Yamaha NMax

Mampukah Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Internasional?

  Jumat, 24 Agustus 2018   
Grafis Bahasa Indonesia/Attia

Siapa yang tak kenal Lee Jeong Hoon? Aktor yang berperan dalam sinetron komedi di salah satu stasiun televisi swasta ini berhasil menyedot perhatian kaum remaja, khususnya wanita. Paras tampan, pribadi yang lucu, dan supel membuat Lee begitu populer.

Lee bukanlah orang Indonesia, dia warga Korea Selatan. Bahasa pertamanya adalah bahasa Korea. Namun, Lee mampu berbahasa Indonesia begitu fasihnya. Ia sering menjadi pembawa acara dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Lee adalah salah satu contoh warga negara asing yang mampu berbahasa Indonesia dengan fasih. Banyak sekali warga negara asing yang tinggal di Indonesia maupun di negara asalnya yang mampu berbahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia kini bukanlah bahasa yang hanya digunakan oleh orang-orang yang terlahir dari Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote saja.

Fenomena ini tentu membuktikan bahwa sebenarnya bahasa Indonesia mempunyai peluang untuk menjadi bahasa pengantar dalam pergaulan dunia internasional. Bahkan kini, banyak perguruan tinggi di luar negeri yang khusus membuka program studi untuk mempelajari bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia memang berpotensi dikenal luas karena memiliki beberapa faktor yang mendukung dan memengaruhi orang-orang untuk mudah mempelajarinya. Supriyanto, dalam artikelnya yang dimuat dalam laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, mengatakan bahwa faktor tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni berasal dari bahasa itu sendiri atau biasanya disebut dengan istilah faktor intrabahasa dan faktor yang berasal dari luar bahasa atau biasa disebut dengan istilah faktor ekstrabahasa.

Pertama, faktor intrabahasa antara lain sistem bahasa yang mapan. Bahasa Indonesia memiliki sistem bahasa yang sudah diatur menjadi sebuah aturan yang baku. Semisal sistem ejaan yang tertuang dalam Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), kaidah bahasa yang tertuang dalam Tata Bahasa Baku Indonesia edisi ketiga yang terbit tahun 2003, atau sistem peristilahan akibat dari pengaruh bahasa asing yang tertuang dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Selain itu, kita juga mengenal adanya kamus bahasa Indonesia sebagai acuan pembakuan suatu bahasa. Bahkan, kini kamus bahasa Indonesia dapat diakses melalui gawai dengan menghadirkan aplikasi KBBI V luring.

Dalam KBBI edisi V, baik yang daring maupun luring, memuat puluhan ribu kosakata yang tersusun dalam daftar kamus yang terbagi menjadi kamus bidang ilmu, kamus dwibahasa, tesaurus alfabetis, bahkan kamus bahasa Indonesia untuk pelajar. Selain itu, untuk mengakomodir pengaruh dari bahasa yang berkembang di masyarakat sebagai buah dari pergaulan, diterbitkan juga Kamus Urban Indonesia yang diterbitkan tahun 2014.

Kekayaan kosakata dan kategorisasi seperti di atas menunjukkan bahwa bahasa Indonesia dapat berperan sebagai bahasa dan sarana komunikasi di segala bidang. Hal ini memungkinkan bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai sarana komunikasi di dunia internasional.

Kedua, faktor ekstrabahasa dipengaruhi oleh jumlah penutur dan sikap penutur bahasa Indonesia. Seperti kita ketahui, dengan jumlah warga negara Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa, hal ini merupakan modal bagi bahasa Indonesia untuk berkembang dengan pesat.

Jumlah tersebut belum ditambah oleh para warga negara asing yang kini sudah fasih berbahasa Indonesia. Tetapi, jumlah penutur yang banyak juga harus diimbangi oleh sikap penuturnya dalam menggunakan dan melestarikan bahasa Indonesia. Memiliki kebanggaan terhadap bahasa Indonesia merupakan sikap positif yang dapat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dunia internasional.

Kini, dunia internasional sebenarnya telah menyadari potensi dari bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi dunia internasional. Beberapa media massa elektronik yang lingkupnya internasional kini sudah menggunakan bahasa Indonesia. Sudah banyak pula laman di internet yang menggunakan bahasa Indonesia.

Bahkan yang terbaru, kini klub sepak bola asal Polandia, Lechia Gdansk, yang diperkuat oleh Egy Maulana Vikri menghadirkan opsi bahasa Indonesia untuk memberikan informasi kepada penutur bahasa Indonesia melalui laman resminya.

Inilah situasi yang mesti kita manfaatkan dengan baik. Modal untuk internasionalisasi bahasa Indonesia sudah kita miliki. Tinggal bagaimana cara kita untuk memanfaatkan segala potensi tersebut untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di kawasan Asean, bahkan di seluruh dunia.

Ricky Pramaswara. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar