Yamaha Mio S

Pertempuran Bandung Utara, Peristiwa Heroik yang Terlupakan

  Rabu, 29 Agustus 2018      Netizen
Ilustrasi: Pejuang Bandung Utara pernah menyimpan senjata di Villa Isola.(Wikipedia)

Kota Bandung yang dikenal nama Parijs Van Java ini merupakan kota yang sering dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Bandung menyuguhkan destinasi wisata yang menarik seperti di kawasan Lembang yang menjadi daerah primadona untuk dikunjungi wisatawan, terutama ramai ketika akhir pekan.

Pada saat melakukan perjalanan ke Lembang, wisatawan akan melewati rute Jalan Dr. Setiabudi, Jalan Kapten Abdul Hamid, Jalan Sersan Bajuri, Jalan Sersan Surip, Jalan Sersan Sodik.

Kemudian melewati gedung Isola yang menjadi Heritage bangunan bersejarah pada masa Belanda. Di balik nama jalan dan bangunan tadi, terdapat peristiwa sejarah yang pernah terjadi sekitar tahun 1945 setelah Indonesia resmi merdeka tanggal 17 Agustus 1945, peristiwa tersebut dinamakan Pertempuran Bandung Utara.

Peritiwa tersebut memang belum banyak orang yang mengetahui karena kekurangan informasi, kemudian peristiwa tersebut kalah eksis dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Sehingga peristiwa ini tidak banyak orang yang tahu, termasuk orang Bandung sendiri.

Peristiwa pertempuran Bandung Utara ini terjadi pada masa revolusi fisik tahun 1945-1948. Peristiwa ini dimulai pada tahun tanggal 12 Oktober 1945 Tentara Sekutu yang dipimpin oleh Mc. Donald dari Divisi ke 23 datang ke Kota Bandung dengan menggunakan kereta api dengan tujuan membebaskan tentara sekutu yang ditahan pada masa penjajahan Jepang.

Kedatangan Mc. Donald bersama tentara Gurkha ini menebarkan ancaman terhadap masyarakat Kota Bandung yang baru merdeka sejak 17 Agustus 1945 (DISJARAHDAM VI/Siliwangi dalam Purwasatria, 2014). Selain kedatangan sekutu, masih terdapatnya tentara Jepang dengan menguasai beberapa tempat seperti Gudang Senjata di Kiaracondong, kemudian di Gedung PTT (Pos, Telepon, Telegraf yang sekarang menjadi Gedung Sate).

Sejak adanya tentara Sekutu dan Gurkha, serta masih eksis tentara Jepang di Kota Bandung membuat rakyat Bandung mulai melakukan perlawanan. Perlawanan ini dimulai pada tanggal 27 September 1945 terjadi pengambil alihan kekuasaan Gedung PTT oleh Angkatan Muda PTT dibawah pimpinan Sutoko dan Nawawi Alief terhadap Tentara Jepang.

Hal ini menjadi spirit bagi para pemuda dan militer di Bandung Utara untuk mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Di wilayah utara sudah terbentuk kekuatan militer yang cukup kuat dikomandoi oleh Sukanda Bratamanggala sebagai pemimpin Batalyon TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Bandung Utara.

Tentara Para Alumni pendidikan Kadet Bandung Utara itu angkatan pertamanya seperti Ano Suparno, Ateng, Hutman, Djambar Wardana, Sukandi, Tata Lukita ditugaskan oleh Sukanda Bratamanggala sebagai calon opsir di dalam pasukan tempur Batalyon TKR Bandung Utara.

Sedangkan angkatan keduanya di antaranya: Achmad Somantri, Abas Usman, Abdul Patah, Halimi Basri, Engkus Kusnadi, Jojo Soenarja, Maman Sumantri, dan Utja Soetadji ditugaskan oleh pak Kendo sebagai opsir perhubungan dengan tugas pokok menguasai kantor telepon Bandung Utara yang berada di Bojonagara.

Wilayah tersebut sudah dikuasai tentara Inggris/Gurkha sebagai tentara pendudukan pihak sekutu yang menang dalam perang Dunia II, yang sejak 12 Oktober 1945 memasuki kota Bandung dengan dalih mengurus tawanan perang (Bala Tentara Jepang). Tentara sekutu itu ternyata di Boncengi Oleh Tentara Kolonial Belanda dengan Aparat Pemerintah Sipilnya NICA (Sumantri, 1995, halaman 4-5).

Pada tanggal 10 Oktober 1945, Jepang melucuti senjata para pejuang bersenjata Indonesia, termasuk yang berada di Bandung. Namun para pejuang Bandung Utara yang bermarkas di Lembang menolak dilucuti senjatanya.

Mereka menyembunyikan senjatanya di ruang bawah tanah Villa Isola (Purwasatria, 2014). Situasi selain di wilayah Lembang pun semakin genting dengan mulai adanya pemadaman aliran listrik wilayah Bandung Utara yang lain pada tanggal 24 Nopember 1945 yang terdapat di bagian Bandung Utara dan Hotel Preanger serta Savoy Homann di bagian Selatan.

Keesokan harinya pada tanggal 25 November 1945 mulai adanya banjir yang melanda beberapa daerah seperti di Lengkong, Sasak Gantung, Banceuy, dan Balubur sehingga daerah tersebut berubah menjadi Telaga (DISJARAHDAM VI/Siliwangi. 1979:44).

Kemudian dengan kesiapannya, anggota Batalyon mulai menyerang pos-pos militer Inggris di Bandung Utara, meskipun serangan tetap dilakukan pada tanggal 24 November 1945. Walaupun serangan pejuang Bandung Utara tidak mencapai hasil yang tidak memuaskan, tapi cukup mengganggu pihak musuh (Rudini, 2012 halaman 55).

Tanggal 27 November 1945, Jenderal Mac Donald meminta Gubernur Jawa Barat Sutarjo yang kemudian diganti oleh Datuk Yamin untuk datang ke Markas Tentara Sekutu/Inggris yang terletak di Utara Kota Bandung.

Dalam pertemuan itu, Jenderal Mac Donald telah menyerahkan sebuah ultimatum yang ditujukkan kepada penduduk Bandung untuk meninggalkan Bandung Utara paling lambat tanggal 29 November 1945.

Tanggal 29 November 1945 pada pukul 12.00 secara resmi Kota Bandung dianggap terbelah dua dengan batasnya rel kereta api. Bagian utara dianggap Bagian Inggris dan selatan Bagian Indonesia.

Sedangkan kota Lembang merupakan daerah pertahanan lini ketiga, tempat markas batalyon dan tempat pasukan cadangan. Kompi-Kompi kesatuan Batalyon TKR Bandung Utara itu secara bergiliran bertugas di lini-lini pertahanan tersebut, sedangkan Kompi Sentot Iskandardinata bertugas menguasai daerah Cisarua untuk menjaga penyusupan musuh dari Cimahi (Sumantri. 1995 halaman 8).

Sementara itu, di Gedung Sate/Gedung PTT terjadi pengepungan oleh tentara Inggris. Para pemuda bertekad untuk mempertahankan gedung sate walaupun mereka dicegah oleh atasannya. Mereka antara lain adalah Samsu, D. Kosasih, Satu Kompi Hizbullah, Pemuda PTT, Batalyon II Res.8 Poniman, Paryadi, Ali Hanafiah dengan satu Peleton, Pasukan-pasukan Batalyon II Res.9 Kompi Sujana dan Tatang Basyah. Namun karena kekuatannya tidak seimbang, maka gedung PTT dikuasai oleh Tentara Inggris. Dalam peristiwa itu telah gugur tujuh pahlawan antara lain Didi Kamarga, Suhodo, Mokhtaruddin, Rana, Subengat, Susilo, dan Suryono.

Semangat para pejuang Bandung Utara tidak surut, mereka terus melakukan perlawanan hingga tentara Inggris kewalahan. Tentara Inggris pun melakukan siasat dengan menculik istri Setiabudi pada malam hari tanggal 19 Desember 1945.

Serangan-serangan musuh pada bulan November/Desember 1945 hingga bulan Februari 1946 mula-mula dapat dipatahkan oleh pasukan tempur Batalyon TKR/TRI Bandung Utara. Namun, sesudah pihak musuh mengerahkan segenap kekuatan altilerinya (houwitser), kavalerinya (tank dan panser lapis baja), serta angkatan udaranya (pemboman), para pejuang kemerdekaan Indonesia terpaksa mengundurkan diri dan meninggalkan kedudukan pertahanannya di kota.

Walaupun pada akhirnya wilayah Bandung Utara diduduki sekutu, tetap terdapat aksi perjuangan yang tanpa kenal lelah. Perjuangan secara mati-matian yang dilakukan oleh rakyat Bandung Utara dalam mempertahankan kemerdekaan.

Penulis: Mohamad Ully Purwasatria M.Pd

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar