Yamaha Mio S

Ketika Manny Pacquio Temui DPR RI

  Minggu, 12 Juli 2015   Yatti Chahyati
Manny Pacquio (http://cdn3-www.craveonline.com)

 

Jakarta- Kebijakan pemerintah Indonesia menunda eksekusi mati Mary Jane Veloso menjadi perhatian senator asal Filipina sekaligus petinju kelas "welter weight" Manny Pacquiao yang bertemu dengan Mary dan pejabat pemerintahan Indonesia.

Salah satu pihak yang dikunjungi Pacquiao pada Jumat (10/7/2015) adalah pimpinan DPR RI yang diterima oleh Ketua DPR RI Setya Novanto didampingi Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Kehadiran petinju ke DPR RI bukan ingin membicarakan prosepek tinju Indonesia di masa depan, namun membahas mengenai kebijakan pemerintah menunda eksekusi mati Mary Jane Veloso.

"(Pacquiao) ingin mengucapkan terima kasih kepada Indonesia yang sudah memberikan kebijaksanaan untuk menunda (eksekusi mati Mary Jane)," kata Ketua DPR RI Setya Novanto.

Kasus Mary Jane menjadi perhatian masyarakat luas setelah pemerintah Indonesia menunda eksekusi mati terhadap warga negara Filipina itu dalam Eksekusi Mati tahap II pada 29 April 2015. Mary Jane Fiesta Veloso ditangkap setelah membawa 2,6 kilogram heroin di Bandara Adi Sucipto pada 25 April 2010.

Dia divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Sleman pada 11 Oktober 2010 dan grasinya ditolak pada 30 Desember 2014. Mary Jane juga pernah mengajukan Peninjauan Kembali, tetapi ditolak oleh Mahkamah Agung.

Namun Mary Jane lolos dari eksekusi mati setelah Jaksa Agung Prasetyo memastikan menunda eksekusi mati terhadap Mary Jane Veloso. Prasetyo memastikan kebijakan itu diambil setelah adanya permohonan dari Pemerintah Filipina melalui presidennya.

Indonesia akan memberikan kesempatan kepada Veloso untuk memberikan kesaksian pada pengadilan di Filipina.

Pacquiao mengatakan dirinya berterima kasih kepada Presiden Jokowi karena menunda eksekusi mati terhadap Mary Jane untuk menyelidiki kebenaran bahwa Mary korban perdagangan manusia.

"Saya begitu respek kepada Pak Jokowi karena dia sudah menunda eksekusi Mary Jane. Saya juga begitu respek kepada masalah hukum di Indonesia," katanya.

Kehadiran Pacquiao itu didampingi istrinya, Maria Geraldine Jamora dan Dubes Filipina untuk Indonesia, Maria Lumen B Isletta. Sebelum mengunjungi pimpinan DPR, ketiga orang tersebut bertemu Mary Jane di LP Wirogunan, Yogyakarta, pada Jumat (10/7) pagi.

Pacquiao di hadapan pimpinan DPR RI menceritakan bahwa dirinya mengaku sudah bertemu dengan Mary Jane di Lembaga Permasyarakatan Wirogunan, Yogjakarta dan Mary tidak pernah tahu bahwa dirinya membawa 2,6 kilogram heroin ke Indonesia. "Saya sudah bertemu dan saya tanya apa yang terjadi? Dia tidak tahu kanapa, Mary Jane ungkap dia korban perdagangan manusia," katanya.

Pacquiao mengatakan bahwa Mary Jane mengaku bahwa dirinya telah dijebak oleh seseorang, yakni Maria Kristina Sergio dan mitranya Julius Lacanilao, pada saat itu Mary direkrut untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia.

Namun, menurut dia, setibanya di Malaysia, Kristina malah menjanjikan untuk pergi ke Indonesia, pada saat itu Kristina menjanjikan sepulang dari Indonesia, Mary Jane akan langsung dipekerjakan.  

Ketua DPR RI Setya Novanto mengapresiasi sikap Manny Pacquiao yang menghormati sistem hukum di Indonesia terutama kebijakan pemerintah terkait hukuman mati terhadap terpidana kasus narkoba.

    "Saya bangga karena Pacquiao respek terhadap masalah hukum di Indonesia, dia merupakan olahragawan dan senat yang dihormati," kata Novanto.

Novanto mengatakan kehadiran Pacquiao diharapkan bisa menjembatani hubungan bilateral antara Indonesia-Filipina. Menurut dia kerja sama kedua negara harus terus berjalan dengan baik dalam semua bidang.

"Saya tahu bahwa Pacquiao merupakan anggota senat Filipina dua kali sehingga hubungan bilateral Indonesia-Filipina bisa terus dijembatani," ujarnya.

Diberi Batu Akik Kehadiran Paquiao di DPR RI disambut dengan baik pimpinan DPR bahkan direspons positif kehadirannya itu sehingga diharapkan bisa menjembatani hubungan bilateral Indonesia-Filipina.

Di awal pertemuan, Novanto menyampaikan bahwa dirinya akan berbicara dengan bahasa Indonesia karena mayoritas media massa yang meliput adalah dari Indonesia. Pacquiao mendengar ucapan itu langsung menanyakan apakah dirinya juga harus menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan tersebut.

"Apakah saya juga harus berbahasa Indonesia," kata Pacquiao yang disambut tawa para wartawan dan tamu yang hadir.

Novanto mengatakan bahwa Pacquiao tidak perlu menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan itu karena telah disediakan penerjemah.

Pertemuan antara pimpinan DPR dengan Pacquiao lebih banyak nuansa santai meskipun Novanto dan Pacquiao menggunakan jas dan Fadli menggunakan baju batik dalam acara tersebut.

Diawal pertemuan itu, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon sempat memberikan batu akik jenis Lumut Suliki asal Sumatera Barat dan sebuah keris yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.

Pacquiao sempat menunjukkan batu akik berwarna coklat dan keris tersebut kepada para wartawan bahkan para pimpinan DPR sempat "selfie" dengan Pacquiao usai pertemuan tersebut.

Kehadiran Pacquiao tidak bisa dianggap sebelah mata, karena kebijakan Indonesia yang melakukan eksekusi mati menimbulkan pro dan kontra, baik dari kalangan dalam serta luar negeri.

Brazil, Prancis, dan Australia sempat protes keras terhadap Indonesia karena ada warga negara mereka yang dieksekusi, baik di tahap pertama atau tahap kedua.

Fadli Zon menyoroti pascakebijakan eksekusi mati oleh pemerintah Indonesia yaitu munculnya kekakuan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Australia dan Brazil.

"Indonesia memiliki kebijakan 'zero enemy' namun jangan menjadi 'zero friend', dan saat ini hubungan kita dengan Brazil dan Australia masih kaku pascaeksekusi hukuman mati," kata Fadli.

Fadli mengatakan apa yang dilakukan Pacquiao merupakan tindakan wajar dari tokoh atau pimpinan sebuah negara ketika ada warga negaranya terancam hukuman mati. Dia menjelaskan apa yang dilakukan Pacquiao merupakan usaha yang sama dilakukan pemrintah Indonesia ketika ada warga negara Indonesia terkena kasus hukum di luar negeri.

"Jika ada negara sahabat meminta permintaan masuk akal seperti penundaan eksekusi mati maka itu patut dipertimbangkan karena kita melakukan hal yang sama," ujarnya.

Dia menilai dalam kasus Mary Jane ada proses hukum yang belum selesai dan kemungkinan yang bersangkutan merupakan korban perdagangan manusia.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu menegaskan eksekusi mati merupakan domain Kejaksaan Agung namun juga harus memperhatikan hubungan baik Indonesia dengan kondisinya saat ini.

"Prancis melalui presidennya meminta pertimbangan kembali. Apabila kita perlu hubungan baik maka perlu dipertimbangkan kembali," katanya.

Ketegasan pemerintah dalam memberantas narkoba harus terus didukung namun apabila kebijakan itu menyangkut hubungan antara dua negara sahabat di Indonesia maka harus ada pertimbangan agar tidak terjadi gesekan antarnegara.(*)
    

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar