Yamaha Aerox

Hoaks Merajalela Jelang Pilpres, Siapa Memancing di Air Keruh?

  Rabu, 26 September 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Pengamat Politik, Deni Nurdyana Hadimin
AYO BACA : Aher Nyatakan Siap Maju di Pilpres 2019

AYO BACA : DPRD Jabar Dukung Deklarasi Damai Pileg dan Pilpres 2019

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Penyebaran informasi bohong atau hoaks di jejaring media sosial akan terus meningkat pada momen tahun politik 2019.
 
Pengamat Politik Deni Nurdyana Hadimin menilai penyebaran sebagian hoaks sengaja digulirkan guna mengambil simpati suara masyarakat.
 
"Hoaks ini diamati terjadi lima tahun terakhir. Dulu, mohon maaf, waktu Pilpres Gusdur, SBY, relatif tidak pernah ada yang namanya hoaks. Kalau ada berita paling tentang parlemen dan sebagainya," ungkap Deni saat ditemui di Kota Bandung, Rabu (26/9/2018).
 
Sederhananya, bila dibandingkan Pilpres Amerika Serikat 2016, yang diwarnai persaingan sengit Donald Trump dan Hillary Clinton, adalah "musim semi" bagi ujaran kebencian dan hoaks yang membuat Negeri Paman Sam "terbelah". Jangan sampai hal serupa terjadi di Indonesia tahun depan. 
 
Kesatuan bangsa lebih penting dari hasrat berkuasa segelintir manusia. Namun sayangnya, baru beberapa hari kampanye berlangsung, berdasarkan catatan Polri ada 3.500 berita hoaks yang tersebar setiap harinya di media sosial, terutama soal pilpres dan pileg. 
 
Dari sisi komunikasi politik, tim pemilu tersebut sengaja membentuk tim buzzer untuk membuat isu politik.
 
"Kita lihat saja dari Pilgub Jabar, ada kemarin pasangan yang beredar hoaks soal klenik, syirik, atau menyembelih ayam di laut. Atau misalnya terhadap Ridwan Kamil soal berita LGBT, syiah, atau pun hoaks untuk tim yang lain. Saya tahu persis, itu sengaja diciptakan oleh orang-orang yang memang fanatismenya tinggi di grass root," katanya.
 
Di sisi lain kondisi tersebut tidak terjadi di jajaran pimpinan yang berkontestasi. "Kalau pimpinannya saya jamin tidak lah. Saya tahu persis pimpinannya itu mereka baik-baik," katanya.
 
Namun, kata dia, masyarakat harus lebih jeli menyaring informasi. Apalagi sejak momentum deklarasi damai sebagai awal kampanye yang dilangsungkan KPU untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno pada Minggu (23/9/2018), prediksi ujaran kebencian atau hoaks akan santer terfokus pada pilpres.
 
"Kalau pileg saya rasa enggak terlalu. Di pileg akan sibuk mem-branding partainya dan dapilnya masing-masing, relatif terlupakan," katanya.

AYO BACA : Ini Klarifikasi Emil Soal Hebohnya Dukung Jokowi di Pilpres 2019

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar