Yamaha Lexi

Mengapa Anak Indonesia Malu Bicara di depan Umum?

  Sabtu, 15 September 2018   Fathia Uqimul Haq
Pakar Public Speaking, Charles Bonar Sirait usai peluncuran buku The Power of Public Speaking, Sabtu (15/9/2018). (Fathia/ayobandung)

AYO BACA : 10 Alasan Anak Telat Bisa Berbicara

AYO BACA : Gomez Enggan Bicara Lagi Soal Wasit dan PSSI. Ada Apa?

DAGO,AYOBANDUNG.COM -- Banyak anak Indonesia malu untuk berbicara di depan. Ketika disuruh bertanya, sejumlah murid terkadang tidak ingin mengangkat tangan atau berani ke depan kelas untuk mengungkapkan pendapatnya. 

Hal ini disebabkan pendidikan Indonesia yang turut berperan atas ketidakmampuan murid berbicara. Sejak SD sampai SMA, pendidik tidak banyak memberikan ruang untuk murid tampil ke depan. Lantaran pengajaran hanya dari satu arah membuat murid semakin tidak dilatih berbicara di depan teman-temannya. 

Pakar Public Speaking, Charles Bonar Sirait mengatakan sebaiknya guru memulai untuk memberikan ruang yang besar bagi murid-muridnya untuk tampil. Baik memberikan pendapat, presentasi, atau penampilan yang melatih murid percaya diri. "Guru harus memberikan evaluasi setelahnya," kata Charles, Sabtu (15/9/2018).

Dia berpendapat, murid-murid di Indonesia semakin tidak ingin maju dan berbicara ke depan lantaran adanya justifikasi dari berbagai pihak. Keadaan takut salah ditekan dari berbagai arah padahal proses belajar tidak selamanya benar. Ada kritik dan saran yang mesti diterima supaya murid bisa berkembang. 

Warga Indonesia juga belum banyak yang terbuka soal menerima kritik. Kebanyakan, istilah haters atau pembenci yang tengah ada saat ini membuat orang semakin takut untuk maju dan tampil di tengah masyarakat. "Kalau ada masukan, terbukalah. Jangan takut untuk memberi saran dan menerima saran orang lain," ujarnya. 

Sementara itu, ledakan informasi membuat generasi milenial lebih senang dikenal publik. Satu sisi, keinginan untuk tampil dan terkenal menjadi hal yang positif. Namun, tidak sedikit mereka dengan keeksisannya membuat hal yang negatif dan ditiru sejuta umat manusia. 

"Keadaan ini ada di generasi milenial. Pertimbangannya adalah hadirnya hp membuat mereka ingin narsis. Kebutuhan untuk mengeksiskan dirinya terjadi lantaran ada handphone. Kalau enggak ada hape rasanya enggak bisa apa-apa," jelas Charles.

Milenial lahir dan dibesarkan bersama ponsel pintar.  Ketiadaan pulsa dan wifi seakan mereka tak bisa hidup. "Eksistensi di media sosial setidaknya membawa kepercayaan diri seseorang bisa meningkat. Hadirnya youtube atau instagram menjadi ruang bagi mereka yang biasanya tidak mampu berbicara bisa jadi ruang latihan. Hadirnya sosial media sedikit banyak membawa kebermanfaatan dan kesia-siaan bagi yang tidak mampu menggunakannya," pungkasnya.

 

AYO BACA : Jabar Raih Penghargaan Platinum, Emil Dedikasikan untuk Aher dan Demiz

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar