Yamaha Lexi

Strategi Berebut Hati Milenial di Pilpres 2019

  Rabu, 26 September 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Pengamat Politik, Deni Nurdyana Hadimin. (ayobandung.com/Eneng Reni)

AYO BACA : Hoaks Merajalela Jelang Pilpres, Siapa Memancing di Air Keruh?

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Kaum milenial diperkirakan akan berpengaruh besar terhadap hasil Pilpres 2019. Ceruk milenial ini dianggap akan memberikan keuntungan tersendiri bagi kubu yang berhasil menguasainya. Pilpres 2019 yang notabene menjadi panggung pemilih milenial pun menunjukkan signifikansinya dalam politik elektoral Indonesia. Mereka akan diuji, apakah preferensi politiknya sesuai dengan idealisme atau terjebak dalam kungkungan pragmatisme.

Proporsi milenial yang cukup besar, sekitar 37% dari seluruh pemilih di Indonesia adalah lahan menggiurkan bagi kandidat untuk menarik simpati dan mendulang suara. Tak ditampik, Pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun beradu strategi untuk menggaet suara dari generasi kelahiran 1980-an dan 2000-an pada Pilpres 2019.

Besarnya kuantitas dari pemilih milenial disadari betul oleh masing-masing kandidat. Sehingga kubu Probowo-Sandi dan Jokowi-Ma'ruf saling klaim bahwa pihaknya akan melakukan strategi yang sesuai dengan selera pemilih milenial.

Di kubu petahana misalnya, gaya Joko Widodo disebut mencerminkan generasi milenial. Ia gemar memakai sneaker dan membikin vlog style dan aktivitas yang sangat intim dengan generasi milenial. Sementara di kubu oposisi, yang dianggap merepresentasikan kaum milenial adalah Sandiaga Uno. Dengan style-nya yang serba kekinian, ia dianggap sebagai sosok yang mampu menggaet pemilih milenial.

Namun, yang perlu dipahami di sini bahwa karakter generasi milenial ialah melek informasi. Hidup mereka banyak dicurahkan untuk berselancar di dunia maya. Mereka terkoneksi satu sama lain melalui media sosial. Inilah titik pembeda antara generasi milenial (17-35 tahun) dengan generasi X (36-55 tahun), serta generasi baby boomers (55 tahun ke atas).

Pengamat Politik, Deni Nurdyana Hadimin pun mengakatakan jumlah pemilih Pemilu 2019 dari kalangan milenial sekitar 37%. Mereka adalah pemilih pemula yang berusia 17-21 tahun.

"Rata-rata, survei di Indonesia sekarang, 37% pemilih itu adalah pemilih pemula untuk Pilpres. Ini jadi sasaran empuk. Yang baru lulus SMA, kelas tiga SMA, atau yang belum pernah punya pengalaman nyoblos," ungkap Deni saat ditemui Kota Bandung, Rabu (26/9/2018).

Generasi ini pun yang dikenal memiliki sifat kreatif, percaya diri, tidak loyal serta tidak ingin menjadi objek politik. Singkatnya, generasi milenial ini bukan tipe yang mau diatur. "Mereka juga sangat melek teknologi. Dan biasanya mereka  punya media sosial, baik itu instagram, Facebook, ataupun twitter," sambungnya.

Berdasarkan beberapa penelitian, Deni menyampaikan, pemenang kontestasi diprediksi merupakan pihak yang rata-rata bisa mengendalikan dan meraup suara milenial. Deni mencontohkan, pada saat Ridwan Kamil saat menjadi Wali Kota Bandung, 22% suara pemula jatuhnya pada pasangan Rido (Ridwan-Oded). Teranyar, di kontestasi Pilgub Jabar, Ridwan kamil mendapatkan 19,7% sebagai pasangan Rindu (Ridwan Kamil-Uu).

"Rata-rata yang bisa mengedalikan milenial itu biasanya pemenangnya. makanya di Pilpres ada stateginya juga, lemah dari segi milenialnya, ambil saja tim milenialnya dari figur muda yang kaya raya. Ada juga stategi yang calon presiden menggait ulama supaya tidak diserang oleh kaum fanatik. Itu bagian dari stategi, tapi bener gak? Sah. Kalau bicara stategi mah wajar-wajar saja, boleh. Yang gak boleh itu menghujat dan saling menjatuhkan," paparnya.

Namun, di sisi lain memandang hausnya informasi politik bagi para pemilih milenial, diakui Deni, kelemahan Indonesia saat ini terletak pasa regulasi media sosial yang belum jelas. Kampanye di media penyiaran layaknya TV dan radio sudah jelas diatur dengan UU penyiarannya. Termasuk untuk media arus utama telah terdapat UU Dewan Pers. Namun, berbicara kampanye media sosial yang lekat dengan milenial, hal ini belum diatur secara gamblang.

"Maksud saya, ini akan dijadikan lahan kampanye gratis. Saya melihat dalam stategi ini tim politik pun punya media kampanyenya. Mereka akan merekrut banyak relawan yang akan 'bermain' di media sosial. Dan ingat, di Jabar pernah terjadi di tim Ridwan Kamil dan pasangan Asyik. Mereka punya tim media yang memang target sasarannya generasi milenial," papar pria yang juga Dirut PD Kebersihan Kota Bandung itu.

Istilah tim yang Deni maksud ini lebih identik dengan sebutan buzzer. Deni mengatakan, suhu politik Pilpres 2019 sudah mulai menghangat dengan pemberitaan kontestasi di berbagai media massa, dan media sosial. Sehingga untuk menghindarinya, dibutuhkan langkah-langkah antisipasi dari penyelenggara Pilkada agar tak berefek negatif dengan penggunaan media sosial yang masif, cepat, dan tak terkendali.

"Kadang media sosial juga sekarang pengarahannya lewat mesin-mesin robotik. Misalnya twitter. Itu jangan langsung dipercaya, kadang itu ulah robotik termasuk di FB, Instagram, itu ada orang yang memainkannya. Contoh, ketika kasus 212 booming di Jakarta, harga platan robotik itu bisa miliaran rupiah karena dikendalikan mesin," ungkap Deni.

Deni mengkhawatirkan, kondisi serupa kembali terjadi di kontestasi Pilpres 2019. Pemilih milenial yang dominan masih abu-abu dalam menentukan figur bakal menjadi sasaran empuk peredaran infomasi.

"Bayangkan kalau itu dilakukan di twitter, di lini semodel ini bisa ratusan juga muter isu. Artinya pemilih milenial sekarang adalah pemilih sasaran yang empuk, karena biasanya pemilih tua sudah punya calon. Sedangkan pemilih milenial itu biasanya masih abu-abu," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar