Yamaha NMax

Adakah “Harry Potter” di Indonesia?

  Rabu, 05 September 2018   
Ilustrasi Harry Potter.(The Atlantic)

Siapa yang tidak mengenal seri Harry Potter? Novel fantasi karya J.K. Rowling ini sempat mewabah di Indonesia tahun 2000-an dan disebut-sebut sebagai buku dengan penjualan paling laris dalam sejarah. Setelah kisah petualangan Harry di negeri sihir sukses, kisah-kisah fantasi lain pun mengikuti.

Selama 15 tahun belakangan, banyak novel fiksi fantasi dari luar negeri bermunculan; mulai dari Twilight (2008), The Hunger Games (2010), hingga seri Mortal Instruments (2014) karya Cassandra Clare.

Fiksi fantasi tak pernah sepi peminat. Di Indonesia genre ini cukup banyak digemari. Namun sayang, masih jarang sekali penulis tanah air yang berani membuat karya dengan genre ini.

Fiksi fantasi pada dasarnya adalah genre berunsur magis dan supernatural, tokoh cerita berkecimpung di dunia yang kelihatannya serba surealis, namun sebenarnya sangat logis.

Genre fiksi fantasi sudah ada sejak pertengahan abad 18. Era fiksi fantasi dimulai ketika Charles Dickens, penulis asal Inggris, memperkenalkan buku A Christmas Carol (1843). Dari sana, karya sastra fiksi fantasi mulai bermunculan, sampai-sampai penulis sekelas Edgar Allan Poe dan Oscar Wilde pun turut menyumbangkan karya bergenre fantasi ini. Bahkan, Wilde juga menulis banyak cerita kumpulan fantasi anak dalam The Happy Prince and Other Stories (1888) dan A House of Pomegranates (1891).

Pada akhir abad 19, genre modern fantasi mulai menunjukkan taringnya. Modern fantasi biasanya bercerita mengenai dunia antah-berantah yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata yang kita tinggali. Para penulis genre tersebut seperti George McDonald dengan novel The Princess and the Goblin dan William Morris (The Well at the World's End).

Berkat kepopuleran McDonald dan Morris saat itu, pada awal abad 20 genre fiksi fantasi mencapai puncaknya dan mulai banyak dikenal publik seperti Alice in Wonderland (Lewis Carroll), Peter Pan (J.M. Barrie), The Wonderful Wizard of Oz (Frank Baum), dan seri The Hobit dan The Lord of the Rings (J. R. R Tolkien).

Sejarah perkembangan fiksi fantasi di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak 1970. Fiksi ilmiah di Indonesia dipelopori Djokolelono dengan novel Jatuh ke Matahari. Materi dari kisahnya dianggap jauh melebihi zaman novel itu dibuat. Setelah sukses dengan novel pertamanya, Djoko menulis sekuelnya yang berjudul Bintang Hitam (1976), dilanjutkan dengan novel berseri Penjelajah Antariksa (1985-1986).

Namun, fiksi fantasi baru benar-benar menggema di tanah air setelah kisah Harry Potter dan The Lord of the Rings diadaptasi menjadi film. Itu berarti, kita baru mengenal genre ini sekira 15 tahun saja. Sungguh waktu yang sangat singkat jika dibandingkan perkembangan fiksi fantasi di luar negeri yang telah mencapai waktu lebih dari dua abad.

Usia perkembangan fiksi fantasi yang terbilang sangat muda ini bisa jadi merupakan salah satu faktor lambannya perkembangan fiksi fantasi di Indonesia. Sehingga sampai saat ini, masih belum ada tulisan sastra bergenre fantasi hasil karya anak bangsa yang benar-benar dikenal masyarakat dan mampu memberi sumbangsih bagi kesusastraan Indonesia.

Faktor lain yang memengaruhi lambannya perkembangan fiksi fantasi di Indonesia adalah masih sedikit sekali penulis yang tertarik menerbitkan karyanya dengan tema fantasi. Dalam kurun waktu lima belas tahun, novel fiksi fantasi karya anak bangsa tercatat hanya ±200 buku saja (sumber: Goodreads). Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan novel bergenre roman dan sebagainya. Novel fantasi saat ini masih didominasi novel-novel terjemahan.

Kondisi tersebut tentulah mengkhawatirkan. Gempuran novel-novel seperti ini akan menghambat perkembangan para penulis fiksi fantasi dari Indonesia.

Mengerjakan tulisan bergenre fiksi fantasi tentulah memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri, terutama dengan latar budaya Indonesia. Untuk menguatkan kesan fantasi, penulis mau tidak mau harus banyak membaca litelatur dan kebudayaan agar isi cerita dapat dibangun dengan baik dan sesuai “rasa Indonesia”, sehingga meskipun isi dirasa surealis ceritanya masih tetap logis.

Namun, penceritaan juga tetap harus diperhatikan. Banyak penulis Indonesia yang masih salah mendefinisikan fantasi sebagai “apapun yang tidak bisa dinalar dengan logika”. Akibatnya, banyak fiksi fantasi “aneh” bermunculan. Kebanyakan beberapa karya fiksi fantasi Indonesia saat ini terlampau sibuk untuk membangun kesan fantasi dan kerumitan dalam jalinan cerita. Padahal yang paling esensial dan fundamental adalah penceritaan, yang sayangnya masih kerap tercecer.

Masih sedikitnya penerbit lokal yang tertarik untuk menerbitkan fiksi fantasi juga turut berperan penting dalam lambannya perkembangan fiksi fantasi di Indonesia. Para penerbit di Indonesia umumnya lebih terbuka pada genre fiksi umum tanpa embel-embel fantasi.

Dari banyaknya penerbit di Indonesia, penerbit mayor yang berani menerbitkan karya bergenre fiksi fantasi hanya beberapa saja, di antaranya Gramedia dan Mizan. Penerbit yang cukup aktif menerbitkan novel bergenre ini adalah penerbit Andhika Pustaka. Bahkan, Andhika Pustaka sempat mensponsori “Fantasy Fiesta”, sebuah ajang perlombaan menulis cerpen bergenre fantasi. Lomba ini dibuat dengan semangat untuk belajar, berinteraksi, dan berimajinasi terutama menghidupkan dunia fiksi fantasi di Indonesia.

Namun sayang, setelah rutin digelar, Fantasy Fiesta hanya bertahan 4 tahun sejak 2009.

Meski perkembangan fiksi fantasi di Indonesia masih lamban dan cenderung stagnan, namun kita harus tetap optimistis bahwa genre ini akan terus hidup dan berkembang.

Cara paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan membesarkan dan mengembangkan brand kita sendiri; mengapresiasi karya fantasi Indonesia, dan mendukung tumbuh kembangnya karya fantasi Indonesia. Semoga dengan menerapkan cara tadi, fiksi fantasi di Indonesia akan semakin berkembang dan mampu memberikan pengaruh besar bagi kesusastraan Indonesia, sehingga muncul “Harry Potter-Harry Potter” dari Indonesia yang dikenal dunia.

Penulis: Riska Andryani

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar