Yamaha Mio S

Takut Bercinta, Hati-hati Disfungsi Seksual

  Sabtu, 21 Juli 2018   Fathia Uqimul Haq
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Di zaman kiwari, masyarakat masih saja terkungkung dengan stigma dan tabu membahas persoalan seksual. Padahal, problematika seksual berhubungan erat dengan aspek bipsikososial seperti ketidakterbukaan mengenai hubungan yang diinginkan, trauma, stres, rasa tidak percaya diri, depresi, budaya, atau gangguan emosional lainnya.

Alhasil, banyak orang tak sadar akan disfungsi seksual yang dialaminya. Padahal, sederhana saja, disfungsi seksual bisa dilihat ketika seseorang merasa tak nyaman saat berhubungan seksual. Jika dibiarkan berlarut-larut, kehidupan seksual yang tidak menyenangkan bisa memicu perceraian.

Ada beberapa fase dalam berhubungan seksual. Fase kehendak seks, fase libido, fase orgasme, dan fase kepuasan. Jika ada gangguan yang berlaku pada fase-fase itu, maka itu dianggap sebagai bentuk disfungsi seksual. “Misalnya wanita enggak tertarik melakukan hubungan intim. Si suami sudah bersedia, tapi istri enggak. Itu sudah disfungsi seksual,” ujar psikiater asal Malaysia, Hatta Sidi kepada ayobandung, Sabtu (21/7/2018).

Gejala lain disfungsi seksual adalah adanya kehendak yang tak berhasil merangsang libido. “Jadi kalaupun sudah ingin berhubungan seks, tapi libido tak terangsang,” kata Hatta.

Gangguan disfungsi seksual bisa terjadi pada siapa saja, baik pria ataupun wanita. Namun, tak seperti pria yang mudah berejakulasi, bagi wanita hal ini adalah sesuatu yang kompleks. Tak semua wanita bisa mencapai fase kepuasan. Banyak faktor yang bisa memengaruhi fase tersebut.

Psikiater RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Sylvia Detri Elvira, menjelaskan bahwa pria dan wanita punya anatomi yang berbeda. Dilihat dari hormon, testosteron pria tentu lebih banyak daripada wanita. Hal itulah yang membikin kaum wanita agak sulit terangsang dan mencapai fase tertinggi seksual. “Harus ada suasana yang tenang dan kepercayaan dengan orang yang dicintai,” kata dia.

Faktor psikis, fisik, dan sosial bisa menjadi pendorong hadirnya disfungsi seksual. Faktor fisik, misalnya, ketika seseorang mengalami intervensi pengobatan pasca-operasi sehingga pembuluh darah tak bisa membantu organ reproduksi berjalan lancar. “Gairah jadi turun,” ujar Sylvia.

Lalu, ada juga faktor trauma masa kecil yang dikategorikan dalam faktor psikologi penyebab disfungsi seksual, seperti budaya keras yang diterapkan pada seseorang sejak kecil. “Misal, ketemu laki-laki enggak boleh. Terus ditakut-takuti kena lutut lawan jenis bakal jadi hamil,” kata Sylvia.

Tak hanya itu, relasi dengan pasangan pun bisa jadi pemicu disfungsi seksual. Perkara perjodohan, ekspektasi terhadap pasangan yang tak sesuai, dan sederet lainnya berisiko mendorong hadirnya disfungsi seksual.

“Sederhana saja. Misal, perempuan pengin suaminya mandi dulu sebelum berhubungan seks, tapi laki-lakinya pengin langsung,” kata Sylvia mencontohkan. Artinya, ketidakcocokkan dalam kebiasaan juga dapat jadi pemicu disfungsi seksual.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar