Yamaha Lexi

Menjadi Diri Sendiri Lewat Makanan ala Gang Nikmat

  Senin, 10 September 2018   Fathia Uqimul Haq
Instagram gang nikmat (@gg.nikmat)

JALAN RIAU, AYOBANDUNG.COM--Di kalangan pebisnis kuliner, masyarakat Kota Bandung kerap dinilai sebagai publik yang susah dipuaskan; enggan merogoh kocek lebih untuk makanan enak, dan senang memburu kafe ‘kekinian’ dengan sudut foto unik.

Hal tersebut setidaknya dirasakan oleh Sandi Yudha (27), pemilik kedai makan Gang Nikmat yang terletak di kawasan Jalan RE Martadinata atau Riau, Bandung.

“Saya lama tinggal di Bandung, dan orang Bandung susah dikasih (makanan) mahal dan tempat jelek,” jelasnya kepada ayobandung.com, Sabtu (8/9/2018).

Sepengamatannya, tren kuliner Bandung pun biasanya berkutat dengan sesuatu yang tengah tren dan viral. Bila ada satu jenis makanan yang mendadak digandrungi warga, maka pebisnis lainnya pun ikut membuat hal serupa.

“Saat ini orang gampang banget bikin produk, dengan adanya sosial media, jadi banyak yang copycat (menu makanan). Gang Nikmat pun tidak original, tapi juga tidak ‘plek-plek’ meniru seratus persen,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, tren kuliner yang tengah berkembang saat ini adalah makanan serba-mozarella dan ayam berbumbu ikan asin.

“Semua orang bikin salted egg chicken, tapi sebenarnya (menu tersebut) nggak hanya bisa dibuat seperti itu saja,” jelasnya.

Untuk itu, ia memiliki keinginan untuk memberi warna pada dunia kuliner Bandung. Ia ingin menyuguhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tren, yakni konsistensi untuk menghadirkan yang terbaik, baik dari bahan-bahan makanan yang digunakan maupun eksplorasi menu itu sendiri.

Sejauh ini, menu makanan yang tersedia di Gang Nikmat baru empat jenis. Namun, keempatnya merupakan hasil eksplorasi dirinya di dapur.

“Makanan di Bandung biasanya ada rasa gurih-pedasnya, ada manis-manisnya, ya acuannya itu saja. Saya ingin menjadi diri sendiri lewat makanan. Ini menu saya, meskipun tidak semahal yang lain, tapi ini menu saya sendiri,” ungkapnya.

Berusaha apa adanya
Ia dan seorang temannya mendirikan Gang Nikmat empat bulan lalu. Di usianya yang terbilang masih bayi ini, mereka memilih untuk tidak berupaya memasarkan usahanya besar-besaran.

Modal untuk memublikasikan kedainya hanyalah Instagram. Bahkan, tidak ada neon sign di depan lokasi. Ia ingin para pelanggan benar-benar datang karena makanannya.

“Saya pengen memaksa diri sendiri, apakah mereka akan datang lagi tanpa saya bayar,” ungkapnya.

Ia mendambakan proses berkembang yang organik, tak sekadar viral kemudian hilang.

“Poinnya bukan hanya itu, bukan hanya tempat yang bagus dan  makanan viral. Ya kalau viral almhamdulillah, tapi saya ingin se-natural mungkin,” jelasnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar