Yamaha Mio S

Global Land Forum Tuntut Hak Atas Tanah

  Senin, 24 September 2018   Fathia Uqimul Haq
Sebanyak 800 organisasi masyarakat sipil, organisasi rakyat, organisasi pembangunan internasional, badan-badan PBB, akademisi, hingga lembaga pemerintahan bertemu di Gedung Merdeka, Bandung dalam perhelatan Global Land Forum (GLF) ke-8, Senin (24/9/2018). (ayobandung.com/Fathia)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Sebanyak 800 organisasi masyarakat sipil, organisasi rakyat, organisasi pembangunan internasional, badan-badan PBB, akademisi, hingga lembaga pemerintahan bertemu di Gedung Merdeka, Bandung dalam perhelatan Global Land Forum (GLF) ke-8, Senin (24/9/2018).

Mereka menuntut pemenuhan hak atas tanah bagi rakyat, khususnya petani kecil, tunawisma, nelayan miskin, perempuan, dan masyarakat adat.

AYO BACA : Kang Uu Diminta Jihad Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Ketua Panitia Nasional GLF, Dewi Kartika mengatakan, semua negara masih memiliki persoalan perampasan tanah dan sumber daya alam yang merupakan simbol kapitalisme dan kolonialisme meski telah merdeka. Praktik perampasan tanah seringkali diikuti oleh tindakan kekerasan dan pembunuhan terhadap masyarakat yang berusaha mempertahankan tanah mereka.

"Sedikitnya 197 pemimpin organisasi, aktivis, dan jurnalis pejuang hak atas tanah telah terbunuh dalam kurun waktu 2017. Berlanjut di tahun 2018 tercatat 66 orang telah terbunuh. Saat ini mereka masih rentan intimidasi, kriminalisasi, bahkan ancaman pembunuhan," katanya.

AYO BACA : Jangan Keluarkan Kebijakan yang Merugikan Petani

Petani, nelayan, masyarakat adat, dan perempuan semakin terpuruk akibat situasi tersebut. Kontrol atas tanah sebagai sumber pangan dan kehidupan menjadi hilang sehingga mereka menjadi miskin dan kelaparan.

Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) 2017 memperkirakan angka kelaparan dan kekurangan gizi meningkat dari 777 juta pada 2015 menjadi 815 juta pada 2016.

"Masyarakat adat dan komunitas lokal melindungi separuh lahan dunia, tapi hanya 10 persen yang diakui. Situasi tersebut mengakibatkan perampasan tanah menjadi tantangan besar. Di banyak negara mereka berjuang membela hak tanah dan mempertaruhkan nyawa," jelas Dewi.

Indonesia dipilih sebagai tuan rumah penyelenggara GLF oleh Dewan Global International Land Coalition (ILC) karena beberapa hal, antara lain dari sisi kemajuan gerakan sosial yang memperjuangkan hak atas tanah, dan kemauan politik pemerintah mendorong proses-proses pengakuan hak atas tanah melalui kebijakan reforma agraria dan penyelesaian konflik.

GLF diikuti oleh 558 delegasi dari Afrika, Eropa, Timur Tengah, Asia,  dan  600 peserta nasional. Perhelatan ini diharapkan dapat membawa semangat Bandung dan komunitas global untuk mengusahakan yang terbaik bagi pertanian dan pertanahan di Hari Tani Nasional ini.

AYO BACA : Pasar Tani

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar