Yamaha NMax

Mengenal Kalua Jeruk Khas Ciwidey yang Disukai Bung Karno

  Rabu, 20 Juni 2018   Mildan Abdalloh
Elin Ratna Asmara di toko kalua miliknya di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. (Mildan Abdalloh/ayobandung)

CIWIDEY, AYOBANDUNG.COM--Ciwidey merupakan kawasan wisata yang menjadi buruan wisatawan dari pelbagai daerah. Selain memburu sejumlah objek wisata seperti Kawah Putih, Situ Patengan, dan objek wisata alam lainnya, wisatawan banyak juga memburu penganan khas, salah satunya adalah kalua jeruk.

Manisan kulit jeruk bali tersebut memang sudah menjadi panganan khas Ciwidey. Sejak puluhan tahun silam, kalua jeruk menjadi oleh-oleh khas Ciwidey jauh sebelum stroberi ada di kawasan tersebut.

Keberadaan kalua jeruk khas Ciwidey tidak terlepas dari seorang warga bernama Eneh Sutinah. Dia adalah orang yang pertama kali membuat kalua jeruk di Ciwidey. Pada 1925 Eneh mendirikan warung yang menjual kalua jeruk di rumahnya.

"Yang pertama membuat kalua itu nenek saya," tutur Elin Ratna Asmara (64), cucu dari Enih ketika ditemui, Rabu (20/6/2018).

Pada mulanya, Enih hanya membuat kalua sebagai camilan. Namun banyak orang berdatangan untuk membeli kalua buatannya. Seiring berjalannya waktu, kalua buatan Enih menjadi terkenal. Tidak jarang tokoh terkenal mampir untuk merasakan kemanisan olahan kulit jeruk bali buah tangan Enih, meski tak ada toko yang sengaja dibangun untuk berjualan.

"Bung Karno juga pernah datang untuk membeli kalua dari Nenek saya," ungkapnya.

Resep kalua diwariskan secara turun temurun kepada keluarga. Sama halnya dengan Enih, dia juga pada awalnya hanya melayani pembelian kalua di rumah warisan Enih. Baru pada tahun 1989 lalu sebuah etalase dibangun Elin di depan rumahnya.

"Saat itu saya berpikir Ciwidey itu jalur wisata. Banyak orang melintas depan rumah saya, sehingga saya ambil keputusan untuk kembali membuat Kalua Jeruk seperti yang dilakukan almarhum nenek saya. Kebetulan di sini cuma baru ada satu orang yang dagang Kalua Jeruk di sebelah sana. Kemudian saya buka toko untuk menjajakan Kalua Jeruk," ujarnya.

Menurut Elin, resep yang diturunkan oleh neneknya hanya mempunyai satu rasa, yakni original atau rasa manis dari gula aren. Namun, seiring perkembangan waktu, Elin melakukan modifikasi dengan menambah rasa seperti mocca, durian, stroberi, melon, jeruk, dan vanila. Rata-rata para penjual manisan Kalua Jeruk di sepanjang Jalan Raya Ciwidey menjual antara Rp40 ribu hingga Rp60 ribu perkilogram.

Keputusan Elin ternyata tepat. Usaha pembuatan manisan Kalua Jeruknya itu berkembang pesat. Banyak orang yang menjadikan Kalua Jeruk sebagai oleh-oleh sepulang berwisata dari Ciwidey dan sekitarnya. Karena semakin banyak orang yang menyukai Kalua Jeruk buatannya, biasanya tak kurang dari 1 kwintal per hari kulit jeruk Bali yang diolah menjadi manisan Kalua Jeruk khas Ciwidey itu. Langkah Elin ini diikuti oleh adik-adik dan saudaranya. Mereka pun membuka toko dan menjual Kalua Jeruk di sepanjang jalan itu.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar