Yamaha

Membangun Rasa Percaya Diri Anak Autisme Lewat Komunitas Kriya Mata Kucing

  Selasa, 28 Agustus 2018   Fathia Uqimul Haq
Nur Fajri Ratna Ayu (21), penyandang autisme dari Kriya Mata Kucing yang berhasil menjual tas lukis buatannya.

KOPO, AYOBANDUNG.COM—Autisme seringkali dianggap asing dan berbeda oleh sebagian orang. Mirisnya, masyarakat yang tidak tahu-menahu sering menganggapnya gila.

Hal ini dialami Sumini Subiyanto (57), seorang ibu yang telah mengasuh anak bungsunya Dendy Cholid selama 24 tahun.

Sumini menceritakan ejekan dan hinaan sudah biasa didapatkan. Ketika berada di tempat umum, orang-orang melihat aneh bahkan menyebut tidak waras. Wajar, bila Sumini sakit hati.

Perlahan, dia selalu mengatakan kepada orang lain bila buah hatinya mengalami autisme.

"Ada yang paham, ada yang enggak mengerti juga," kata Sumini kepada ayobandung.com, Selasa (28/7/2018).

Autisme merupakan gangguan pada otak yang tidak dapat berfungsi layaknya otak normal.

Dia mengaku Dendy mengalami gangguan perkembangan bagian dari gangguan spektrum autisme.

Para penyandang autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan perilakunya.

"Biasanya gangguan ini sering dikaitkan dengan keterbatasan intelektual dan kesulitan koordinasi. Tapi, beberapa orang dapat tampil unggul di beberapa bidang seperti musik, seni, kemampuan visual, dan lain-lain," jelasnya.

Sumini bersama keempat temannya membuat wadah bagi para ibu dengan anak autisme agar berdaya dan mengembangkan minat keturunannya itu.

"Kemudian kami beri nama Kriya Mata Kucing," ujarnya.

Didirikan pada 7 Juli 2017, Kriya Mata Kucing (KMK) terdiri atas 12 orang penyandang autisme. Mereka adalah anak-anak dari para pengurus KMK.

Mata kucing merupakan sebuah homonim karena artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. 

Beberapa pengertian "Mata Kucing" di antaranya jernih warnanya, batu permata, pohon, juga lampu kecil berwarna hijau pada pesawat radio untuk menentukan tepatnya gelombang.

Mata Kucing juga digunakan sebagai penanda di jalan raya pada malam hari. "Intinya para penyandang autisme di keluarga KMK mampu menjadi cahaya bagi para orang tua dan keluarga," katanya.

KMK adalah rumah berkarya dan rumah bagi keluarga dengan anak-anak keterbatasan sehingga bisa saling mendukung dalam berbagai aktivitas. Di sini, anak-anak dibekali aktivitas keterampilan untuk melatih motorik halus, koordinasi tangan, relaksasi, kegembiraan, kepercayaan, kriya, musik, dan rupa. 

"Mereka diajari melukis totebag, membuat kain celup, membuat bunga kain, dan scarf," kata Sumini.

Sebanyak 12 anak autisme ini sedang dalam usia produktif. Para orang tua mendidik mereka supaya memiliki kemampuan dan hasil karyanya dipasarkan.

"Kami beri mereka apresiasi. Jadi KMK sebagai unit usaha kami. Mereka seperti bekerja pada umumnya, kami gaji tiap bulan atas hasil kerja mereka," jelasnya.

KMK telah menjajaki beberapa tempat hit untuk pameran. Sebut saja Ina Craft, sampai diajak pameran di Kebun Raya Bogor. Dalam menyambut hari kemerdekaan, KMK juga memamerkan sekaligus menjual hasil karya di Mal Paris Van Java (PVJ).

Untuk saat ini KMK setiap hari berproduksi di studi KMK, Kopo Mas Regency, Bandung. Sampai waktu yang ditentukan, KMK belum membuka angkatan baru. Lantaran KMK angkatan pertama ini masih dalam tahap penjajakan. "Tidak menutup kemungkinan, kami akan buka angkatan baru," kata dia.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar