Yamaha Mio S

Serunya Glampacking di Orchid Forest Lembang

  Sabtu, 25 Agustus 2018   Fathia Uqimul Haq
Serunya Glampacking di Orchid Forest Lembang
LEMBANG, AYOBANDUNG.COM--Tenda biru berisi tiga buah kasur berukuran 1,8 x 7 meter yang disertai empat bantal dan empat sleeping bag berjejer rapi.  
 
Tenda-tenda itu berbaris  mengitari api unggun dan pohon pinus. Penginapan ala nomad traveler yang cukup besar dan nyaman untuk “glampacking” bersama teman-teman.
 
Glampacking merupakan singkatan dari glamour backpacking, berjalan-jalan gaya anak muda yang glamour. Istilah itu kini semakin dikenal lantaran konsep nomadic tourism yang sedang digalakan menjadi gaya hidup baru.
 
Tempat wisata kini menagadopsi gaya nomadic tourism. Sebuah destinasi yang mudah berpindah akomodasi dan aksesibel. Misalnya berwisata menggunakan karavan, kemah, glamping alias glamour camping, dan ragam dome yang mudah dicabut pasang. Yang terpenting, konsep ini untuk menikmati alam tanpa merusaknya.
 
Konsep tersebut hadir di Orchid Forest Lembang. Terletak di kawasan hutan pinus milik Perhutani, glampacking di sana menjadi sensasi anyar yang seru dengan fasilitas mumpuni. Di sana tersedia banyak toilet bersih yang didesain unik bak rumah mini. Musala dengan gaya rumah panggung, spot instagramable, dan wahana seru yang tidak pantas dilewatkan.
 
Glampacking di Orchid sama halnya menyewa sebuah kamar hotel. Selain kenyamanan tidur di tenda tanpa harus sakit punggung, pejalan sudah mendapatkan sarapan. Setiap tenda dikenakan biaya  Rp 900.000 untuk empat orang.
 
Pemilik Orchid Forest, Maulana Akbar menjelaskan bahwa areal hutan seluas 12 hektar ini didesain dengan berbagai spot foto yang indah dilihat warganet. “Luasan hutan masih dikembangkan hingga 24 hektar,” kata Maulana, Jumat (24/8/2018).
 
Tak heran, spot foto di wood bridge, garden light, lampu warna-warni, jembatan pohon ditengah pohon pinus banyak bertengger di Orchid Forest.
 
Proses pembangunan kawasan wisata Orchid Forest memakan waktu delapan bulan tanpa bantuan alat berat. Ketika buka pada Agustus 2017 lalu, Orchid Forest sudah kedatangan 1.000 pengunjung setiap bulan. “Fantastis, waktu hari lebaran kami kedatangan 12.000 pengunjung dalam satu hari,” ungkapnya.
 
Maulana membeberkan tiga konsep yang dikembangkan di destinasi digital ini. Pertama, Orchid merupakan kawasan wisata pendidikan. Diharapkan wisatawan Indonesia mampu berinteraksi dengan alam dan memperlakukannya dengan benar. “Seperti tidak membuang sampah sembarangan, dan lain-lain. Makanya sepanjang Orchid jalanan bersih karena manajemen sampah yang baik,” ujarnya.
 
Kedua, Orchid sebagai kawasan olahraga. Kawasan ini merupakan salah satu yang dilewati downhill. Dia membuat jalur downhill untuk dijadikan trek kompetisi malam yang didukung oleh lampu-lampu terang.
 
Ketiga, Orchid Forest adalah kawasan eco tourism. “Di sini bakal menjadi kampung seni untuk mewadahi pekerja seni. Baik aktivitas tari, membatik,memahat, dan lain-lain. Supaya pengunjung bisa belajar budaya Indonesia,” jelasnya.
 
Orchid Forest terletak di Cikole Lembang berpatokan dengan Grafika Cikole beroperasi mulai dari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Akhir pekan, mereka tutup  pada pukul 19.00 WIB. Biaya masuk dikenakan Rp30.000 per orang.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar