Yamaha

Anak Autisme pun Punya Kesempatan yang Sama

  Selasa, 28 Agustus 2018   Fathia Uqimul Haq
Nur Fajri Ratna Ayu (21), penyandang autisme yang berhasil menjual tas lukis buatannya. (Fathia Uqim/ayobandung)

KOPO, AYOBANDUNG.COM--Orang tua jelas tak mau buah hatinya tersekap dengan keterbatasan yang dimiliki. Sebut saja keterbatasan intelektual seperti autisme atau ADHD. Gejala dalam perilaku yang dialami meliputi sulit konsentrasi serta munculnya perilaku hiperaktif dan impulsif.

Kriya Mata Kucing, sebuah unit usaha dan bagian dari Komunitas Peduli Anak Spesial (KPAS), adalah proyek utama untuk para penyandang autisme di usia produktif menuju dewasa. Mereka dikembangkan supaya siap bekerja saat lepas sekolah dan terapi supaya bisa mandiri dengan usianya saat ini. 

Pada awalnya, KPAS adalah wadah bagi anak-anak spesial untuk menyalurkan kebutuhan. Seperti penggalian potensi dari seni musik, seni kriya, lukis, tata boga, sampai olahraga. 

Seiring waktu, KPAS juga perlu ada unit usaha yang menjadikan anak-anak usia produktif menuju dewasa bisa mandiri. Terbentuklah Kriya Mata Kucing sebagai wadah untuk melatih motorik halus dan kemampuan di dalam diri anak supaya menghasilkan sesuatu. 

"Kita mencoba dengan 12 anak untuk menggali potensi mereka," kata Diana Sofian, Ketua Kriya Mata Kucing, Selasa (28/8/2018).  

Komunitas Peduli Anak Sosial dibangun pada tahun 2015. Di sana tidak hanya anak-anak dengan autisme. Anak dengan tunagrahita, tunadaksa, tunanetra, dan lain-lain bergabung untuk membuat kolaborasi seni seperti teater, menari, dan bermain musik. 

"Pada 2017 akhirnya kami kembangkan lagi unit KMK," katanya. 

AYO BACA : Hal-Hal yang Perlu Diketahui Tentang Autisme

Tak hanya berkesenian, kegiatan orang tua pun digelar di sela-sela kegiatan seperti diskusi dan sesi berbagi pengalaman hingga cara penanganan. 

Dampaknya, perkembangan kemandirian anak semakin terasah. Orang tua dan anak pun menjadi semakin erat ikatannya, sehingga wadah ini membentuk keluarga kedua. 

Kriya Mata Kucing bertujuan mengantar penyandang autisme ke dunia usaha dan menginspirasi para keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Misinya, KMK ingin menjadi pusat informasi dan kajian berbagai hal yang berkaitan dengan penyandang autisme dan disabilitas lainnya. 

"Kami mengantar para penyandang autisme untuk menjadi mandiri dan berdaya melalui keterampilan kriya tangan dan lain-lain,"  jelas Diana.

Anak-anak tersebut sukses membuat kain celup, baju, tas lukis, scarf, hingga lukisan yang bernilai tinggi. Mereka telah mengikuti pameran mulai dari perhelatan bergengsi Ina Craft sampai diboyong ke Kebun Raya Bogor. 

Diana berencana ingin membuat wadah lagi untuk menemani orang tua dan anak di wilayah balita ke pra remaja. 

"Harapan KMK bisa ditangkap  para pengrajin seni industri, diboyong berkolaborasi supaya bisa membawa usaha ini ke dalam bentuk usaha yang besar buat menjadi industri rumahan," pungkasnya.  

AYO BACA : Anak Autisme pun Punya Kesempatan yang Sama

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar