Yamaha NMax

Uniknya Pernikahan dengan Konsep Green Wedding

  Sabtu, 14 Juli 2018   Fathia Uqimul Haq
Pernikahan di kafe Cocorico dengan nuansa etnik, hijau, dan kembali ke alam. (Fathia Uqim/AyoBandung)

DAGO, AYOBANDUNG.COM--Konsep Ramah lingkungan tidak cuma hadir pada sebuah rumah atau desa saja. Ternyata, konsep ini dihadirkan dalam sebuah pernikahan yang menjadi tempat bergunduk sampah bekas makanan para tamu.

Ingin menerapkan konsep green wedding,  Tristia Riskawati, mengedukasi para tamu melalui pernikahan yang dia selenggarakan. Nuansa alami, pemilahan sampah organik, anorganik, dan sampah yang tak dapat didaur ulang.

Menurut Tristia, pernikahan bukanlah ajang pamer dan senang-senang saja. Tapi memberikan inspirasi kepada yang lain dengan prinsip hidup yang biasa dia lakukan sehari -hari.

"Kami ingin memberikan inspirasi kebaikan lewat karakter pernikahan kami dengan mengusung green wedding," katanya, kepada ayobandung.com,  Sabtu (14/7/2018).

Green wedding yang dimaksud adalah sebisa mungkin tidak ada sampah yang tidak termanfaatkan. Pengelolaan sampah diatur dengan baik oleh panitia supaya sampah yang dipilah dapat diberikan ke pengelola.

"Untuk sampah organik bakal disalurkan ke tempat pembuangan di Kabupaten Bandung yang akan dijadikan pupuk kompos," kata Tristia.

Sementara itu, sampah anorganik akan disalurkan ke Komunitas Waste Up, sebuah komunitas yang mengelola sampah anorganik untuk dijadikan barang bermanfaat.

Pembawa acara pun selalu mengimbau tamu undangan supaya menaruh sampah ke tempat yang benar dan tidak membuang sampah sembarangan.

"Nanti ada kompetisi foto bagi para tamu yang harus diunggah ke instagram dengan tanda pagar #GreenWeddingTristiaIrvan," ujarnya.

Dua pemenang bakal diberi hadiah menarik sebuah sedotan stainless steel sebagai upaya meminimalisasi penggunaan sedotan plastik.

Keunikan lainnya, souvenir dari pernikahan ala Tristia dan Irvan adalah memberikan teh kesukaan keluarga yang disisipi kata-kata inspirasi.

"Supaya tamu bisa mendapatkan pencerahan dan tergerak untuk menjadi manusia yang ramah lingkungan setelah datang dari pernikahan ini," jelas perempuan pasca sarjana ITB ini.

Suasana pernikahan yang tengah dilaksanakan hari ini memoles sebuah kafe Cocorico dengan nuansa etnik, hijau, dan kembali ke alam.

Kesukaan Tristia dengan nuansa hutan nan asri membuat dia menyulap pernikahan menjadi elok.

Meski bukan perempuan yang aktif dengan kampanye lingkungan, setidaknya dia ingin memfasilitasi tamu dengan konsep zero waste ini. Dia harap, para tamu bakal mempraktikan prinsip pasangan mempelai di rumah masing-masing.

Sempat ada ketidakcocokan antara Tristia dengan orangtuanya. Lantaran pada awalnya dia ingin meminta tamu membawa alat minum dan serbet masing-masing untuk tidak menggunakan tisu dan minuman kemasan.

"Orangtua belum setuju karena takut kesannya menyuruh tamu, jadi kita mulai saja dari hal kecil ini," kata dia.

Senangnya, Cocorico Cafe sendiri sudah menerapkan konsep pemilahan sampah sejak awal berdiri pada 2010.

Manajer Cocorico Cafe, Aziz Wahyudin menuturkan pemilahan sampah yang dilakukan langsung disalurkan kepada tempat pembuangan.

"Selebihnya, tergantung pada pihak terkait, apakah sampah akan diberikan ke lembaga lain atau komunitas yang giat dengan gaya hidup ini," kata Aziz.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar