Yamaha Mio S

Teladani Soekarno, 5 Perempuan Menari 6 Jam Nonstop

  Selasa, 05 Juni 2018   Fathia Uqimul Haq
Pertunjukan tari Kelompok Anak Rakyat di kawasan Asia-Afrika, Bandung, Selasa (5/6). (Fathia Uqim/ayobandung)

ASIA AFRIKA, AYOBANDUNG.COM—Lima perempuan itu menari selama enam jam penuh. Berbagai kosagerak dikeluarkan tanpa henti mewarnai kawasan Jalan Asia Afrika, Bandung, Selasa (5/6/2018) sejak pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB. Bukan tanpa alasan, tarian selama enam jam itu dilakukan untuk mengenang hari lahir Soekarno, Sang Proklamator.

Ini adalah kali kelima Kelompok Anak Rakyat memperingati hari ulang tahun Bung Karno dengan aksi menari. Momentum hari lahir Presiden Indonesia pertama ini adalah cara untuk mengingatkan masyarakat tentang makna dan arti persatuan, Bhinneka Tunggal Ika, rasa persaudaraan, dan gotong royong. “Itu pesan-pesan yang selalu Soekarno sampaikan kepada rakyat,” ujar Koordinator Acara, Gatot Gunawan kepada ayobandung.com.

Di tengah kondisi bangsa hari ini yang kian carut-marut, Kelompok Anak Rakyat tak pernah berhenti menyosialisasikan apa makna kebhinnekaan, gotong royong, dan rasa persatuan. Sederhana saja, upaya itu dilakukan agar nilai-nilai tersebut dapat dijaga oleh seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila adalah dasar negara dengan lima nilai yang terkandung di dalamnya. Lima orang penari adalah simbol dari Pancasila. Sementara durasi enam jam menyimbolkan tanggal lahir Bung Karno pada 6 Juni 1901.

“Dan kenapa penarinya perempuan semua? Karena bagi kami, perempuan adalah sosok yang sangat kuat, tangguh, dan dalam kondisi apapun, mereka bisa tegas. Kami ambil sosok Bung Karno adalah di diri kaum perempuan,” kata Gatot.

Kelima penari itu menyampaikan pesan dengan membawa simbol Bung Karno dan tulisan yang berpesan soal persatuan serta keutuhan bangsa.

Aksi menari ini adalah kegiatan puncak dari peringatan hari lahir Bung Karno. Sebelumnya, pada Jumat (1/6/2018) kemarin, Kelompok Anak Rakyat bersama golongan penghayat dan aliran kepercayaan merayakan hari lahir sang proklamator di Penjara Banceuy, Bandung.

Gatot berharap, hadirnya aksi ini dapat menjaga persatuan dan keutuhan bangsa, terlepas dari ideologi apapun yang dipegang rakyat Indonesia. Apalagi untuk generasi muda, sejatinya dapat mengekspresikan diri  sesuai keinginan yang bisa dikembangkan tanpa ada rasa malu dan takut.

“Kita satu, kita saudara, dan kewajiban generasi muda menjaga persatuan dan kesatuan itu,” tegas Gatot.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar