Yamaha Aerox

Kerajinan Tak Boleh Dinomorduakan Setelah Seni

  Jumat, 27 Juli 2018   Fathia Uqimul Haq
Karya Deden Sambas yang dipamerkan dalam Bandung Art Month di SOS Babakan Siliwangi, Bandung. (Fathia Uqim/ayobandung)

BABAKAN SILIWANGI, AYOBANDUNG.COM—Perayaan Bandung Art Month disambut meriah oleh para seniman di Kota Bandung. Gelaran ini menelanjangi pemikiran para seniman melalui berbagai medium karya.

Pemikiran para seniman itu hadir di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, yang lokasinya tepat berada di tengah hutan kota sejak 22 Juli-15 Agustus 2018. Lukisan, kerajinan, foto, dan patung mengupas habis bahwa seni tak melulu soal mewarnai di atas kanvas. Tak semua karya menempel pada bilik sanggar, sebab ada areal tanah kosong yang dijadikan kawasan kebebasan Deden Sambas menjamu para penikmat.

Tak seperti seniman lain yang merajah ratusan warna di setiap kanvas. Deden tak mau seni satu ini dinomorduakan. Usai melalui perjalanan di tiga tahun terakhir, Deden membela kerajinan sebagai seni yang patut bermegahan.

Inspirasi dari setiap pengrajin membuat Deden bepikir untuk mengemas kerajinan dalam pameran ini. Dia tahu, ada yang sangat berbeda dari seniman pada umumnya.

Konon, seni adalah representasi dari pikiran dan kehidupan. “Kalau craft (kerajinan) merepresentasikan apa?” tanya Deden saat ditemui ayobandung.

Bagi pria kelahiran 1963 itu, para pengrajin memantulkan kesederhanaan cara berpikir dan gagasan yang diterjemahkan menjadi semangat kerja. “Orang selama ini menganggap kerajinan adalah nomor dua dibanding seni,” katanya.

Padahal, setelah Deden pelesir ke tempat pengrajin tempa di Garut, pembuatan bedog dan pacul di Ciwidey, serta pengrajin anyaman di banyak tempat, terlahirlah bentuk sederhana yang nyaris lumrah. Tak dapat dikatakan abstrak, sebab mereka punya dasar.

Deden memisalkan sebuah ayakan punya beberapa ukuran. Setiap ukuran punya nama hingga yang paling besar dinamakan “sirip”. Ukuran tersebut adalah penekanan dari konseptual yang lokal. Kesederhaan itulah yang Deden adopsi pada karyanya yang ditampilkan pada Bandung Art Month di SOS Babakan Siliwangi ini.

Keresahan itu tampil saat Deden menemukan batang-batang pohon yang rubuh. Dia bentuk batang pohon bertumpuk sebagai respons. Dia mengolah karya dengan merekayasa bahan pikiran yang menjadi dasar, bahwa kerajinan adalah kesederhanaan cara berpikir. “Semangat kerja melahirkan bentuk yang lumrah,” katanya.

Berbagai kayu dibuatnya menjadi sebuah bentukan unik. Patahan kayu dikonstruksi menjadi seonggok binatang bak rusa. Kayu kecil berdiri cantik bak action figure. Kayu yang dipahat jadi patung berdiri bak piala bergilir. Atau kayu bekas yang disatukan besi berdiri kokoh menggawangi areal.

Tetap, Deden tak mau kerajinan jadi anak tiri. Tak mungkin para pengrajin mengerjakan karya tanpa semangat imajinasi. Mereka—para pengrajin—juga seniman, seperti seniman-seniman lain yang bisa kondang dan merayakan pesta angan-angan yang dipamerkan. Melalui seorang Deden Sambas, pengrajin Indonesia telah diwakilkan.

Bandung Art Month adalah sebuah kegiatan terpadu yang menyajikan pameran seni rupa di berbagai ruang seni selama satu bulan penuh di Kota Bandung. Helatan ini diinisiasi oleh BDG Connex, platform media anyar yang fokus pada kehidupan skena seni Kota Kembang. Dalam lamannya, BDG Connex menyebutkan ada berbagai kemungkinan interaksi hubungan antar-personal, sosial, dan kultural.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar