat. Apalagi ketika dirinya menjadi Kepala Satpol PP Kota Bandung.

“Ada beberapa perubahan yang pernah kami lakukan saat menjadi Kasatpol PP. Saat itu rekondisi Gasibu yang dulunya kumuh, jalan tertutup, banyak supir angkot, tidak bisa mencapai target pendapatan terhalang pedagang, akhirnya dapat selesai,” tuturnya.

Kedua, penertiban daerah Tegallega yang pernah dipenuhi tenda biru dan penjual alat kontrasepsi. Dia lantas merelokasi pedagang ke Gedebage agar tidak ada lagi kekumuhan dan penjualan barang yang tak sesuai pada tempatnya.

Kisah lainnya yang menggetarkan dan berisiko yang pernah dilakukannya adalah penertiban lokalisasi Saritem. Setelah 200 tahun berdiri, di bawah kepemimpinannya, akhirnya lokalisasi itu ditutup. Meski saat penertiban para penertib dilempari benda tajam dan tindak anarkis lainnya sehingga nyawa menjadi taruhan.

“Sebelum Jalan Merdeka dan Alun-alun jadi bersih, kami membereskan PKL di Jalan Merdeka yang menutup badan jalan. PKL di Alun-alun serta di depan masjid menjadi transaksi prostitusi alias jual beli nafsu. Begitu pun Jalan Dalem Kaum, semua itu proses bertaruh nyawa. Sempat beberapa kali terjadi kerusuhan,” kata Ketua Tarung Derajat Kota Bandung itu.

Ferdi juga orang di balik hadirnya taman kota yang sebelumnya adalah SPBU. Tengok saja taman di Sukajadi, Cikapayang, Ahmad Yani, dan Taman Cibeunying. Kini kehadiran taman tersebut menjadi arena hiburan warga untuk bermain dan berinteraksi.

Pada 2013, Ferdi diberi amanah menjadi Kepala Diskar PB. Uniknya, saat seremonial penyambutan berlangsung, Ketua 1 Asosiasi Pemadam Kebakaran Indonesia ini disambut pula oleh meledaknya gardu listrik di Mohamad Toha. Kemudian Pabrik Kahatex dilalap si jago merah, kebakaran di Sadakeling, serta kebakaran gedung Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya tepat di belakang Kantor Diskar PB.

“Saya mensyukuri betul tugas saat ini. Karena tugasnya pelayanan masyarakat, menolong orang dan binatang dengan segala risiko yang ada,” ungkapnya.

Bagi Ferdi, manusia tidak bisa hidup sendiri. Butuh berbagi kasih dan semangat sosial kepada yang lain. Tugas penyelamatan dan penertiban yang telah ditempuh puluhan tahun ini membawanya menjadi manusia yang dilahirkan untuk hidup setelah mati. Dia akan dikenang untuk menolong masyarakat yang pernah ditimpa bencana.

Segala kejadian pun membuat bapak dari tiga anak ini semakin terbuka. Persoalan sosial semacam kebakaran Gedebage yang dahsyat telah meluluhlantahkan kehidupan banyak orang. “Semua itu tidak serta-merta besok bisa berjualan lagi. Hajat hidup orang banyak hangus seketika,” kata dia.

AYO BACA : Bangun Kecintaan untuk Kereta Api Bersama Komunitas Edan Sepur

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar