Yamaha

Mengenal Kopi Arjasari yang Disangrai Tradisional

  Jumat, 20 Juli 2018   Fathia Uqimul Haq
Kopi Arjasari. (Fathia Uqim/ayobandung)

ARJASARI, AYOBANDUNG.COM--Kopi dari tanah Arjasari hasil tanam Usep Saepudin (31) bisa dibilang berbeda dari kopi pada umumnya. Kopi Arjasari melalui proses roasting atau sangrai secara tradisional yang berpengaruh pada hasil akhir.

Proses sangrai ini, kata Usep, adalah teknik manual. Dibakar menggunakan kuali tanah liat di atas tungku, sampai biji menjadi kering dan siap dikonsumsi.

“Kita enggak pakai mesin,” kata Usep, kepada ayobandung.com, Jumat (20/7/2018).

Menurut Usep, proses tradisional ini bakal mempengaruhi cita rasa kopi. Buat dia, kopi yang disangrai secara manual punya nilai tersendiri dan rasa yang sesuai dengan seleranya.

Untuk menyangrai kopi supaya mendapatkan tingkat kepekatan yang berbeda dibutuhkan waktu 18-25 menit. Pada dunia kopi, ada istilah light, medium, dan dark. Untuk mendapatkan tingkat kepekatan light, medium, atau dark memerlukan waktu yang tidak sama.

Jika mengandalkan mesin sangrai, misalnya mesin popcorn elektrik, kopi dapat disangrai dengan cukup cepat. Paling lama cuma sekitar 4-5 menit. 

“Tapi mesin ini tidak terlalu bisa diandalkan jika Anda ingin mencoba tipe light roast,” ujarnya.

Dalam proses sangrai tradisional, Usep akan menjemur biji terlebih dulu. Sering, dia menyimpan stok biji kering beberapa hari hingga berbulan-bulan. Katanya, semakin ringan biji kopi maka semakin bagus kualitasnya.

Setelah itu, biji kering akan disangrai sampai jadi biji yang siap dikonsumsi. Seringkali konsumen Usep memilih tingkat kepekatan yang diinginkan.

Mengutip laman Otten Coffee, biji kopi yang disangrai dengan ukuran light bukan hanya terlihat seperti “versi paling muda” dari warna coklat kopi, tapi juga tidak ada kilau minyak yang terlalu kelihatan di permukaan biji kopi. Biasanya metode seduh yang disarankan adalah coldbrew, aeropress, atau walkure.

Untuk biji kopi yang disangrai dalam level medium, cenderung memiliki rasa yang lebih intens dibandingkan light. Karena dia mampu menghadirkan rasa dan komposisi yang pas. Kopi dengan tingkat sangrai medium menjadi popular di kalangan pencinta kopi. Biasanya metode yang pas untuk biji kopi ini adalah Vietnam drip, French press, atau eva solo.

Biji kopi dengan tingkat sangrai dark, hampir tidak lagi menyimpan karakter apapun selain rasa gosong dan pahit yang hangus. Biasanya, kopi tersebut akan ditambahkan lagi dengan campuran susu, gula dan sebagainya menjadi entah cappuccino, latte, flat white dan lain-lain.

Kopi yang diperoleh Usep berasal dari lahan kebun orang tuanya yang memiliki luas 1000 meter persegi dengan jumlah pohon kurang lebih 3000. Dia mengaku hanya menengok sebulan sekali untuk memberi pupuk dan memantau hama.

“Biasanya hama kopi itu babi hutan atau musang,” ungkapnya.

Musang yang memakan biji kopi tentu akan mengeluarkannya sebagai kotoran dalam bentuk biji. Kemudian Usep akan mengambil biji kopi luwak tersebut dan diproses sebagai kopi luwak.

Lelaki satu anak ini menanam kopi jenis robusta dan arabika. Di antaranya jenis biji Timtim ateng, Sigaruntang, dan varietas baru dari pemerintah yaitu jenis Java Preanger.

Untuk awal panen, biasanya kopi Arjasari ini dapat mengantungi 2–8 kg. Jika sudah waktunya panen raya pada bulan Mei atau Juni, sekali memetik dapat mencapai 300 kg. 

“Kalau dihitung per musim bisa mencapai kurang lebih 2 ton,” jelasnya.

Usep melabeli kopinya “Kopi HD” dengan tulisan traditional roasting di bungkusnya, disertai opsi light, medium, dan dark untuk mencirikan isi biji kopi tersebut.

Kopi khas tanah Arjasari punya perbedaan dari olahan dan dataran suhu wilayah yang bakal mempengaruhi cita rasa. Wilayah Kecamatan Arjasari berada di bawah kaki Gunung Malabar.  Hampir berdampingan dengan Gunung Puntang.

‌Sebetulnya, kata Usep, kopi puntang memiliki rasa keasaman yang hampir. Namun, kelebihan yang dimiliki kopi ini yaitu ada rasa gurih dan aromanya sedikit tercium karena berasal dari tempat yang kurang tinggi. “Jalau prosesnya dry hull, aroma dan karamel pasti akan lebih terasa,” pungkas Usep.

Menurutnya, kualitas bisa sama dengan kopi  puntang. Namun dalam proses paska panen itu yang bisa membedakan rasa. Dari mulai pemanenan, pengupasan kulit, penjemuran, penyimpanan, sangrai,dan penyajian kopi itu sendiri.

“Itulah tahap tahap yang dilalui untuk menghasikan kopi berkualitas,” ujarnya.

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar