Yamaha Aerox

Saatnya Suporter Jadi Agen Perubahan Demi Masa Depan Sepakbola

  Sabtu, 15 September 2018   Anggun Nindita Kenanga Putri
Sejumlah bobotoh menghadiri diskusi Sepakbola Bebaskeun, Sabtu (15/9/2018). (Anggun/ayobandung)

DIPATI UKUR, AYOBANDUNG.COM -- Persib akan kembali menghadapi tim yang terkenal menjadi musuh bebuyutannya, Persija Jakarta, pada Minggu (23/9/2018) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Rivalitas tidak hanya terjadi di lapangan selama 90 menit saja. Kedua suporter tim, yakni Bobotoh dan The Jakmania pun sudah terkenal saling berseberangan.

Beberapa kali pertandingan yang mempertemukan kedua tim ini, suporter dari salah satu tim dilarang hadir. Biasanya hanya suporter tuan rumah yang boleh menginjakkan kaki ke stadion. Sedangkan suporter tim lawan harus gigit jari karena tidak bisa menyaksikan secara langsung jalannya pertandingan.

Hal tersebut terakhir terjadi pada saat Persija menjamu Persib di Stadion PTIK, 30 Juni 2018. Saat itu bobotoh tidak diperkenankan hadir dengan alasan keamanan.

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unjani, sekaligus pengamat sepakbola, Arlan Sidha, kebiasaan seperti ini justru dapat menimbulkan dampak yang lebih berbahaya.

Budaya melarang suatu kelompok suporter untuk menghadiri suatu pertandingan, akan membuat kemungkinan kelompok tersebut melakukan tindakan di luar dugaan. Hal tersebut bisa saja terjadi karena besarnya rasa penasaran yang terpendam akibat larangan untuk datang langsung ke lapangan. Sehingga perilaku para suporter menjadi kian agresif.

AYO BACA : Jelang Malam Jumat, Bobotoh Tampilan Koreo Pennywise

Salah satu contohnya adalah banyaknya suporter yang menyusup dan akhirnya tertangkap tangan oleh suporter tim lawan. Tindakan kekerasan akhirnya muncul, suporter yang terciduk biasanya dipukuli. Bahkan sampai memakan korban, contohnya seorang bobotoh bernama Ricko Andrean, yang harus tewas di tangan oknum suporter. Terjadi kesalahpahaman sehingga Ricko dikira sebagai seorang The Jakmania.

Peran pihak kepolisian pun menjadi dipertanyakan. Karena seringkali pihak kepolisian tidak memberikan izin kepada suatu kelompok suporter untuk tidak hadir ke lapangan. Alasannya apalagi kalau bukan karena masalah keamanan?

“Kalau saja polisi mau memfasilitasi kedua belah pihak suporter. Tentu saja kejadian yang tidak diinginkan pun bisa diminimalisir,” katanya saat acara diskusi Sepak Bola Bebaskeun, Sabtu (15/9/2018).

Sudah saatnya pihak kepolisian maupun manajemen membuka koordinasi kepada perwakilan suporter untuk saling bersatu.

Arlan menyatakan, suporter tidak hanya berperan untuk mendukung tim kesayangannya saja. Lebih dari itu, sekarang suporter harus menjadi agen perubahan. Sepakbola akan maju jika tindakan suporter sudah mencerminkan sportifitas dan menunjukkan rasa cinta damai.

AYO BACA : Lima Suporter Sepak Bola Paling Menakutkan di Dunia

“Peran suporter bukan hanya datang ke lapangan untuk menonton. Tapi suporter itu nantinya harus memiliki suatu ide dan suatu inovasi. Sehingga di masa depan, kebijakan itu tidak hanya dari manajemen tapi juga ada andil suporter,” ungkapnya.

Maka dari itu, dia berpesan agar para suporter bisa memiliki karakter yang kuat, disertai dengan perilaku yang santun. Jika hal tersebut sudah dijalankan, maka tidak akan ada lagi kejadian suporter yang saling berseteru di lapangan maupun di sosial media.

“Kita memang tidak bisa menyampingkan kemajuan teknologi. Budaya kritik datang dari pihak suporter yang merasa memiliki timnya. Tapi loyalitas bukan dengan cara seperti itu. Berperilaku lah yang santun. Gunakan sosial media dengan bijak tanpa harus menyerang suporter lainnya,” tuturnya.

Namun melihat dari beberapa waktu belakangan, bobotoh sudah menunjukkan suatu langkah perubahan yang dapat menginspirasi komunitas suporter lainnya, yakni dengan berkreasi di dalam lapangan.

Contohnya saat pertandingan Persib melawan Arema FC, Kamis (13/9/2018). Sebagaimana diketahui, dalam pertemuan sebelumnya di Malang, suporter Arema FC, Aremania membikin kericuhan karena tim kesayangannya tidak dapat menunjukkan permainan yang baik.

Bobotoh tidak melakukan hal yang sama, melainkan menunjukkan suatu karya koreo 3D yang bahkan sampai diakui ke dunia internasional. Koreo yang mengangkat konsep Pennywise dari film It itu pun menuai banyak pujian.

Hal seperti ini sudah banyak ditemui di tim-tim besar Eropa dari beberapa tahun lalu. Tak hanya bobotoh, beberapa komunitas suporter lain, seperti Bonek, Aremania, The Jakmania, dan Smeck Kampak sudah menunjukkan hal serupa. “Perang” koreo ini dianggap Arlan sebagai persaingan yang lebih sehat dibandingkan harus terus ribut usai pertandingan.

“Suporter itu seharusnya mengedukasi orang-orang yang tidak mengerti sepakbola. Jadi suporter tak hanya mendukung timnya saja. Justru kekompakan, kreatifitas, dan motivasi dari suporter ini lah yang lebih dibutuhkan,” tuturnya.

AYO BACA : Keren, Bule Asal Inggris Ini Puji Koreo Pennywise Bikinan Bobotoh

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar