Yamaha NMax

Wiro Sableng “Si Anak Baru” dan Potensi Tokoh yang Tak Terduga

  Rabu, 12 September 2018   
Tokoh Wiro Sableng.(Youtube)

Wiro bukanlah Naruto, bukan Batman, bukan pula Boboho yang bulat dan lucu itu. Wiro adalah Wiro; “anak baru” di jagat persilatan yang patuh kepada Sinto Gendeng, gurunya. Kurang lebih itulah yang ditunjukkan dalam sekuel pertama film “Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212”.

Sinto Gendeng (Ruth Marini) menitah Wiro Sableng (Vino G. Bastian) untuk meringkus Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan). Mahesa adalah mantan murid Sinto yang berkhianat karena melanggar ajaran yang diberikan kepadanya.

Di perjalanan, Wiro malah terlibat pertempuran dengan komplotan yang akan meringkus anak dari Raja Kamandaka. Pertemuan dan pertempuran ini ternyata beririsan dan membawa Wiro kepada sosok yang akan diringkusnya, yang juga telah membunuh kedua orang tuanya.

Sebuah film, terlepas hasil kerja sama dengan studio hollywood atau bukan, haruslah menyajikan karya terbaiknya. Meski begitu, kerja sama antara rumah produksi Indonesia dengan rumah produksi hollywood bisa menjadi salah satu cara agar film Indonesia dilihat dunia, bukan lagi dilirik.

Tentu itu hanya salah satu cara yang bisa dilakukan. Sebelumnya, banyak film Indonesia yang ikut berbagai festival bergengsi di luar negeri. Hasilnya sangat membanggakan. Terbaru, film “Kucumbu Tubuh Indahku” garapan sutradara Garin Nugroho dan produser Ifa Ifansyah mendapatkan enam nomine di Venice Film Festival Awards, Italia. Selain itu, film “Kado (A Gift)” karya sutradara Aditya Ahmad memenangi kategori film pendek di festival tersebut.

Hal tersebut membuktikan rumah produksi film Indonesia juga mampu bersaing di Eropa, bahkan dunia. Terutama tema-tema lokal yang ditawarkan.

Terkait kerja sama rumah produksi 20th Fox Century dengan Lifelike Pictures yang menggarap film Wiro Sableng, akan ditemukan teknik CGI, pencahayaan, dan pengambilan gambar yang rapi seperti film-film Hollywood.

Dari segi kostum, make up, properti, dan musik yang disajikan pun “khas Hollywood”. Keempat segi tersebut lebih menonjolkan sisi artistik daripada kesan lawas, meskipun tidak meninggalkan kesan lawas itu sendiri. Misalnya, sekilas, pada beberapa adegan, kita akan terasa film ini seperti “King Arthur: Legend of Sword” yang digarap sutradara Guy Ritchie. Musik perkusi dan penyerangan kolosal saat malam hari menguatkan kesan tersebut. Meski begitu, kekhasan keduanya sangatlah berbeda.

AYO BACA : Cetak Generasi Literatur ala SMP Laboratorium UPI Kampus Cibiru

Menariknya, di film yang menghadirkan banyak sekali tokoh ini, baik aktor lama maupun pendatang, aktingnya perlu diapresiasi lebih.

Secara umum, akting yang diperankan setiap tokoh berhasil, meski adapula aktor yang dari dialog dan gerak tubuh masih kurang.

Sebut saja aktris muda Ruth Marini yang memerankan Sinto Gendeng. Kualitas peniruan suara, gestur, dibantu make up yang identik, menjadikan peran Sinto Gendeng begitu hidup.

Adapula Aghniny Haque yang memerankan Raramurni. Kecantikan dan kemampuan bela dirinya cukup menyorot perhatian. Padahal ini adalah peran pertamanya di layar lebar.

Akting Lukman Sardi pun berhasil menyembunyikan kejahatan di balik kepatuhannya. Dengan gestur, suara, dan kepala pelontosnya, karakter yang dibawakannya berhasil melanjutkan jalan cerita yang terbilang kurang secara dinamika.

Ada juga akting dari Marcella Zalianty yang sepanjang film hanya mengutarakan dialog yang kurang dari sepuluh kali (jika tidak salah). Namun, dengan raut muka, sikap duduk, dan embusan napasnya sudah cukup menunjukkan segala isi hatinya.

Namun, akting dari Wiro sendiri yang sableng dalam artian “agak gila” cukup bisa diwakilkan oleh akting Vino. Hal ini karena beberapa dialog terdengar “kurang renyah”. Padahal jika berhasil “dikunyah”, lontaran-lontarannya akan “sangat pecah”.

Bisa dibilang, sikap dan lisan dari Wiro yang kurang renyah itu masuk akal bila mengingat bahwa Wiro hanya tinggal berdua dengan Sinto selama 17 tahun di hutan. Alhasil, lelucon-leluconnya pun sudah tentu datang dari Sinto. Oleh karenanya, ketika dia masuk ke lingkungan baru, lontaran kata-kata lucunya membuat kita tertawa, dan kadang kita menertawakan “kegaringan” yang dilontarkannya.

AYO BACA : Metode Sugestopedia Membentuk Pribadi Berbudi Luhur

Ditambah, jika ini sekuel pertama, maka kemungkinan besar, karakter Wiro di sekuel-sekuel selanjutnya akan lebih berkembang.

Dari segi pertarungan, film ini menunjukkan variasi-variasi teknik silat yang jarang bahkan mungkin belum ditunjukkan dalam film Indonesia sebelumnya—sejauh yang penulis tahu.

Sayangnya, aktor-aktor yang terlampau banyak dari pihak komplotan (hitam) dan pihak Wiro Sableng (putih) belum tergali secara kisah. Padahal setiap pendekar memiliki kekuatan yang identik. Namun, lagi-lagi, durasi film membatasinya. Berbeda seperti Naruto yang mengisahkan Akatsuki, misalnya. Di film ini, tokoh-tokoh muncul di tengah, lalu mati menjelang akhir. Terlalu cepat dan sempit.

Secara umum, sampai akhir film, tokoh yang dihadirkan sangat spesifik dan cukup mewakili peran dan tujuannya masing-masing—meski durasi tampilnya terjepit.

Yang mengejutkan justru hadir ketika Gunawan Maryanto yang memerankan Muka Bangkai, tiba-tiba muncul setelah credit film.

Dengan suara serak, muka pucat, dan rambut putih panjang, ia berkata di tengah remang-remang kepada seorang lelaki (Abimana Aryasatya), “Namamu Pangeran Anom kuganti menjadi Pangeran Matahari dari Puncak Merapi. Kau dengar itu?! Namamu sekarang adalah Pangeran Matahari!”

Kemunculannya—yang hanya beberapa detik—di akhir film menjadikan film ini lebih berarti. Terlebih kesan Muka Bangkai yang lebih kuat dan berpengalaman dari Mahesa Birawa menjadi tantangan baru bagi Wiro sebagai “anak baru” jagat persilatan yang telah mengalahkan Mahesa Biarawa.

Selain itu, “kejutan” ini menyelamatkan dinamika film yang dari awal sampai akhir terbilang lamban.

Penulis: S. Inayati

AYO BACA : Resmikan Kantor Baru, Ayo Media Network Deklarasikan Kickout Hoax

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar